Kondisi Sistem Pendidikan Indonesia


A.      KONDISI SISTEM PENDIDIKAN INDONESIA


Melihat kondisi real yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia, kini kita sering menemukan berbagai macam celotehan pendapat-pendapat warga Negara yang begitu abstrak mengenai system pendidikan yang sedang dianut oleh Indonesia. Ujian Negara (UN), mungkin merupakan salah satu hal yang cukup disoroti banyak pihak, pelaksanaannya yang masih controversial dan semu dimata para guru dan wali murid. Sehingga memunculkan banyak gugatan tentang penghapusan UN yang selama ini menjadi momok serius bagi setiap siswa, untuk tidak diselenggarakan secara Nasional yang ditangani Kemendiknas. Namun standarisasi penilaian dan kelulusan siswa diserahkan sepenuhnya kepada guru yang bertindak sebagai ‘orang tua’ mereka dalam habitat sekolah.

Satu hal menarik yang ingin penulis kupas mengenai controversial tentang UN ini, yang mana akan memiliki garis hubung dengan system pendidikan Indonesia sekarang dan beberapa tahun mendatang.
Kami kembali ke masalah UN, mungkin tak salah bagi setiap dewan guru yang mengusulkan hal diatas, tak salah untuk mereka karena mereka tidak ingin anak didik mereka harus mendekam di sekolah karena belum lulus UN yang berarti satu tahun tertunda dari waktu normal karena tidak berhasil melewati ujian empat hari yang menentukan masa belajar mereka selama tiga tahun. Namun, dilain sisi kita harus mengamati kondisi lapangan yang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sebagian besar dari guru tersebut belum dapat meng-adil-kan pemberian nilai dalam raport jika harus diserahkan sepenuhnya tingkat kelulusan siswa. Banyak fakta mengatakan bahwa guru rela mengkatrol nilai-nilai siswanya demi meraih anggapan akan keberhasilan beliau dalam pendidikan dan pengajaran, atau agar siswa dapat memenuhi persyaratan mendapatkan beasiswa sehingga dapat menduduki bangku sekolah atau perguruan tinggi favorit, sedangkan hal tersebut sangat bertolak belakang dengan pencapaian hasil belajar siswa tersebut. Dalam hal ini, dewan guru menurut penulis, tengah berada dalam posisi benar namun juga bisa salah. Benar karena ingin memberikan yang terbaik pada siswa-siswa dan tentunya wali murid. Namun juga salah, karena belum bertindak adil dengan kondisi nyata. Hal ini disebabkan antara dua hal, pertama karena kegagalan guru tersebut dalam pengajaran sehingga beliau melakukan hal tersebut, atau kedua, karena kurang tepatnya system pendidikan Indonesia yang dianut, yang memasok siswa dengan berbagai menu pelajaran yang begitu abstrak (pada tingkat dasar) sedangkan secara kondisi siswa belum dapat menampung karena banyaknya pelajaran dan tidak sesuai dengan waktu yang ditargetkan serta kurang sesuai dengan kebutuhan.
Pada kesempatan kali ini, penulis lebih condong pada kekurang tepatan peletakan system pendidikan Indonesia pada saat ini, yang membuat seluruh elemen pendidikan membabi buta untuk mencapai target terbaik sekalipun tidak sesuai dengan lapangan. System memaksa siswa untuk menguasai sedemikian kompleksnya ilmu pengetahuan dengan segabrek mata pelajaran. Hal ini yang menurut penulis menjadi sebab utama ‘kenakalan’ siswa, menyontek saat ujian, membolos, tawuran dsb, karena mereka tidak sanggup dan merasa bosan dan jenuh dengan kesemuanya. Yang pada akhirnya, mereka tidak dapat meraih nilai baik, padahal sudah diadakaannya ujian susulan, bahkan bimbingan-bimbingan belajar exlusive selama masa-masa mendekati ujian.
