KISAH ISTANA SANG PENGGEMBALA

KISAH ISTANA SANG PENGGEMBALA
Oleh: Ady Setiawan

 

A. Pengembaraan Pertama

Alkisah, hiduplah seorang pemuda di sebuah kota yang bernama Trubforst. Adenson, begitu sapaanya, ia menghabiskan masa kecilnya bersama ayah dan bunda di kota tersebut. Karena suatu hal, menyebabkan dia bersama keluarga kecilnya terpaksa harus pindah ke tempat baru, yang dikenal dengan nama Marbort.
Setelah menginjak usia remaja, mind set-nya pun serentak berubah menjadi insan yang berfikir jauh lebih dewasa sesuai masanya. Kali ini, ia ingin belajar hidup mandiri, dan beradaptasi dengan problematika alam bebas. Tekad kuat itu pun segera ia sampaikan pada ayah dan bunda, alhasil merekapun menanggapi keinginan sang putra tercinta dengan baik dan mencoba untuk memberikan kesempatan sesuai dengan apa yang Adenson inginkan. Sebagai orang tua yang sangat mencintai anaknya, maka ayahanda membekali Adenson dengan beberapa ekor domba, berharap agar dapat dijadikan sebagai modal awal perjalanan hidup dan dapat dikembangkan menjadi lebih banyak.
Kini, Adenson tengah melakoni apa yang menjadi keinginannya, bermodalkan beberapa ekor domba pemberian ayah, ia pun memutuskan tuk menjadi Pengembala sejati dengan pergi jauh dari kehidupan ayah bundanya. Dan berharap akan kembali dengan membawa buah tangan kesuksesan.
Jalanan terus ia telusuri, hari demi hari, telah ia lewati bersama domba-dombanya, diiringi kicauan burung yang trus ikut menghibur hatinya yang masih resah karena belum menemukan tempat yang baik untuk ditinggalinya bersama domba-domba tercinta. Hingga suatu ketika, tibalah Adenson bersama domba-dombanya di suatu kota yang agak jauh dari keramaian dan hiruk pikuk masyarakat, tepatnya di kota Nazon. Suatu daerah yang kaya akan ladang rumput hijau, juga baik untuk kelangsungan hidup hewan ternak termasuk domba. Setelah membiarkan sejenak para domba merasakan hijaunya rerumputan, dan rindangnya pepohonn besar, ternyata domba-domba seakan terpaku dan enggan tuk beranjak dari tempat tersebut. Dalam benak hati Adenson, mungkinkah ia kan bertahan lebih lama di ladang ini, ladang hijau dan subur lagi strategis juga jauh dari ancaman bencana alam, semisal gunung merapi, banjir, ataupun angin topan bahkan gempa bumi pun tak menampakkan sedikit tanda-tandanya untuk muncul di tempat itu. Satu harapan besar sang pengembala, ia harus bisa membangun rumah bahkan istana megah di ladang hijau tersebut.
Beberapa pertimbangan akan letak strategis ladang tersebut yang membuat ia terus menengadahkan tangan pada Sang Tuhan dan berharap doanya akan terkabulkan, yakni Sang pemilik kan mengizinkannya untuk mendirikan bangunan megah berupa istana seperti yang pernah menghiasi mimpi indahnya…
Ternyata, Tuhan tak tuli, Tuhan tidak pula benci pada hamba-Nya. Do’a sang pengembala pun sedikit demi sedikit mulai terkabulkan, karena tak lama selang ia memanjatkan do’a, tepatnya pada esok hari tanggal 17 Desember sang pemilik ladang datang menemuinya sembari menebarkan senyum mempesona, untuk mengetahui maksud kedatangan sang pengembala ke ladangnya. Ini merupakan satu pertanda baik bagi si pengembala, dan membuatnya semakin optimis akan niatnya. Kata demi kata Ia tuturkan tentang maksud keberadaannya ke ladang tersebut. tuk dapat diizinkan membangun bangunan bahkan istana megah di sana. Setelah mendengar ulasan maksud sang pengembala, si pemilik ladang pun berfikir sejenak menanggapi apa yang Adenson harapkan. Selang meberapa menit, si pemilik pun mulai mengangkat suara dan menyampaikan jawabannya “Wahai Sang Pengembal, setelah saya petimbangkan, anda boleh mendirikan rumah bahkan istana di ladang ini” sambil berhenti sejenak, si pemilik ladang melanjutkan perkatannya, “Tapi, semua ladng ini bukan tuk dimiliki, anda cukup mendirikan bangunan yang anda inginkan untuk dimiliki, seluas apa bangunan istana tersebut, maka seluas itu pula yang akan anda miliki”, mendengar jawban si pemilik, Adenson sangat merasa gembara dan tak lupa bersyukur pada Sang Esa. “izin tlah ku pegang, berarti sekarang aku harus lebih giat tuk mewujudkan mimpiku disini” sorak hatinya, “ini adalah kesempatan baik, ku tak boleh menyia-nyiakan, akan kuwujudkn disini istana megah dan akan abadi hingga akhir zaman”.
