Pondok Pesantren "Wali Songo" Ngabar

                                 Pondok Pesantren “Wali Songo” Ngabar 
PONDOK PESANTREN
Pondok pesantren”Wali Songo” adalah Pondok Pesantren modern, sekalipun modern, namun tetap pondok pesantren

RIWAYAT MENGAPA DINAMAKAN PONDOK PESANTREN

Menurut riwayat, mula-mula seorang kyai, kemudian datang beberapa orang santri yang ingin mengeyam (belajar) ilmu pengetahuan dari kyai tadi. Semakin hari semakin banyak santri yang datang, akhirnya tak dapat lagi mereka tinggal di rumah itu. Sehinggga timbul inisiatif untuk mendirikan pondok-pondok atau kombongan atau dangau di sekitar masjid dan sekitar rumah kyai tadi. Itulah alasannya dinamakan pondok pesantren.
Jadi yang membuat pondok-pondok itu adalah santri-santri sendiri, bukan kyai yang mendirikan. Kalau membuat pondok (bangunan) dulu, pasang advertensi/iklan cari murid ini namanya hotel yang dicari-cari penghuni. Hotel disewakan, penghuni membayar sewanya, sesudah itu berhak tinggal seenaknya. Dan terkadang kalau kotor panggil jongosnya untuk membersihkan.
PONDOK PESANTREN BUKAN HOTEL

Pondok pesantren bukan hotel. Ia kepunyaan bersama. Kepunyaan bersama lantas boleh dibagi, masing-masing boleh mengambil yang dimaunya, tidak! setiap datang santri baru berarti tambah satu orang anggota yang turut bertanggung jawab terhadap keberesan pondok pesantren itu. Pembayaran yang diberikan itu hanya sebagai iuran (iuran pondok atau sekolah) bukan berarti sewa atau upah.
Dan dengan uang itulah kita gunakan untuk kepentingan dalam pondok pesantren, seperti memperbaiki pondok-pondok yang telah didirikan kakak-kakak dan santri-santri terdahulu. Itulah “self berdruping system” namanya, sama-sama membayar iuran, sama-sama memakai.
PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN

Pendidikan yang utama di pondok pesantren ialah al i’timadu ‘alanafsi, dalam bahasa belanda zelp help, tidak menggantungkan diri pada orang lain, dengan kata lain, belajar mencukupi dan menolong diri sendiri.
Pemuda-pemuda yang terdidik menolong diri sendiri, dapat menghadapi masa depan dengan penuh harapan, jalan hidup terbentang luas di mukanya. Sebaliknya pemuda yang tak percaya pada dirinya, dia senantiasa was-was dan ragu-ragu, serta tidak akan mendapat kepercayaan dari masyarakat sedang dia sendiri tidak percaya pada dirinya.
Pondok pesantren adalah tempat berlatih agar menjadi orang yang suka dan pandai menolong, bukan yang selalu ditolong. Maka dari itu di Pondok Pesantren “Wali Songo” selalu dilatih untuk mengurus diri sendiri, dari cara memegang uang, mencuci, tanggung jawab terhadap kamar beserta alat-alatnya dan sebagainya.
Dengan didikan seperti inilah maka para ahli pendidik terkemuka seperti Dr. Ki Hajar Dewantara, sangatlah mementingkan didikan pondok pesantren dan didikan inilah yang telah ditanamkan bapak-bapak kita semua, agar kita menjadi orang yang dapat menolong diri sendiri, bukan selalu menggantungkan diri kepada orang lain.

Selain itu pondok pesantren berisikan kebebasan yang berperaturan, sebab terdapat pondok yang terlalu bebas sehingga menyebabkan kebobrokan para santrinya.
Sebaliknya internal, asrama yang merupakan tempat bernaungnya para pelajar pada zaman dahulu terlalu terikat, terutama pada zaman penjajahan, sehingga segala gerak-geriknya harusa selalu menunggu perintah. Sekeluarnya dari sekolah itu, ia akan menjadi orang yang berjiwa pegawai atau sebagai robot, tidak dinamis, tidak inisiatif. Jiwanya tidak hidup, tidak ada semangat, hanya selalu menjadi alat orang lain, tidak bekerja kalau tidak ada perintah.
BUKAN INDEKOST
Pondok pesantren “Wali Songo” dibuat pertengahan, tidak terlalu bebas dan tidak terlalu sempit. Jadi para santri masih dapat mendapat kebebasan seluas mungkin, dalam batas-batas yang tidak membahayakan pendidikan, dan ada disiplin antara para santri sendiri, yang dijalankan penuh kesadaran, tidak ada paksaan.


