Pernikahan

A.     PENGERTIAN
Nikah (bahasa) adalah adl-dlommu wal jam-‘u, artinya berkumpul
(syara’) adalah suatu aqad (lahir batin antara seorang pria dengan wanita) yang mengandung dibolehkannya wat’iy (hubungan badan suami istri) dengan menggunakan lafadz nikah atau tazwij dengan ketentuan dan syarat  tertentu. (Syeh Zainuddin Abdul Aziz Milyabariy)
Menurut UU. Perkawinan 1974: Nikah adalah ikatan lahir batin antara suami istri dalam suatu rumah tangga berdasarkan kepada tuntunan agama.
B.      DALIL NIKAH :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisa’: 1)
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُون
Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. A-Ruum:21)
C.      HUKUM NIKAH
  • Sunah, jumhurul ‘ulama sepakat bahwa hokum asal pernikahan adalah Sunah. {an-Nuur : 32} dan Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya bersabda: “Tetapi aku sholat, tidur, berpuasa, berbuka, dan mengawini perempuan. Barangsiapa membenci sunnahku, ia tidak termasuk ummatku.” Muttafaq Alaihi.
  • Wajib, mampu jasmani, rohani dan materi sedang dorongan seksual telah mencapai puncak untuk segera disalurkan, apabila tidak maka sangat mungkin akan terjebak pada perbuatan fakhisyah (zina).
  • Mubah, bagi seseorang yang tidak mempunyai factor pendorong/melarang untuk nikah (sedang2 saja)
  • Makruh, bagi orang yang secara jasmani dan rohani cukup matang tapi secara materi masih belum mampu mencukupi kebutuhan keluarga.
  • Haram, bagi seseorang yg tujuan menikahnya hanya sekedar ingin menyakiti wanita/mempermainkan wanita.
D.     KHITBAH (LAMARAN NIKAH)
            Adalah seorang laki-laki meminang/melamar seorang perempuan untuk diajak menikah. Meminang diperbolehkan dan dianjurkan agar tak ada penyesalan nantinya.
Cara mengkhitbah:
·         Kepada gadis/janda yang telah habis masa ‘iddahnya. Bila belum habis, maka cukup dengan sindiran saja {al-Baqoroh:235}
·         Wanita yang dipinang harus tidak terikat dengan aqad nikah atau pinangan orang lain.
·         Laki-laki dapat melihat wajah dan telapak tangan wanita atau kedua telapak kakinya. Dari Jabir bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu melamar perempuan, jika ia bisa memandang bagian tubuhnya yang menarik untuk dinikahi, hendaknya ia lakukan.” Riwayat Ahmad dan Abu Dawud dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya. Hadits shahih menurut Hakim.
E.      MAHRAM
            Adalah wanita-wanita yang haram dinikahi oleh seorang laki-laki yang disebabkan hubungan keturunan, persusuan dan perkawinan.
§  Keturunan: ibu, nenek dan seterusnya keatas, anak dan seterusnya kebawah, saudara perempuan sekandung, saudara perempuan seayah, saudara perempuan seibu, saudara perempuan ayah, saudara perempuan ibu, anak perempuan dari saudara laki-laki dan seterusnya kebawah, anak perempuan dari saudara perempuan dan seterusnya kebawah.
§  Persusuan: ibu yang menyusui, saudara perempuan sepersusuan
§  Perkawinan: ibu dari istri (mertua), anak tiri (jika ibunya telah digauli), istri dari anak, istri ayah (menantu). {QS. an-Nisa:22-23}
F.       RUKUN DAN SYARAT NIKAH
v  Calon suami : muslim, merdeka, berakal, benar-benar laki-laki, adil, tidak beristri empat, bukan mahram, tidak sedang ihram atau umrah
v  Calon istri : muslimah, benar-benar perempuan, izin wali, tidak sdg bersuami atau dalam masa iddah, bukan mahram, tidak ihram atau umrah
v  Syighah ijab Qhobul : lafadz, bukan kata kinayah, tidak dikaitkan dengan syarat tertentu, satu majlis
v  Wali : muslim, baligh, tidak fasik, laki-laki, memiliki hak wali.
v  Dua saksi : muslim, baligh, berakal, merdeka, laki-laki, adil, pendengaran dan penglihatan normal, memahami bahasa ijab qobul, tidak ihram atau umrah.
G.     WALI
            Adalah orang yang berhak menikahkan seorang perempuan dengan seorang laki-laki sesuai dengan syariat islam. Dari Abu Burdah Ibnu Abu Musa, dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak sah nikah kecuali dengan wali.” Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadits shahih menurut Ibnu al-Madiny, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban. Sebagian menilainya hadits mursal.
Urutan wali dalam pernikahan:
Ayah kandung, kakek dari pihak ayah dan seterusnya, saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki kandung seayah, anak laki-laki saudara laki-laki kandung, anak laki-laki saudara laki-laki, paman (saudara ayah sekandung), paman (saudara ayah) kandung, anak laki-laki dari paman kandung, anak laki-laki dari paman seayah, wali hakim.
Macam-macam wali:
1.      Wali mujbir, berhak tanpa meminta izin dan menanyakan dahulu pendapat orang lain.
2.      Wali hakim, hak kewalian kepada hakim yang disebabkan dua hal; terjadi pertentangan diantara wali dan tidak adanya wali nasab, baik karena hilang, meninggal atau ghoib.