Terngiang akan mimpi besar yang ingin diwujudkannya, Adenson, sang pengembala memberanikan diri tuk memulai langkah awal dari seribu langkah yang harus dijalani. Dan pembangunan mulai ia kerjakan, material-material yang dibutuhkan pun mulai ia cari, terik panas mentari dan dinginnya guyuran hujan tak lagi ia perdulikan, karena dalam benaknya untuk meraih suatu kesukesan dibutuhkan suatu usaha yang tidak hanya biasa tapi usaha yang prima. Bukankah pepatah inggris mengatakan bahwa “What you get is what you believe”.
Waktu terus bergulir, tahunpun ikut berganti.. hingga tiba suatu masa dimana ia harus kembali memikirkan persediaan makanan tuk domba-domba kecil yang jumlahnya semakin banyak, sementara bersamaan dengan itu, segala usahanya dalam membangun baru mencapai 30 % dari target, dalam tahun ketiga ini ia baru saja merampungkan pencarian kerikil, mengangkat pasir dari dasar sungat, mencari bebatuan besar tuk pondasi dari gunung seberang juga ia baru bisa membeli rakitan besi, sebagai material pembangunan istana idamannya.
Ternyata, tak dapat dihindari lagi karena semakin berkurangnya kuota makanan domba-domba, sementara jumlahnya semakin melonjak tinggi. Memaksa ia harus pergi mencari tempat baru dimana ia bisa melepas domba-domba dengan tenang tanpa khawatir kekurangan rumput. Keputusan tuk pergi pun ia ambil, namun sebelum meninggalkan sejenak daerah Nazon tersebut, telah tertanam dalam diri, bahwa ia ingin setidaknya pondasi tlah mengakar dalam bumi dan tiang istana tlah menjulang ke angkasa sebelum kepergiannya, sebagai motivasinya agar tetap terus menyelesaikan pembangunan sekalipun butuh waktu yang agak panjang. Sebelum beranjak, si pengembala menyempatkan diri tuk mohon pamit sebentar pada sang pemilik ladang tersebut. “Bu…….ma’af, saya mohon pamit, mungkin hari ini saya akan pergi sejenak ke negeri seberang tuk mengamankan domba-domba saya yang semakin berkembang ini“ kata sang pengembala. Lalu serentak si pemilik bertanya, “Loh..terus pondasi bangunan istana anda gimana kelanjutannya…? Apa mau ditinggal begitu saja..? Sayang loh .. saya juga tau bagimana anda membanting tulang tuk meletakkan pondasi awal dan mendirikan beberapa tiang utama itu disana“. “tidak kok bu…“ tegas sang pengembala. “saya akan pergi, tapi pembangunan istana ini akan tetap saya selesaikan hingga akhir. Sekalipun nanti saya berada di lain tempat yang jauh dari sini. Tapi saya berjanji, akan saya sempatkan kok sedikit waktu untuk merampungkannya“ tambah sang pengembala…..“ya sudah kalau begitu“ kata si pemilik, “hati-hati yah di jalan…“ Tambahnya. Sambil beranjak ”ya bu…terima kasih“ kata si pengembala.