PANCA JIWA PONDOK PESANTREN
Kehidupan pondok pesantren dijiwai oleh suasana yang dapat kita simpulkan dalam Panca Jiwa sebagai berikut :
JIWA KEIKHLASAN

“Sepi ing pamrih” (tidak karena didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan tertentu), semata-mata karena untuk ibadah. Hal ini meliputi segenap suasana kehidupan di pondok pesantren. Kyai ikhlas dalam mengajar, para santri ikhlas dalam belajar, lurah pondok pesantren ikhlas dalam membantu (asistensi).
Segala gerak-gerik dalam pondok pesantren berjalan dalam suasana keikhlasan yang mendalam, dengan demikian terdapatlah suasana hidup yang harmonis antara kyai yang disegani dan santri yang taat dan penuh cinta serta hormat dengan keikhlasannya.
Dengan demikian maka seorang santri mengerti dan menyadari arti Lillahi, arti beramal, arti taqwa dan arti ikhlas. Seorang tentunya dimana saja akan berda’wah. Maka santri merupakan santri persiapan kearah itu, Dimana ada kesempatan. Maka mudah dikatakan bahwa pondok pesantren adalah obor yang akan membawa cahaya penerangan Islam.
JIWA KESEDERHANAAN
Kehidupan di dalam pondok pesantren diliputi suasana kesederhanaan, tetapi agung. Sederhana bukan berarti pasif (bahasa jawa narimo) dan bukanlah artinya itu karena kemlaratan dan kemiskinan, bukan! tetapi mengandung unsur kekuatan dan ketabahan hati, penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup dengan segala kesulitan.
Maka di balik kesederhanaan itu terpancarlah jiwa besar, berani maju terus dalam menghadapi perjuangan hidup dengan segala segi kehidupan.
JIWA KESANGGUPAN MENOLONG DIRI SENDIRI (ZELP HELP) ATAU BERDIKARI
didikan inilah yang merupakan senjata hidup yang ampuh. berdikari bukan saja dalam artian bahwa santri selalu belajar dan berlatih mengurus segala kepentingan sendiri, tapi juga pondok pesantren itu sendiri sebagai lembaga pendidikan yang tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada bantuan dan belas kasihan orang lain. Itukah zelp help berdruping system (sama-sama memberikan aturan dan sama-sama dipakai). Namun demikian tidak lantas bersikap kaku sehingga menolak orang-orang yang hendak membantu pondok pesantren.
JIWA UKHUWAH ISLAMIYAH
Kehidupan di pondok pesantren diliputi suasana persaudaraan akrab, sehingga segala kesenangan dirasakan bersama dengan jalinan perasaan keagamaan. Ukhuwah (persaudaraan)ini, bukan saja selama di pondok pesantren itu sendiri, tetapi juga mempengaruhi kearah persatuan umat dalam masyarakat sepulangnya dari pondok itu.
JIWA BEBAS

