Khutbah ‘Idul Fitri 1432 H

Masih Berkesempatankah Kita Untuk Bertemu Bulan Ramadhan Kembali?
Oleh: Ady Setiawan (Khutbah ‘Idul Fitri 1432 H, Desa Pandan I, Kab. Sintang)
Allahu akbar 3x walillahilhamd, Ma’asyiral Muslimin Jama’ah shalat ‘Idul fitri rahimakumullah,
Di pagi hari yang sangat luar biasa ini, kita tengah berada pada hari pertama bulan Syawal 1432 H, ditandai dengan bergemanya suara takbir, tahmid dan tahlil di seantero jagad raya ini, yang kita kenal dengan Hari Raya ‘Idul Fitri, kita tengah berada dalam  suasana yang berlumurkan kegembiraan namun juga berselimutkan rasa sedih. Gembira karena kita telah berhasil kembali dari medan juang selama sebulan penuh dengan kemenangan yang gilang gemilang. Namun juga sedih, karena telah ditinggal pergi bulan Ramadhan yang penuh berkah dan penuh kenangan.
Akankah kita berjumpa dengan ramadhan ditahun akan datang? Wallahu a’lam, Ramadhan dipastikan insya Allah tetap akan datang. Tapi ketika Ramadhan itu datang apakah kita masih hidup atukah tidak? Adalah sesuatu yang semua kita tak tahu.
Allah Berfirman : “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.. (QS. Lukman: 34)
Peringatan soal kematian ini merupakan sebuah keniscayaan hidup. Bukan hanya relevan untuk yang telah berusia lanjut saja. Tapi kematian itu adalah keniscayaan untuk semua manusia dari semua kalangan. Baik pemuda, orang yang sehat, yang berharta melimpah ruah. Dan untuk semua golongan tanpa pandang bulu.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (QS. Al-Ankabut: 57)
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Sholat ‘Iedul Fitri rahimakumullah,
Memang kita semua masih mengingingkan bertemu kembali dengan bulan Ramadhan. Akan tetapi, semua itu hak mutlak Allah swt, untuk mempertemukan kita ataukah tidak, entah siapa yang akan dahulu dipanggil oleh-Nya, bahkan tidak menutup kemungkinan salah satu diantara kita akan pergi mendahului.
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلا يَسْتَقْدِمُونَ
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. Al-A’raf: 34)
Bukan kami mengajak kita semua meratap. Meratapi kepergian Ramadhan dan meratapi kematian yang pasti datang. Tapi itulah sebuah kenyataan, yang pasti akan datang, bahwa setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Hidup ini ternyata tidak lama dan hanya sekejap. Maka, Sudahkah kita siap jika sewaktu-waktu diambil untuk mempertanggungjawabkan apa saja yang telah kita perbuat di hadapan Allah swt? Tanyakan pada diri kita masing-masing, diri khotib pribadi dan jama’ah sekalian umumnya. Di hadapan Allah secara langsung; tak ada yang bisa direkayasa dan tak ada yang bisa kita sembunyikan.
Firman Allah: “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Al-Baqarah: 284)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sekali lagi kami tidak mengajak kita untuk meratap. Tapi kami mengajak kita semua menyadari kenyataan ini. Bahwa bulan Ramadhan telah pergi, dan kita belum tentu bisa bertemu kembali.
Allahu akbar 3x walillahilhamd. Allah berfirman:
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ ﴿٧﴾ وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ ﴿٨﴾
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (An-Nasyrah: 7-8)
Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, kita telah melakukan serentetan ibadah di bulan Ramadhan. Meskipun kita belum tentu bertemu lagi dengan bulan Ramadhan pada masa akan datang, namun yang pasti sekarang masih ada waktu. Allah mengarahkan, ketika kita sudah menyelesaikan suatu urusan maka kita harus segera mengerjakan urusan yang lain. Apalagi memang bulan Ramadhan adalah bulan yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan, maka aplikasinya itulah yang harus kita wujudkan dalam sebelas bulan ke depan.