B. Pengembaraan Kedua
Pengembaraan yang kedua ini memang tak mungkin lagi dilewatkan bagi sang pengembala bersama domba-dombanya, ia harus rela meningalkan sejenak pondasi bangunan istana dan berharap itu akan baik-baik saja. Setelah berjalan beberapa hari, hingga tibalah ia di suatu negeri yang terkenal dengan sebutan Negeri Walson. Sebuah negeri yang cukup jauh jaraknya dari kota Nazon. Disana, ia banyak menemukan padang rumput sang sangat luas lagi hijau laksana taman surga…namun setelah ia teliti lebih dalam, ternyata medan dari kebanyakan ladang tersebut tak strategis ladang tempat ia menanam pondasi istana. Baginya, itu bukanlah suatu problem, karena tujuan awal yakni hanya mencari tempat tuk mengembangkan domba-dombanya bukan tempat tinggal ia tuk waktu yang lama. Sehingga tak sedikitpun terlintas dalam benaknya untuk mendirikan ulang istana semisal di tanah ladang yang baru ia tempati tersebut.
Waktu terus bergulir, kedatangannya yang baru beberapa hari itu telah banyak tercium oleh khalayak sekitar negeri Walson, mungkin karena kepribadian ataupun kelebihan lain sehingga membuat beberapa orang tertarik padanya, lalu datang pada Adenson dan bermaksud memberikan sedikit ladangnya untuk didirikan bangunan sebagai tempat tinggal Adenson lebih lama. Ladang yang ditawarkan pun beraneka ragam, ada ladang yang sangat hijau namun memiliki lokasi terjal, adapula ladang yang sangat hijau lagi rindang, namun disekitarnya terdapat kolam besar tanpa pembatas yang membahayakan bagi kelangsungan domba-dombanya, tak jarang adapula ladang yang tak terlalu hijau namun letaknya cukup strategis dan lain sebagainya.
Pada hari-hari inilah hati sang pengembara mulai bimbang untuk menentukan pilihannya, “akankah ku mendirikan bangunan permanen disalah satu ladang yang ditawarkan….?, atau aku teruskan saja usaha awalku…..?” konflik hati sang pengembala mulai muncul. Bimbang dan terus bimbang, ditengah-tengah usahanya mengumpulkan dana pembangunan istana impiannya. Bertahun-tahun kebimbangan itu masih tetap menyelimuti diri sang pengembala membuat ia tak memilih dari kesemua ladang tawaran sekalipun telah melihat lebih teliti setiap ladang-ladang tersebut. Hingga ia memutuskan untuk memohon petunjuk dari-Nya, karena ia yakin petunjuk Sang Tuhan akan menuntunnya ke jalan yang paling tepat.
Tak lama setelah itu, rasa yakin dan tekad kuat seakan merevolusi kembali dalam jiwa besarnya, gejolak juang dan pengorbanan kembali membara untuk meneruskan usaha yang telah dicicil sejak lama yaitu mewujudkan istana impiannya yang baru terselesaikan 30 % dari target. Maka, ia memutuskan untuk menyusun serentetan kata-kata bijak untuk menolak tawaran ladang baru dengan arif dan bijak, kata-kata itu dengan lantang dan tegas ia sampaikan karena yakin perjuangannya di Kota Nazon tak kan sia-sia.
Kemudian, setelah lama tinggal di negeri Walson. Tiba-tiba muncul niatnya untuk melihat keadaan bangunan istana semi permanennya, tentunya setelah mengantongi segepok dana untuk melanjutkan usahanya. Setelah perjalanan yang cukup panjang, tibalah ia di Kota dimana ia menegakkan bangunan. Wajah gembira bercampur kebanggaan tak dapat ia sembunyikan, ketika datang menghadap si pemilik ladang. “selamat pagi bu….hari ini Adenson dating kembali mau melanjutkan pembangunan istana megah yang tlah lama saya idam-idamkan” kemudian tak lupa ia jelaskan panjang lebar tentang sebab keterlambatannya. Setelah mendengar penjelasan Adenson, tiba-tiba wajah Ibu pemilik tanah itu tampak bersedih dan ia sedikit menunduk seraya meletakkan telapak tangan ke dadanya, berekspresi terkejut. Adenson terheran dan bertaya..”loh bu…..ibu kenapa….?”. Air mata si pemilik pun tiba-tiba ikut mengiringi wajah sedihnya, sambil menjawab “tidak…tidak apa..” . “tapi kenapa ibu menangis, apa ada yang salah dengan kedatangan saya…?” Tanya Adenson penasaran. “tidak, wahai sang pengembala..tidak ada yang salah darimu…” setelah menghela isak tangis sejenak si pemilik pun melanjutkan perkataannya. ”Adenson, sebelumnya ibu mohon ma’af ya….. Ini harus ibu sampaikan sekalipun pahit didengar, sebelum kamu meneruskan lebih jauh niat tulusmu” ujar si pemilik.