Bebas dalam berfikir dan berbuat, bebas `dalam menentukan masa depannya, dalam memilih jalan hidup di masyarakat kelak bagi para santri dengan berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi kehidupan. Kebebasan itu bahkan sampai kepada bebas dari pengaruh asing/kolonial.(disinilah harus dicari sejarah pondok pesantren yang mengisolir dari kehidupan ala barat yang dibawa oleh penjajah).
Hanya saja dalam kebebasan ini sering kita temui unsur-unsur negatif, yaitu apabila kebebasan itu disalah gunakan, sehingga terlalu bebas (liberal), sehingga kehilangan arah dan tujuan atau prinsip. Sebaliknya ada pula yang terlalu bebas (untuk dipengaruhi), berpegang teguh pada tradisi yang dianggap paling baik sendiri, yang telah menguntungkan pada zamannya, sehingga tidak menoleh ke keadaan sekitarnya dengan perubahan zaman, tidak memperhitungkan masa depannya. Akhirnya tidak bebas lagi, karena mengikatkan pada diri kepada yang diketahui itu saja.
maka kebebasan ini harus dikembalikan kepada aslinya yaitu di dalam garis-garis disiplin yang positif, dengan tanggungjawab, baik didalam kehidupan pondok pesantren itu sendiri, maupun dalam kehidupan masyarakat.
Jiwa yang menguasai kehidupan pondok pesantren itulah yang dibawa oleh santri sebagai bekal pondok dalam kehidupannya di masyarakat, jiwa pondok pesantren inilah yang harus senantiasa dihidup-hidupkan, dipelihara dan dikembangkan sebaik-baiknya.
ARAH DAN TUJUAN PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN DI PONDOK PESANTREN “WALI SONGO” NGABAR
Pondok pesantren “Wali Songo” selalu mementingkan pendidikan dan pengajaran. Secara umum arahan dan tujuan penyelenggraan lembaga pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren “wali Songo” dapat disimpulkan menjadi 8(delapan).
1. Bertaqwa kepada Alloh : Pendidikan di Pondok Pesantren “Wali Songo” mengarahkan anak didiknya untuk berjiwa taqwa, bertaqwa kepada Alloh dimana ia berada dan bagaimanapun situasinya. Taqwa adalah sifat yang paling utama diutamakan kepada anak didik “Wali Songo“, karena taqwa kepada Alloh merupakan arah dan tujuan pendidikan. Pengajaran dan panca Jiwa Pondok Pesantren “Wali Songo” yang paling utama.
2. Beramal Sholeh : Beramal sholeh merupakan cerminan dan kaca diri seorang santri. Pondok Pesantren “Wali Songo” sangat mengarahkan pendidikan dan pengajaran untuk selalu beramal sholeh sebagai perwujudan dan mata pelajaran yang diserap dibangku sekolah.
3. Berbudi luhur (Noble caracter/Akhlaqul Karimah) : Pondok Pesantren “Wali Songo” mengarahkan anak didiknya agar mereka memilki budi pekerti yang mulia. Segala gerak-gerik dan langkahnya harus bersumber kepada prinsip budi pekerti yang luhur dan terpuji.Masalah-masalah ubudiyah sangat menjadi perhatian utama sebab itulah syarat utama dalam pembentukan akhlaq mulia itu. Mereka selalu di didik agar selalu senang, tekun dan taat dalam melaksanakan ajaran-ajaran agamanya.Itu adalah laksana pagar yang membentengi mereka dari segala pengaruh yang negatif dimana mereka berada.Di Pondok Pesantren “Wali Songo” pelajaran budi pekerti diajarkan lewat semua mata pelajaran yang diajarkan, misalnya hadist, tafsir, mahfudzot, dan lain sebagainya, bahkan berhitung, biologi, dan fisika-pun mengandung pendidikan yang mengarah kepada budi pekerti.
4. Berbadan sehat : Budi pekerti yang luhur, mental yang sehat harus pula diimbangi pula dengan jasmani yang sehat, hingga terwujudlah satu kehidupan yang harmonis, hidup yang seimbang antara jasmani dan rohani.Betapa banyak cita-cita yang baik, cita-cita yang tinggi tidak berhasil lantaran fisik yang tidak mengijinkan, yaitu adanya jasmani yang tidak sehat.Di Pondok Pesantren “Wali Songo“, kepramukaan termasuk menunjang terwujudnya jasmani yang sehat. Semua santri diharuskan mengikuti dengan seksama. Selain itu kepada seluruh santri selalu diberi spirit untuk rajin berolah raga., cukup mendapatkan perhatian penuh. Fasilitas-fasilitas yang menunjang kelancaran pelaksanaan olah raga, cukup mendapatkan perhatian penuh. Setiap empat tahun sekali di adakan pekan olah raga dan seni (PORSENI) dengan tujuan meningkatkan mutu dan kualitas dalam bidang olah raga dan seni santri, untuk menghindari kebudayaan yang berefek negatif dalam perkembangan mental spiritual santri.Karenanya, ikutilah dengan baik segala aktivitas ke olahragaan di Pondok Pesantren “Wali Songo” ini, insyAlloh akan bermanfaat. Tentang makan di Pondok tidak tergolong mewah/enak. Walaupun demikian tidak mengabaikan begitu saja akan hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan kesehatan.Sehubungan dengan hal-hal yang demikian ini pertumbuhan jasamani para santri pada umumnya baik dan sehat. Yang sakit ya ada satu dua, tetapi istilah santri kudisan (gudikan) sudah tidak berlaku lagi di Pondok Pesantren “Wali Songo” sebagaimana semboyan “Men Sana In Corporisano”. “Al-aqlussalim fil jismissalim” akal yang sehat terletak pada di jasmani yang sehat.