Dan sesungguhnya inilah, yaitu pasca Ramadhan, yang menentukan keberhasilan ibadah kita selama bulan Ramadhan. Apakah seperangkat ibadah yang kita lakukan memiliki pengaruh dalam kehidupan kita setelah Ramadhan ataukah tidak? Atau bahkan semuanya itu pergi bersamaan dengan perginya bulan Ramadhan? Kalau semua itu pergi bersamaan dengan perginya bulan Ramadhan, maka itulah yang disinyalir oleh Nabi Muhammad Saw:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ وَكَمْ مِنْ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ
“Banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Dan banyak yang melakukan shalat tarawih, juga tak dapat apa-apa kecuali hanya begadang saja.” (Hr. Ahmad dan Al-Hakim)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di bulan Ramadhan, dengan berpuasa, kita telah dilatih untuk hidup dengan sangat berhati-hati. kita dilatih mengendalikan diri untuk makan makanan yang halal. Jika kita cermati, dalam berpuasa kita diajarkan untuk tidak menyepelekan sesuatu yang dilarang meskipun sangat kecil, termasuk minum walau setetes. Subhanallah, betapa kita menjaga ibadah puasa sedemikian. Karena puasa hubungannya hablumminallah, langsung berhubungan dengan-Nya. Tanpa ada monitoring dari sesama manusia. Jadi, puasa mengantarkan kita sampai pada derajat ihsan. Yaitu, beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, atau paling tidak merasa dilihat oleh Allah swt.
Jama’ah shalat ‘Id rahimakumullah.
Tentu saja kondisi yang sedemian amat positif dari ajaran puasa, tak boleh sirna bersamaan dengan perginya Ramadhan. Allah ingin agar kita tetap berhati-hati seperti itu di bulan-bulan yang lain. Jika kita bayangkan, prilaku kehati-hatian yang sedemikian sangat hebat itu andaikata benar-benar mewarnai kehidupan kita secara umum. subhanallah maka betapa indahnya kehidupan ini.
Sehingga, kita tidak ada yang berbuat mubazir, tidak makan yang haram, tak ada perjudian dll, suasana semarak masjid dan musholla, karena semua berusaha untuk menghidupkan masjid, dan menjaga diri dari batalnya puasa. itu kita lakukan dengan penuh kesadaran, bukan karena adanya pengawasan manusia, tapi karena kita merasa di awasi oleh Allah yang Maha melihat, maka betapa kira-kira adil dan makmurnya daerah dan negeri kita ini. Pastilah benar-benar terwujud kemanan, kesejahteraan dan kedamaian. Tampil menjadi daerah dan bangsa yang sangat maju dan terdepan.
Jika hal itu terjadi, dan memang harus kita upayakan agar bisa terwujud, maka persoalan ekonomi, kekayaan alam, lapangan kerja, dengan sendirinya tak akan ada masalah. Semua masalah terjadi sesungguhnya adalah karena tak terkendalikannya hawa nafsu manusia itu sendiri.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.. (Al-A’raf: 96).
Maka lewat mimbar yang mulia di hari raya Idul Fitri ini, kami ingin mengumandangkan seraya mengajak diri pribadi, bahwa telah tiba saatnya kita untuk membangun monumen pembanguan yang lebih baik. Yaitu pembangunan jiwa atas dasar takwa. Pembangunan yang tak hanya berpondasikan bangunan-bangunan fisik, dan ilmu pengetahuan dan teknologi belaka namun disertai dengan pondasi pembangunan rohani dan pembangunan moral manusia. Pembangunan yang tak hanya berpondasikan pada sesuatu yang tampak dilihat, namun disertai juga dengan pondasi pembangunan yang mendidik manusia agar dapat melihat. Semuanya tak kan pernah tercapai, tanpa adanya system gotong royong, saling bahu membahu, saling melengkapi dan memiliki satu tujuan bersama, dan kemudian ditentukan atas ridho Ilaahi robby.