Adenson terus merasa heran,”memangnya apa yang terjadi bu….katakan saja…biar saya tau….!!!!” Tanyanya penasaran, “begini Adenson, ma’afkan ibu, sebenarnya kamu datang sedikit telambat, kehadiranmu yang tak kunjung tiba pada akhir-akhir ini telah membuat hati ibu ragu dan berprasangka kalau kamu tak akan kembali selamanya untuk membangun istanamu“ kemudian “hal itu, membuat ibu rela memindah tangankan ladang beserta pondasi ini kepada orang lain yang datang pada ibu..ma’afkan ibu…sekali lagi ma’afkan ibu.“ terangnya,“ibu sangat menyesal melakukan itu, karena ini salah ibu tak memastikan terlebih dahulu tentang niat tulusmu untuk meneruskan pembangunan ini atau tidak…ibu minta ma’af“ kata “ma’af“ seakan tak terhenti keluar dari lisan ibu pemilik tanah yang benar-benar merasa bersalah telah menghalangi Adenson tuk mewujudkan impiannya.
Mendengar penjelasan ibu, seketika hati Adenson hancur berkeping-keping, air mata mengalir tak dapat terbendung, tubuhnya layu seketika. Terbayang semua usahanya dalam mencari pasir, mengumpulkan batu dan mendirikan tiang penantang langit menggunakan tangan dan energinya. Tahun demi tahun ia lewati..pembangunan pondasi tlah ia tekuni,,pengorbanan pun tlah ia ridloi, namun…….sekarang, ladang itu telah berpindah tangan dan bayangan-bayangan lain terus membayangi fikirannya….
Selang sejenak..ia kembali mengangkat wajah, hatinya pun berkata “Adenson bukan tipe pemuda yang pegecut, bukan pula pemuda pecundang yang mudah mundur dengan gertakan badai kecil“ ia mencoba menenangkan diri, dan berniat untuk membicarakan masalah ini dengan kepala dingin kapada sang pemilik. Melihat keadaan demikian, ibu mulai khawatir pada si pengembala “Adenson, kamu tak apa-apa kan…?“..“tidak bu., saya baik-baik saja..all is well, ini adalah bencana kecil, semuanya pasti akan tetap baik-baik saja, ,ini bukn akhir segalanya“ Adenson meyakinkan si pemilik ladang. “semua pasti ini pasti akan segera berakhir dan kembali pada kondisi semula“ tegas Adenson.
Dalam kondisi seperti ini, meraka semua berada dalam kebingungan, ibu merasa bersalah, Adenson pun merasa kecewa.“Akankah istana ini terwujudkan..? ataukah pembangunan berhenti sampai disini….? lalu apa buah perjuanganku selama ini..?“ Serentetan pertanyaan terus membayangi dirinya yang juga tak dapat dijawab oleh dirmya sendiri..“Haruskah aku mengulangi tuk membangun istana dari nol, dan meletakkan batu pondasi di tempat lain….“ suara hatinya belum bisa berhenti.. baginya, mengulangi pembangunan di tempat lain adalah hal yang sangat susah, karena ia berpersepsi bahwa mencari lokasi yang diinginkan saja membutuhkan ketelitian, karena tak setiap ladang strategis yang menjamin keamanan hidupnya dan juga domba-dombanya. Belum lagi harus memulai langkah awal pembangunan. Suasana hening bercampur haru hadir mewanai percakapan mereka.
Pada hakikatnya, semua keputusan tergantung atas izin Tuhan, kemudian keputusan dari Ibu sang pemilik tanah. Kemungkinan pertama, jika memang si pemilik tetap memberikan ladang tersebut pada pembeli berarti ia telah benar-benar menutup jalan sang pengembala selain juga merugikan semua waktu Adenson dalam bekerja. Sebaliknya, hal ini tentunya akan memberikan peluang emas tuk si pembeli untuk berbuat apa yang dikehendakinya, padahal mungkin ia belum mengetahui bahwa didalam ladang yang baru dibelinya itu, terdapat pondasi istana yang kokoh, atau mungkin juga sebaliknya, ia mengetahui akan keberadaan bangunan pondasi istana, namun memang sengaja membelinya berharap dapat meneruskan pembangunan dari tangan sang pengembala.