5. Berpengetahuan Luas (Broad Knowladge) : Di Pondok Pesantren “Wali Songo” tidak hanya diberi ilmu agama saja, atau hanya ilmu pengetahuan saja. Ini pun tidak hanya tidak terbatas oleh keempat dinding kelas saja, (formal) tetapi juga ilmu pengetahuan diluar kelas, (informal). Disamping itu diberikan juga ilmu pengetahuan kemasyarakatan secara luas, hal ini dimaksudkan agar para santri tidak fanatik hanya kepada satu golongan saja, tetapi sanggup mencari segala dasar amaliyah, serta segala sumber-sumbernya secara positif. Adanya sering terjadi cekcok dan pertengkaran dalam masyarakat pada umumnya, antara golongan Islam dan yang lainnya, disebabkan kurangnya pengetahuan,pengertian, dan pandangan secara luas. Pondok mengarahkan kepada suatu perdamaian antara umat Islam, dan bebas dari khalafiyah golongan. Hal ini telah lama berjalan. Pondok berusaha selalu agar perdamaian itu tetap terjaga. Walaupun guru-guru berada dalam wadah golongan Islam, tetapi di pondok selalu dalam keadaan damai. Tidak ada seorang pelajar beserta guru-gurunya yang dalam satu golongan. Sunnah pondok sejak lama, mau masuk pondok harus mau lepas baju golongan.Pondok di atas semua golongan dan untuk semua golongan. Kami menganjurkan gunakanlah kesempatan sebaik-baiknya selama engkau di pondok, segala sesuatu yang mungkin kamu jumpai dalam masyarakat nanti, pelajarilah dengan seksama, bahkan jika memang kemampuan memang ada, bekal cukup, teruskanlah sampai keluar negeri. Dengan demikian, dengan bekal yang cukup, dengan pengetahuan yang luas, engkau takkan mudah menghina, mencaci, ataupun mencela terhadap mereka yang seagama, yang hanya berlainan golongan, atau hanya karena perbedaan furu’iyah semata.
6. Berpikiran Bebas (Independent mind) : Di Pondok tidak ada tekanan. Yang ada didalamnya peraturan-peraturan, ketentuan-ketentuan, disiplin dan sunnah yang sudah berjalan sejak lama. Siapa yang mengabaikan dan melanggar peraturan, disiplin dan sunnahnya, akan terkena resikonya. Dia sudah seharusnya mempertanggung jawabkan pelanggarannya, itu bukan paksaan. Semua berjalan dengan bebas, bebas berfikir dan bebas bertindak, bebas menyalurkan inisiatif dan aspirasinya, selagi kebebasan tidak disalahgunakan. Andaikan bebasnya seorang tamu, tidak lantas keluar masuk semua bagian rumah tanpa permisi, masuk dapur, kamar tidur, semaunya sendiri. Kebebasan yang disalah gunakan itu, umpama saja, kebebasan yang yang menuju kearah nilai-nilai yang negatif,yang bertentangan dengan agama maupun peraturan, sunnah dan disiplin.Adapun kebebasan di pondok, ialah kebebasan yang membawa maslahat dan manfaat di dunia dan akherat. Bebas berdisiplin, bebas belajar dengan sebaik-baiknya, bebas dari segala pengaruh negatif dari kolonial dan seterusnya. Ini semua, insyAlloh akan menuju nilai-nilai yang positif, bermanfaat dunia dan akhirat. Inilah dia arti bebas terpimpin.
7. Berwiraswasta : Disamping tujuan dan arah diatas, Pondok Pesantren “Wali Songo” bukan mendidik agar para santrinya menjadi orang yang tidak berani hidup mandiri, tetapi agar menjadi orang yang berani hidup mandiri lagi giat dalam Tholabul ‘ilmi dengan suci, ibadah memenuhi perintah agama.Tentang nanti menjadi dapat menjadi pegawai negeri atau tidak, sama sekali tidak menjadi dasar atau pemikiran atau perhitungan pendidikan dan pengajaran di “Wali Songo”. Bahkan diharapkan agar para santrinya dapat menjadi orang yang memimpin sesuatu usaha atau dapat memimpin teman-temannya yang menghajatkannya, serta tidak menutup kemungkinan menjadi orang pegawai negeri yang bermentalkan wiraswasta.Hal ini dapat dilihat dari fakta perekonomian, perdagangan dan perusahaan serta tokoh pemimpin yang telah ada semuanya, tidak terlalu tergantung kepada pelajar yang khusus bagi pekerjaan itu, namun tergantung kepada jiwa dan karakternya, pribadi dan mentalnya. Dalam pada itu santri tidak canggung-canggung pula jika di antara mereka menjadi pegawai.
8. Cinta tanah air : Santri Pondok Pesantren “Wali Songo” diajarkan untuk mencintai tanah airnya dengan sepenuh hati. Dengan itu, diharapkan para santri memiliki jiwa nasionalis, kerelaan berkorban demi kejayaan bangsa dan negara Indonesia. Santri ditanamkan sikap peduli dengan sesamanya, tidak acuh dengan lingkungan sekitar, ini membuktikan bahwa Pondok Pesantren “Wali Songo” peduli dengan masa depan generasi muda, penerus cita-cita para pendahulu.
TINGKATAN PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN WALI SONGO NGABAR PONOROGO INDONESIA
Pendidikan di Pondok pesantren “Wali Songo” Ngabar sampai saat ini terdiri dari lima tingkat yaitu :
• Tarbiyatul Atfal Al-Islamiyah ” Al-Manaar” (TK Islam) berdiri sejak tahun 1960
• Madrasah Ibtidaiyah Al-Islamiyah “Manbaul Huda” (setingkat SD) berdiri sejak tahun 1950
• Tarbiyatul Mu’alimin Al-Islamiyah, setingkat dengan madrasah Tsanawiyah dan madrasah aliyah, berdiri pada tahun 1959, lembaga ini khusus untuk putra.
• Tarbiyatul Mu’alimat Al-Islamiyah, setingkat dengan madrasah Tsanawiyah dan madrasah aliyah, berdiri pada tahun 1980, Lembaga ini khusus untuk putri.
• Tingkat perguruan tinggi, yaitu Institut Agama Islam Riyadlotul Mujahidin yang berdiri sejak tahun 1988.
SETINGKAT TIDAK BERARTI SAMA
Sistem di Tarbiyatul Mu’alimin dan Mu’alimat ini, lain dari pada sistem di beberapa sekolah/perguruan lain. Bahasa arab dikelas dua keatas sudah menjadi bahasa pengantar pengetahuan agama. bahasa arab secara aktif, inilah cara terbaru yang mengajarkan bahasa yang hidup, berarti dapat digunakan dalam percakapan mulai dari kelas dua, meskipun pelajaran nahwunya belum begitu tinggi.
BUKU-BUKU DI PONDOK PESANTREN “WALI SONGO”