Setiap manusia dilahirkan dengan membawa karakteristik (kelebihan/kekurangan tersendiri), jadi kurang tepat jika ada yang berpendapat bahwa adanya manusia yang bodoh. Pada dasarnya tidak ada manusia yang bodoh, hanya mungkin belum tergalinya potensi anak tersebut, sehingga yang patut mengarahkan adalah orang tua ataupun guru untuk mendiagnosa kecenderungan anak dan segera menyalurkan potensi yang ada. Bukan maksud penulis untuk langsung mendidik anak-anak usia dasar pada tingkat pengkhususan penguasaan skill/potensi diri, namun hal ini diperuntukkan bagi anak-anak menjelang dewasa yang sudah harus mengetahuai dimana potensi mereka. Bagi anak usia sekolah dasar, tidak salah jika harus diberikan mata pelajaran abstrak layaknya sekarang, namun yang tidak penulis setujui, Mengapa sebegitu banyaknya mata pelajaran yang diberikan padahal mereka belum sanggup melaksanakannya. Jadi system pendidikan Indonesia menurut penulis, masih perlu diperiksa dan dievaluasi berdasar pada kondisi real agar pendidikan tidak berjalan dalam dunia semu namun dapat benar-benar dirasakan sebagai kebutuhan dan penuh kejujuran.
B.      ARAH PENDIDIKAN NASIONAL
Arah pendidikan nasional menurut Undang-Undang No. 20/2003 tentang system Pendidikan Nasional adalah terwujudnya system pendidikan sebagai pranata social yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
Sejalan dengan visi tersebut diatas, maka Kementrian Pendidikan Nasional berhasrat untuk tahun 2025 menghasilkan INSAN INDONESIA CERDAS dan kompetitif. Kemudian dikuatkan kembali dengan lahirnya UU. Pendidikan Nasional No. 31 Tahun 2010 tentang Pendidikan Karakter, sebagai bentuk penyempurnaan dari pembinaan anak bangsa.
C.      KEKUATAN DAN KELEMAHAN
Pada artikel ini, penulis tidak ingin berpihak pada salah satu diantara dua kubu (pemerintah atau masyarakat), namun penulis akan mencoba untuk mengungkapkan isi hati mengenai kekuatan dan kelebihan dari system pendidikan yang tengah dilaksanakan. Karena pada dasarnya tidak ada suatu hal yang perfect, namun tetap saja ditemukan plot/titik kekurangan dan kelemahan. Akan tetapi, setelah kita tahu akan sebuah kekurangan, maka alangkah bijaknya jika kita dapat mengganti celah tersebut menjadi lebih sempurna.
Beberapa kekuatan yang dapat kami simpulkan antara lain:
a.      Telah ditargetkannya pembenahan dan pembentukan karakter siswa
b.      Telah ditargetkan untuk penyiapan generasi yang selalu update dengan perkembangan zaman
c.       Penyiapan insane yang cerdas dan kompetitif, baik dalam kancah nasional, regional atau bahkan internasional
d.      Perencanaan pemerataan system untuk seluruh warga Negara.
Dilain sisi, adapula beberapa kelemahan dari berbagai macam kekuatan system pendidikan Indonesia, antara lain:
a.      Target pemerataan yang tidak kondisional dengan lapangan, misalnya target persamaan ujian yang dilaksanakan di kota besar dengan daerah yang tertinggal
b.      Dengan semangat persiapan generasi yang update perkembangan zaman, membuat semakin banyak dan abstraknya pelajaran yang diberikan. Padahal, hal tersebut berefek negative pada diri siswa, karena menimbulkan rasa bosan dll, sehingga mendorong untuk bolos, mencontek saat ujian dan lain sebagainya.
c.       Pelaksanaan target pendidikan karakter, belum dimulai pada pencontohan karakter seorang guru kepada siswa.
D.     RENCANA SISDIKNAS
Sebagai sebuah lembaga pemerintahan yang berkewajiban untuk membawa pendidikan ke arah yang lebih baik, maka pemerintah telah menyiapkan beberapa langkah untuk menuju target tersebut, diantaranya:
a.      Menyiapkan potensi Kepala Sekolah yang fleksibel, dengan melalui proses pembinaan dan pelatihan. Sehingga dapat mempersiapkan Kepala yang mampu menyusun, mengatur, melaksanakan, dan mengevaluasi visi dan misi dari sekolah yang mereka pimpin.
b.      Menyiapkan proses rekrutmen siswa yang lebih selektif, baik tes tulis maupun tes lisan.
c.       Menyiapkan dan memperbaharui proses rekrutmen tenaga pengajar yang lebih selektif .
d.      Membenahi alur administrasi setiap jenjang pendidikan, baik mengenai system informasi sarana dan prasarana, system keuangan, system informasi siswa, sistem informasi akademik, dll.
E.      SOLUSI
      Sebagai penutup dari artikel penulis kali ini, kami akan mencoba memberikan sedikit bayangan terang setelah mengkritik dan mengungkap berbagai macam kelemahan-kelemahan system pendidikan Indonesia saat ini. Karena sungguh tidak mulia, jika penulis hanya mencela tanpa memberikan bayangan solusi dari permasalahan yang ada.