Allahu akbar 3x walillahilhamd. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di samping itu, Ramadhan telah mendidik kebersamaan kita semua. Betapa dengan semangat kebersamaan semuanya menjadi ringan dan penuh berkah. Puasa dan shalat tarawih mudah kita lakukan karena kita lakukan bersama-sama. Begitu halnya Zakat, infaq dan sedekah serta berbagai amal kebajikan pun kita lakukan dengan semangat kebersamaan.
Semangat kebersamaan ini tak boleh berakhir dengan berakhirnya Ramadhan. Harus tetap dipertahankan dan dijadikan tradisi yang baik karena memiliki kekuatan persatuan dan kesatuan yang luar biasa, sekalipun kita berangkat dari suku-suku dan daerah yang berbeda, namun seyogyanya, kolaborasi perbedaan itulah yag harus menjadikan pondasi utama semangat kita karena senasib seperjuangan untuk berjuang mencari kehidupan dunia sebagai jembatan keselamatan di akhirat kelak. amin
Allahu akbar 3x walillahilhamd. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,.
Ramadhan juga telah memberikan pembekalan kita melalui menunaikan Zhakat Fitrah, Selain sebagai penyempurna ibadah puasa kita, zakat juga menjadi pembersih diri kita masing-masing, baik pria maupun wanita karena ini berlaku untuk setiap individu, Nabi Muhammad saw. telah bersabda:
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan yang tidak berguna dan kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum sholat, ia menjadi zakat yang diterima dan barangsiapa mengeluarkannya setelah sholat, ia menjadi sedekah biasa”. Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah. Hadits shahih menurut Hakim.
Subhanallah, betapa Allah mendidik manusia untuk benar-benar menjadi kembali Fitrah, bahkan mendidik kita untuk melihat orang selain kita. Memberikan kesempatan pada orang yang belum berkecukupan untuk bersama menikmati hari kemenangan, hari kebahagiaan. Allahu akbar 3x walillahilhamd.
Jama’ah shalat sholat ‘Id yang dirahmati Allah
Terakhir, pembekalan yang tak kalah pentingnya, yakni pembekalan Al-Qur’an. Karena rata-rata kita telah khatam membaca Al-Qur’an. Maka berikutnya tak cukup bagi kita membaca dan khatam saja. Karena Allah mensyari’atkan Al-Qur’an untuk dipahami, dihayati dan diamalkan sebagai petunjuk dalam keseluruhan detail prikehidupan kita. Namun, memang ini adalah bukan perkara yang mudah.
Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, (Al-Isra’: 9)
Hadirin Rahimakumullah,
Betapa lengkap rentetan hikmah dari bulan ramadhan, yang benar-benar mengfasilitasi kita untuk dapat kembali fitrah dari segala kesahalan, Allah sengaja meletakkan Ramadhan pada urutan bulan ke-sembilan dan menginginkan kita keluar dalam keadaan suci setelah melalui proses karantina yang cukup panjang, sebagaimana Allah meletakkan kita dalam kandungan selama Sembilan bulan, dan mengeluarkan kita pula dalam keadaan suci tanpa dosa bak kain putih tanpa noda.
Allahu akbar 3x walillahilhamd. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Akhirnya, mari satukan niat untuk melakukan perubahan, perubahan kearah yang lebih baik, untuk diri pribadi, keluarga, masyarakat dan agama serta Negara Indonesia tercinta. Berbekal dengan akhlak mulia dan pedoman agama serta pengetahuan yang saling melengkapi, insyaallah kita kan menemukan masyarakat yang baldatun thoyyibatun warobbun ghofuur.amin allahumma amin.
Semua itu tidaklah lain harus berawal dari perubahan diri, dengan saling mema’afkan di hari yang Fitri ini, serta saling mengisi dimana celah diantara kita. Tak perlu mencela kekurangan orang lain, namun memberikan solusi itu lebih mulia. Semoga segala amal ibadah kita diterima oleh Allah swt, dan diampuni atas segala kekurangannya. Semoga dihari yang fitri ini, kita benar-benar kembali fitrah sebagaimana bayi yang baru dilahirkan ke muka bumi ini. Dan semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan yang suci pada tahun akan datang. Amin


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s