Kitab-kitab dalam satu perguruan, khususnya di Pondok Pesantren “Wali Songo“, terutama buku-buku bahasa arab dan agama bukan menjadi ukuran tentang mutu yang sebenarnya dari pelajaran.
Jika diajarkan secara terjemah biasa, satu buku dapat diselesaikan dalam sehari semalam. Tetapi jika menurut sistem yang benar adalah usaha untuk semua kata-kata dan susunan yang ada dalam buku itu menjadi milik simurid sehingga ia dapat menguasainya. Berarti mempergunakan kata itu pada tempatnya. Jadi bukan hanya isi cerita yang diambil.
Pondok Pesantren “Wali Songo” berusaha agar anak-anaknya itu dapat memahami sendiri kitab-kitab yang banyak sekali itu, dan guru tidak hanya memberikan arti yang terkandung didalam kitab-kitab itu.
Tidak memberikan nasi yang sudah masak untuk dimakan kemudian habis, tetapi memberikan benih-benih yang pada selanjutnya dapat tumbuh dan kemudian dapat dibuat nasi sendiri dengan tidak ada habis-habisnya.
Dan sebenarnya dan kemauan pelajaran sekolah tidak dapat hanya dilihat atau diukur dari rencana pelajarannya atau leer-plannya, kurikulum atau kitab-kitabnya. Itulah sebabnya pada mulanya para santri belum perlu membeli kitab banyak-banyak. Tetapi setelah menguasai kunci-kunci itu, dapat membeli kitab-kitab yang dapat dipahami dalam jumlah yang tiada batas.
PERBEDAAN CARA MENGAJAR DAN CARA BELAJAR DI PONDOK PESANTREN “WALI SONGO” DAN TEMPAT LAIN
Diantara perbedaan yang jelas ialah dalam hal :
1. Keseimbangan antara ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum
2. dalam hal pelajaran bahasa arab dan Inggris
3. Para santri tinggal dalam asrama yang disiplin
Sebenarnya pelajaran permulaan di TMI/TMt-I hanya cukup didasari dengan ilmu pengetahuan dasar, dengan ukuran sekolah dasar dan lulusan ujian negeri. Sedang pengetahuan agama harus didasari dengan dapat membaca Al-Qur’an dengan lancar dan baik, dan dapat menulis arab dan lancar. Apabila kedua dasar itu seimbang tidak sulit untuk mengikuti pelajaran dengan baik.