Kemungkinan kedua, jika memang sang pemilik kembali memberi kesempatan pada si pengembala, maka cukup jawaban “Ya“ atau “Tidak“ yang akan mengantarkan Adenson pada akhir perjuangannya. Karena kata “Ya“ akan menjadikan motivasi tersendiri bagi Adenson untuk bangkit kembali dan berjuang mewujudkan impian hatinya menjadi sebuah kenyataan bukan sekesar angan-angan belaka. Namun sebaliknya, kata “Tidak“ akan mengantarkan si pengembala jauh dari lintasan mimpi istana megah yang selama ini ia harapkan.
Kemudian, kemungkinan terakhir yakni, si pemilik tak memilih antara berpihak kepada si pembeli maupun Adenson. Jadi ia biarkan ladang hijau itu tumbuh subur tanpa ada insan yang memilikinya hingga nanti. namun bagaimanpun juga, keputusan seperti ini, akan tetap menyisakan butir-butir kekecewaan, terutama bagi si pengembala yang telah meninggalkan puing-puing perjuangan mendirikan pondasi dalam ladang tersebut, yang penyesalan itu tak kan pernah sebanding dengan apa yang akan dirasakan si pembeli, karena ia belum merasakan perjuangan pahit dalam mengolah ladang hijau tersebut. Sehingga membuat si pembeli akan lebih mudah untuk berpindah mencari ladang baru untuk mendirikan tempat tinggalnya bila ia tak berhasil membangun bangunan di ladang yang baru dimilikinya.
Demikian beberapa kemungkinan yang akan terjadi, sayang Sang pemilik ladang lebih condong dan memilih kemungkinan ketiga, yakni membiarkan ladang hijau tumbuh tanpa ada yang mendirikan bangunan diatasnya, hingga tiba waktu yang paling tepat nanti. Alasannya, karena ia membutuhkan waktu yang cukup sebelum memutuskan kepada siapa ladang hijau tersebut diberikan untuk didirikan bangunan megah.
Akankah istana Adenson menjadi sebuah kenyataan….? istana yang dapat ia banggakan pada kedua orang tuanya. Atau Akankah pondasi itu mengakar begitu saja, dan tiang-tiang kan hancur termakan waktu selama ia meningglkannya,…? sesuai permintaan pemilik ladang.
Biarkan waktu yang menjawabnya…………
Yang terpenting dalam jiwa sucinya, rasa optimisme dan pantang menyerah akan selalu tumbuh dan tak kan pernah sirna. Karena ia yakin…suatu saat nanti… Atas izin Tuhan , istana megah lagi besar akan terwujud di tempat ia berpijak ini.


C. Detik-Detik Penentuan

Beberapa hari telah berlalu, setelah peristiwa yang sangat mengejutkan hati Adenson, hingga suatu ketika tiba-tiba muncul dalam benaknya untuk menanyakan kembali kepastian dari keputusan Ibu pemilik setelah diberi kelonggaran waktu tuk menjawab pilihannya. Karena memang belum lega rasanya bila masalah ini trus dibiarkan tanpa ada kepastian, apakah Adenson akan meneruskan usahanya atau tidak. Rasa penasaran itu yang memaksanya pergi menemui ibu dikediamannya, hingga suatu hari pergilah Adenson ke rumah ibu dengan keyakinan akan mendapat jawaban yang terbaik, apapun jawabannya. Setelah tiba, tepat didepan rumah ibu pemilik serontak ia menyampaikan salam hangat akan kedatangannya. Namun, tampaknya ibu terlihat gugup dan heran melihat kedatangan pemuda itu, karena kedatangannya sungguh tak disangka-sangka. Setelah dipersilahkan masuk dan duduk, pembuka percakapan pun mulai Adenson lontarkan, sebelum menuju inti kedatangannya.