Maka dari itu, penulis akan mencoba menawarkan beberapa solusi, diantaranya:
a.      Pelaksaan target siswa yang berkarakter, harus dimulai pada diri pribadi seorang guru terlebih dahulu, yang setiap apa yang ia perbuat merupakan tuntunan dan didikan pada siswanya.
b.      Mata pelajaran (khususnya Sekolah Dasar) perlu diadakan pengevaluasian karena dipandang masih belum dapat ditaklukkan oleh siswa karena keanekaragaman yang begitu kompleks sedangkan tidak sesuai dengan tingkat pemahaman siswa sehingga menimbulkan perbuatan-perbuatan negative.
c.       Diadakannya pembinaan dan pelatihan pada setiap Kepala Sekolah agar lebih terarah, serta monitoring untuk mengevaluasi jalannya roda pendidikan
d.      Perlu kiranya pemerintah memasukkan mata pelajaran Agama (Islam, dll) dalam Ujian Negara, karena didalamnya diajarkan budi pekerti luhur yang dapat menyetir tingkah laku siswa. Sekalipun menurut informasi yang berkembang, telah akan diadakan pada UN tahun 2012 mendatang.
e.      Perlu ditanamkan dalam konsep pendidikan Indonesia bahwa keberhasilan pendidikan bukan dinilai dari hasil akhir, namun lebih berpacu pada proses yang dialami. Kesuksesan bukan dinilai dari keberhasilan seorang siswa yang berhasil masuk di sekolah atau Universitas ternama dengan nilai baik dan prestasi beasiswa, akan tetapi melalui proses penilaian yang kurang adil, karena ternyata nilai tersebut sengaja dibuat oleh Guru agar tampak berhasil dalam mengajar dan membanggakan sekolah. Namun, proses pembelajaran yang siswa lalui selama di sekolah merupakan hal yang lebih patut untuk dipertimbangkan.
f.        Pemerintah hendaknya menghilangkan rasa kekhawatiran dan ketidakpercayaan Guru atas hasil muridnya jika harus mengikuti UN secara murni tanpa kecurangan. Yakinkan mereka bahwa mereka bisa menyelesaikan ujian dengan mengeksplorasi kepampuan mereka tanpa harus tercampuri dengan keandilan para Bapak/Ibu guru.
g.      Perlu adanya pengakuan Pemerintah kepada Lembaga penyelenggara pendidikan Informal, setelah memenuhi ketentuan-ketentuan tertentu. Selanjutnya tetap diadakan monitoring kegiatan lembaga tersebut yang ditangani sebuah badan dibawah kemendiknas. Karena pada perkembangannya, mungkin akan dapat kita temukan bahwa pengkhususan pendidikan skill akan lebih dapat melahirkan tenaga professional daripada pendidikan umum secara global. Dalam tanda kutip, penulis tidak mengisyaratkan penghapusan formal, namun kami ingin mengarahkan bahwa pendidikan informal tidak dapat dipandang sebelah mata. Kesemuanya (pendidikan formal, informal dan nonformal) harus senantiasa saling berkesinambungan agar dapt saling melengkapi dalam setiap lini kehidupan.
h.      Pelaksanaan ketetapan tentang ketentuan-ketentuan pendidikan hendaknya disesuaikan dengan ketetapan yang telah disepakati bersama. Misalnya mengenai penilaian yang harus diambil melalui tiga aspek, yakni penilaian sikap (afektif), penilaian pengetahuan (kognitif), serta penilaian keterampilan (psikomotorik), ketiga aspek ini sering kali diabaikan pada lapangan yang tentunya bertentangan dengan ketetapan. Sesuai dengan UU Sisdiknas No.20 tahun 2003 Bab V pasal 25.
Demikian, beberapa solusi yang dapat kami paparkan. Kiranya dapat dijadikan pertimbangan dalam pengevaluasian perencanaan system pendidikan Indonesia mendatang.
Kemudian, Penulis meminta ma’af bilamana terdapat goresan pendapat yang kurang tepat dan belum sesuai menurut hemat para pakar dan ahli dalam ilmu perancanaan pendidikan Indonesia.
Referensi:
          http://www.kemendiknas.co.id
          Tim penyusun, Buku Panduan PKKMB UNESA 2011, Unesa University Press, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s