Di TMI/TMt-I sejak permulaan bahasa arab dan inggris diajarkan secara atif, terus dipakai untuk bercakap-cakap dalam pergaulan sampai menjadi bahasa pengantar dalam berbagai materi pelajaran, bukan hanya sekedar mengerti atau pasif. Jadi tidak hanya sekedar bercakap-cakap. Ujian-ujian dari kelas`satu kekelas dua banyak yang harus dijawab dengan bahasa arab. Metode yang dipakai untuk keduanya itu adalah metode aktif, metode lisan dulu, seperti berlitz dan sebagainya.
Dengan metode ini, dengan pengalaman puluhan tahun telah mengeluarkan ribuan alumnus, ternyata sukses. karena sistem pendidikan dan sistem pengajaran di Pondok Pesantren “Wali Songo” berbeda dengan lembaga lainnya, maka bagi pelajar luar yang masuk ke pondok pesantren “Wali Songo” haruslah mampu menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan dan pengajaran yang ada.
JANGAN TERLALU PERCAYA SEHINGGA MALAS DAN JANGAN SETENGAH-SETENGAH

Dalam usia yang sekian lamanya, Pondok Pesantren “Wali Songo” telah mendidik pemuda-pemudanya yang sekarang mendapat kedudukan/tempat beramal yang baik di tengah-tengah masyarakat. Alhamdulillah.
Disamping itu tidak sedikit hasil yang telah dicapai dalam memperbaiki kerusuhan-kerusuhan kecil/besar dalam bidang mental/karakter pemuda kita. Dengan adanya hasil didikan Pondok Pesantren “Wali Songo” yang mendapatkan penghargaan dari segenap lapisan masyarakat di seluruh pelosok tanah air, ingin para pemuda mengikuti langkah kakak-kakaknya yang terdahulu. Hal itu baik, tetapi janganlah terlalu percaya kepada Pondok Pesantren “Wali Songo” pasti akan menjadi alim, cakap, saleh dan alin-lainnya.
Pondok Pesantren “Wali Songo” bukanlah tukang sihir, bukan tukang sulap yang bisa memandaikan orang secara tidak wajar. Pondok Pesantren “Wali Songo” adalah tempat untuk mendidik, siapa yang malas adalah bodoh, siapa yang rajin ilmunya bertambah. Hal ini senantiasa dianjurkan oleh pondok. Man jadda wa jadda.
Sedangkan syarat-syarat disiplin seperti yang dulu harus ditepati. Sebaliknya, jangan pula sampai musrik, artinya setengah-setengah atau mendua hati. Datang ke Ngabar tidak dengan sepenuh hati membanding-bandingkan Ngabar dengan tempat lain, senantiasa menghayal (bagaimana kalau saya pindah, bagaimana kalau ke Solo, Yogyakarta, Medan, Jombang, bagaimana….bagaimana…….bagaimana……), akhirnya orang yang musrik ini tidak mendapat ketenangan dalam belajar. Kesudahannya tepat seperti apa yang dikatakan
pepatah “Sikucapang Sikucapi“, yang dikejar tidak dapat yang dikandung berceceran. Tidak sana-sini. Arang habis besi binasa.
Ada seorang wali murid yang menyuruh anaknya begini, ” kalu tidak dapat kerasan sebulan, cobalah tiga bulan, dan cobalah satu tahun dan kalau tidak kerasan satu tahun cobalah tiga tahun atau empat tahun. Kalau sampai enam tahun juga tidak kerasan dan sudah tamat bolehlah kamu pulang berjuang di rumah/masyarakat” ini namanya percobaan yang lengkap.