„Bu, mohon ma’af sebelumnya, kalaulah kehadiran saya ini tidaklah anda harapkan, karena kan mengganggu sedikit aktivitas ibu….?“ ujar Adenson
„oh…….tak apa nak, ngak kok,, kehadiran Nak Adenson tak mengganggu aktivitas ibu ..“ belum selesai ibu menjawab, Adenson mulai menyampaikan maksudnya „Bu..sebelumnya Ibu perlu tahu benar apa maksud kedatangan ini, karena bukan maksud saya tuk memaksa ibu menyerahkan Ladang itu padaku dengan keterpaksaan yang akan menggoreskan luka dihati pembeli itu..bukan pula maksud saya bersimpuh pada anda dan berharap menyerahkan ladang hijau tanpa kerelaan yang datang dari sanubari anda…..bukan bu…bukan..“ jelas Adenson.
„lalu apa maksud utamamu datang kemari..?“ tanya ibu
„sebenarnya saya datang kesini hanya ingin mendengar keputusan terakhir ibu dari masalah ini“ tegasnya.
Mendengar penjelasan singkat itu, ibu berusaha mengerti „ya…nak..ibu faham apa yang nak Adenson maksud…“
„lalu, sekarang bagaimana, apa keputusan ibu selanjutnya….?“ tanyanya penasaran
Tiba-tiba wajah ibu tampak kemerah-merahan mengisyaratkan keraguan bak pelancong yang bingung menjelaskan tujuannya pada tukang becak. Namun ibu berusaha memberi pengertian „begini nak….terus terang ibu sendiri hingga detik ini masih belum yakin dengan keputusan yang akan ibu pilih, kalau boleh bertanya kembali, Nak Adenson sendiri inginnya bagaimana….?“
Mendengar pertanyaan itu, Adenson menghentakkan nafas sambil tertawa kecil..“loh..ibu ini bagaimana toh…saya tanya,,malah balik bertanya……..sudahlah katakan saja apa adanya, percayalah atas izin Tuhan saya kan sanggup mendengarkan apapun keputusan ibu, apapun itu..“ yakin Si Penggembala itu, ia menarik nafas panjang lalu melanjutkan ucapannya, „sekarang saya tanya kembali, Sebenarnya pada siapa ibu berpihak…?“ tambahnya
Ibu terdiam sejenak, tak disadari peluh air mata kembali menetes tanda kebimbangan dalam hatinya, namun ia mencoba untuk memberikan respon „nak…..saya tau itu, hanya saja ibu tak mau menyakiti hati Adenson….yang tlah mencurahkan usaha tuk meletakkan pondasi di ladang ibu…“
„kalau ibu tak mau memberatkan ku tuk kesekian kalinya maka katakan apa adanya“ kata Adenson memutus perkataan Ibu…….
Mendengar hal itu, ibu terdiam dan suasanapun menjadi hening, hanya terdengar isak tangis beriringan angin sahara yang ikut menggoyangkan cendela rumah.
Adenson, sang penggembala itu pun terus mencoba mengambil jawaban dari semua gerak-gerik ibu….ia menunduk dan berfikir sejenak. tiba-tiba ia beranjak dari duduknya, dan pergi tanpa pamit pada pemilik ladang…….
„nak…..hendak kemana kau pergi….?“ ibu tersentak sambil mengikuti arah pergi Adenson. Ia tak tau apa maksud si Penggembala itu……..
Selang beberapa menit kemudian, tampak dari kejauhan Adenson datang kembali menuju rumah ibu, namun kedatangannya kali ini tak seorang diri melainkan bersamnya si pemilik yang menjadi salah satu subjek masalah, sementara ibu masih belum berpindah posisi setelah berdialog beberapa menit yang lalu. Setelah tepat didepan pintu,
„Ibu…….kini saya datang kembali dan bersamaku pak pembeli yang selama ini kita perbincangkan….kini, lengkap sudah subjek dari permasalahan, sekarang tolong ibu jelaskan pada kami, siapa yang akan mendapatkan ladang itu…?“ tanyanya lebih tegas
Ibu hanya menggelengkan kepala, karena tak sampai hati untuk mengucapkan, hanya butir-butir air mata yang masih terus jatuh dari kelopak matanya, membuat suasana mereka semakin terharu.
„Baiklah bu….“ suara Adenson memecahkan suasana…“baiklah…….semua sudah jelas, saya sudah bisa mengerti apa yang sebenarnya ibu ingin sampaikan… saya sudah mengerti…“ tegasnya……sambil beranjak berdiri mendekati si pemilik,seraya menepuk tangannya pasti, lalu, “pak…selamat……selamat…anda beruntung, ibu telah menentukan pilihannya….ibu tlah memilih anda tuk mendirikan istana di ladangnya.. sekarang buktikan kalau anda bisa dan jangan sekali-kali mengkhianati kepercayaan ini..“
„maksud nak Adenson..“tanya pembeli.
“”jaga kepercayaan ini, karena kepercayaan sungguh tak ternilai harganya, buktikan kalau anda bisa memberikan apa yang tlah ibu harapkan” lanjutnya tanpa menghiraukan sikap heran si pembeli, setelah selesai pada pembeli, Adenson berpaling ke kanan, ia menatap ibu diiringi senyuman kecil,
“bu…terima kasih atas semua dan mohon ma’af pula atas semua….saya terlalu agresif, saya lupa akan siapa saya sebenarnya…semoga ini pilihan ibu yang terbaik, percakapanpanjang dan tingkah laku ibu tlah menuntunku pada suatu jawab, ini yang sebenarnya anda inginkan, bukan..?”
Ibu hanya tertunduk, lalu mengangguk kepala sedikit, isyarat bahwa memang ini yang sebenarnya ia harapkan, “lalu bagimana dengan Adenson sendiri…?” ibu bertanya kembali dengan isakan
“sudahlah bu….saya akan tetap baik-baik saja, saya hanya butuh waktu sejenak untuk menghilangkan payah yang slama ini telah tercurahkan, biarlah kekecewaan ini hilang bersama jalannya waktu…..biarlah peluhku kering bersama panasnya terik mentari…biarlah pondasi istanaku runtuh termakan masa…biarlah ku mengembara tuk kesekian kalinya tuk mendirikan pondasi ulang….biarlahlah bu. kalau itu memang pilihan anda……..saya akan tetap bahagia melihat istana megah kan menjulang diladang ini, milik siapapun istana itu….? Ya, milik siapapun..” tutur Adenson
Serentak si Pemilik memberanikan diri tuk berkata „Adenson..terima kasih atas semua pengorbananmu anak muda…sekarang bapak hanya ingin kerelaan anda dari masalah ini, percayalah ini jalan terbaik Tuhan….tabahkan hatimu.“ Ujar pembeli sambil menepuk pundak Adenson
„ya, pak akan saya coba………“ jawabnya tanpa berkata banyak
Kemudian, ibu menambahkan sekalipun sedikit dipaksa untuk menatap wajah Adenson…“Adenson, ibu minta m’af, ibu benar-benar minta ma’af, juga terima kasih atas semuanya pengorbanan waktu, usaha dan semua jerih payah selama ini, percayalah…ini bukan akhir dari segalanya……semoga Tuhan memberikan yang terbaik tuk kita semua..“
„semoga Tuhan memberikan yang terbaik tuk kita semua“ ulang Adenson lebih tegas.
Ternyata ini merupakan kata terakhir yang ingin ia sampaikan pada ibu dan si pemilik,kemudian ia pun segera beranjak pamit dan ingin segera pergi jauh dari kemelut masalah ini, ia ingin segera meninggalkan dunia lama menuju cakrawala baru yang lebih cemerlang.
Dalam perjalanan pulang, Adenson terus terngiang kejadian yang baru saja ia alami, kejadian yang menutup semua usahanya dalam mendirikan istana idaman, kejadian yang mengakhiri semua harapan dan pengorbanannnya selama ini. Ia hanya bisa menatap langit luas seraya menengadahkan wajah dan tangannya, lalu berdo’a:
“Ya Tuhanku…Engkau Maha Mengetahui, Engkau Maha Segalanya, mungkin ini adalah keputusan terbaik untuk hamba-Mu ini, Ya Tuhan…..segera damaikanlah hatiku ini dari kegelisahan dengan semua ketentuan-Mu…Ya Tuhan…bimbinglah hamba yang tak berdaya ini menuju jalan yang Engkau rahmati…..berikanlah kesempatan padaku tuk mewujudkan mimpi, sebuah mimpi tuk memiliki sebuah istana yang megah lagi abadi hingga akhir masa…..“

<>


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s