Sebab yang terpenting dari kemunduran umat Islam, kemunduran pemuda Islam, terceceranya pemuda Islam dari masyarakat luas, adalah kurangnya atau tidak adanya ilmu pengetahuan umum dan organisasi yang baik. Karena kekurangan itu, mereka selalu ketinggalan dan hanya selalu sebagai penonton. Karena kekurangan itu, mereka merasa rendah, merasa kurang padahal mereka itu mu’minin, mereka itu beriman. Maka dari itu mulailah umat Islam berlomba-lomba bangun hendak mencari ilmu pengetahuan, tetapi sayang banyak diantara mereka yang kurang tepat jalannya dalam mencari pengetahuan itu. Mereka ingin menjadi intelek berpengetahuan umum, tetapi kurang tepat rabaanya tentang apa yang harus diperbuat untuk menjadikan mereka intelek terpelajar berpengetahuan umum.
Banyak yang hanya menjadi intelek pakaian, karena itu jalan yang paling murah. dengan model-model pantolan, kemeja sampai model-model rok dengan rok mininya, adapula yang mengira bahwa kalau yang bersekolah dinas negeri dikota, pandai nonton bioskop, pandai membicarakan bintang-bintang film dan sebagainya, sudah menjamin ia menjadi intelek, berpengetahuan, jadi “orang kota yang gagah”.
Ada pula yang mengira bahwa pengetahuan umum yang paling utama pada sangkanya ia ilmu pasti. Sampai beratus-ratus anak kyai, anak pemimpin Islam masuk sekolah kristen, yang mendapat pendidikan kristen, bahkan ada yang benar-benar menjadi mubaligh kristen.
Segala kesalahan itu tidak terlalu kita bebankan kepada orang-orang tua dan kepada pemuda-pemudanya. Memang ada beberapa faktor yang menyebabkan mereka salah pandangan, hanya saja kita insyaf akan kesalahan itu cepat-cepat jangan sampai terlanjur sesal dikemudian hari.
Ketahuilah kedua masalah pengetahuan umum yang sangat erat hubungannya dengan kehidupan umat, khususnya dengan masyarakat, lebih khusus lagi pemudanya, ia soal kepramukaan dan olah raga. Inilah yang sangat penting di masyarakat.
Pemuda yang cakap dalam hal ini, pasti akan terkemuka dalam masyarakatnya, dia akan dapat mempengaruhi dan memimpin masyarakatnya dengan mudah. Selama ini pemuda hanya menjadi sasaran operasi pihak lain.
Dimana ada gerakan olah raga, sepak bola, atletik, vollyball, badminton dan lain sebagainya, beserta pertandingan-pertandingan dan kompetisinya juga soal juri dan wasitnya, pemuda kita hendaknya tampil ke muka, dapat maju, dapat mengatur, dapat memimpin dan dapat terkemuka.
Kepramukaan di Pondok Pesantren “Wali Songo” lebih darinpada di tempat lain, karena berisi maksud membentuk kader, untuk menjadi pemimpin, nanti sepulangnya dari Pondok Pesantren “Wali Songo“. Maka dalam latihan pramuka jangan hanya sekedar latihan. Dalam latihan harus berisi niat. “Bagaimana saya nanti dalam memimpin pramuka”.
Sedang menurut perhitungan, semangat kepramukaan di masa yang akan datang akan terus maju seluas-luasnya. Apabila pada waktu ini semua pelajar belum menjadi pramuka, maka nanti yang datang masanya di Indonesia, semua murid sekolah apa saja akan menjadi pramuka.
Ingat akan apa yang terjadi dinegara-negara lain, seperti malaysia, dan Pondok Pesantren “Wali Songo” telah lama menjalankan disiplin pendidikannya bahwa semua santri dengan tidak terkecuali harus menjadi pramuka.
Adapun kepentingan pendidikan pramuka rasanya tidak akan sukar dipahami, kecuali bagi orang-orang yang gagal dalam pendidikan. Segenap pemimpin Indonesia menguatkan ini.
Kepramukaan di Pondok Pesantren “Wali Songo” seakan-akan merupakan untuk kepramukaan yang ada di Indonesia. Maka kepulangannya mereka dari Pondok Pesantren “Wali Songo” akan merdeka, bebas, untuk masuk dalam segala organisasi kepramukaan.
Ringkas pelajarilah, dan berlatihlah dengan penuh keinsyafan tentang kepramukaan dan olah raga. Tidak ada alasan sama sekali , kalau saja ada orang yang mengira bahwa ada seseorang yang tidak mempunyai bakat dalam soal ini yaitu kepramukaan dan olah raga.
Dapat dijelaskan, bahwa kepramukaan di Pondok Pesantren “Wali Songo” telah lam ikut masuk dalam gelanggang tingkat nasional. Pernah mengikuti Jambore di Bogor, Slawesi dan pramuka yang dikirim keberbagai even kepramukaan lainnya.
PONDOK PESANTREN WALI SONGO KAMPUNG DAMAI
Cita-cita perdamaian adalah cita-cita suci
kemanan dan keselamatan adalah cita-cita segenap umat manusia
Maka dari itu, harus dapat dilaksanakan mulai dari arti sesempit-sempitnya, sampai pada arti yang seluas-luasnya, dari pondok pesantren inilah kita mulai perdamaian, menuju kearah perdamaian yang seluas-luasnya.
Disinilah kita berkumpul, bergelut, melatih, melaksanakan firman Alloh “Inamal mu’minunna ikhwatun” artinya : sesungguhnya orang mu’min itu bersaudara. mari kita berniat dengan penuh keikhlasan, guna berlatih ukhuwah Islamiyah yang sekuat-kuatnya. Disamping itu harus kita artikan pula, bahwa kampung kita kampung selamat, yang harus kita pelihara dari segala bencana yang akan merusak, mengotori dan mengeruhkan.
jangan hanya berani dengan sesama kawan tetapi pengecut terhadap musuh. Semua itu hanya menunjukkan kerendahan mentalitas, pandai-pandailah bergaul dengan segala bangsa, lebih-lebih dengan sesama bangsa, apalagi dengan teman seagama “Akhun fiddin” tunggal guru.
Guna menghidupkan Ukhuwah Islamiyah yang diridloi Alloh harus di perdalam dan di perluas rasa keikhlasan untuk kebaikan bersama, sampai hari depan dalam masyarakat nanti.
Tidak ada iri hati, tidak ada dengki, tidak ada orang lain, semuanya kita bersaudara dalam arti kita mendalam. Segala sesuatu harus diselesaikan secara damai, inilah Pondok Pesantren “Wali Songo” kita, Kampung Damai.
Besar artinya bagi pecinta damai
Kecil artinya bagi pecinta ramai
Lapangan yang luas bagi yang berakal
Tertekan dan sempit bagi yang nakal

ARTI LAMBANG PONDOK PESANTREN WALI SONGO

1. Lingkaran : bertekat bulat membina santri
– Berjiwa tauhid
– Pecinta ilmu
– Pengabdi masyarakat
2. Ka’bah : Kiblat gerak usaha
3. Empat tingkat penyangga menara : Empat tingkat jenjang pendidikan
a. Taman kanak-kanak
b. Sekolah dasar
c. Pendidikan guru
d. Perguruan tinggi
4. Menara berjendela sembilan : Melambangkan semilan orang santri pertama
5. Empat jendela atas garis ka’bah : Tanggal 4 april (bulan IV)
6. Enam buah titik atas kubah menara beserta bintang : Tahun enam puluh satu
7. Bintang : Tinggi harapan
8. Bintang menara, sembilan jendela, enam butir titik-titik dan bintang : tahun 1961
9. warna kuning dalam lingkaran : Kesejahteraan dan ketentraman
HYMNE PONDOK PESANTREN WALI SONGO
Duhai dikau Ponodoku
Aman tentram bagiku
Hidup pun takan jemu
Slama kau membelaiku
Bila malam menjelang
cahya hidup indah cemerlang
Hidup pun tak kan bimbang
daku pun tak ingin pulang
Oh Tuhan yang kuasa
Tolonglah hamba
Perkenankan segra
Pitutur do’a
Smoga pondok sejahtera
** atau bisa didengarkan langsung dilink ini
MARS PELAJAR PONDOK PESANTREN WALI SONGO
Segenap pelajar pondok Pesantren “Wali Songo”
Nama tercinta
Putra putri maju menuntut ilmu
Di dalam Islam bersatu
Sebagai bekal dalam perjuangan
Menunaikan perintah Tuhan
Bertaqwa berilmu serta beramal
Ikhlas fisabilillah
Marilah pelajar semuanya
Bergerak maju bersama
Mencapai cita-cita mulia
Islam nan jaya
Rute ke Pondok Pesantren “Wali Songo”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s