3.      Wali ‘adl, wali yang menolak menikahkan perempuan yang ada dibawah kewaliannya. (rasional ‘wali hakim’ dan tidak rasional ‘wali nasab’)
H.     IJAB-QOBUL
Ijab; lafadz penyerahan (tanggungjawab terhadap wanita) yang disampaikan wali kepada mempelai laki-laki. Qobul; lafadz penerimaan (kesanggupan laki-laki menerima tanggungjawab) yang telah diserahkan sepenuhnya kepadanya.
I.        KHUTBAH NIKAH
            Suatu khutbah yang dilakukan sebelum prosesi akad nikah dilakukan. Berisi peringatan, pengajaran, dan bekal mental khususnya bagi mempelai. Hukumnya adalah mubah (jumhurul ‘ulama) kecuali kelompok Abu Daud Dahiri yang mensyari’atkan Ijab Qobul.
J.        MAHAR (MASKAWIN)    
            Pemberian sesuatu yang bernilai dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan yang disebabkan terjadinya aqdun nikah. Bahasa al-Qur’an Maskawin; shoduqot, ujur, nihlah, fariidhah, habaa, uqr, alaaiq, taul. Maskawin bukan uang beli (kehormatan) istri, tapi sebagai symbol kesanggupan suami atas istrinya (nafkah lahir dan batin) secara ihlas. {QS. An-Nisa’:4}
Macamnya: Mahar Musamma (disebutkan) dan Mahar Misil (sebanding) sesuai dengan kebiasaan setempat serta layak dengan martabat mempelai wanita sekalipun tidak disebutkan secara terperinci dalan ijab qobul.
Ukuran tidak ditentukan secara pasti, tergantung kesanggupan dan kemampuan calon suami.
K.      WALIMATUL’ARUSY (PESTA PERNIKAHN)
Walimah = makanan, pesta, kenduri, resepsi.
Walimatul’arusy adalah pesta yang digelar oleh seseoang/keluarga setelah dilangsungkannya akad nikah.
Hukum menurut mayoritas ulama adalah Sunah Mu’akad, dan menurut imam Malik hukumnya wajib.
Dan hukum menghadirinya adalah Wajib bagi yang diundang.
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang di antara kamu diundang ke walimah, hendaknya ia menghadirinya.” Muttafaq Alaihi. Menurut riwayat Muslim: “Apabila salah seorang di antara kamu mengundang saudaranya, hendaknya ia memenuhi undangan tersebut, baik itu walimah pengantin atau semisalnya.
L.       MACAM-MACAM PERNIKAHAN
a.       Nikah mut’ah
Adalah nikah yang menyebutkan batas waktu tertentu ketika akad.
Salamah Ibnu Al-Akwa’ berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah memberi kelonggaran untuk nikah mut’ah selama tiga hari pada tahun Authas (tahun penaklukan kota Mekkah), kemudian bleiau melarangnya. Riwayat Muslim.
b.      Nikah syighar
Adalah pernikahan dua jodoh (4 orang) dengan menjadikan kedua perempuan itu sebagai mahar masing-masing.
Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Bahwa Rasulullah saw. melarang nikah syighar. Dan nikah syighar ialah seorang lelaki mengawinkan putrinya kepada orang lain dengan syarat orang itu mengawinkannya dengan putrinya tanpa mahar antara keduanya. (Shahih Muslim No.2537)
c.       Nikah tachlil
Bahasa=menghalalkan, membolehkan
Syari’ah= nikah yang dilakukan seseorang dengan tujuan untuk menghalalkan perempuan yang dinikahinya, dinikahi lagi oleh bekas suaminya yang telah mentalak tiga.
Laki-laki yang berusaha untuk tujuan tersebut disebut Muhalil, dan mantan suami yang menjatuhkan talak tiga yang diusahakan disebut Muhalillahu.
Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melaknat muhallil (laki-laki yang menikahi seorang perempuan dengan tujuan agar perempuan itu dibolehkan menikah kembali dengan suaminya) dan muhallal lah (laki-laki yang menyuruh  muhallil untuk menikahi bekas istrinya agar istri tersebut dibolehkan untuk dinikahinya lagi).” Riwayat Ahmad, Nasa’i, Dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi.
d.      Nikah silang
Adalah pernikahan yang salah satu dari mempelai bukan muslim (Qs.Albaqarah:221 dan Almaidah: 5)
e.      Nikah khadan
Bahasa= gundik, piaraan
Syara’ = nikah sembunyi yang mana laki-laki menjadikan wanita-wanita simpanan sebagai istri tanpa melalui nikah yang sah menurut syara’, atau sebaliknya. (QS. Al-Maidah:5, dan QS. An-Nisa’: 25)
M.   HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI-ISTRI
Keawajiban Suami:
ü  Membayar maskawin
ü  Member nafkah lahir yang ma’ruf
ü  Menggauli istri dengan ma’ruf
ü  Memimpin keluarga dengan bijaksana
ü  Bersikap adil dan bijaksana, dll
Kewajiban Istri:
§  Mentaati suami, selama kebaikan
§  Menjaga diri dan kehormatan keluarga
§  Menjaga harta suami
§  Mengatur rumah tangga
§  Mendidik anak, dll
Kewajiban bersama:
Ø  Menjaga nama baik seluruh keluarga
Ø  Menghormati dan berbuat baik pada seluruh keluarga
Ø  Memelihara kehormatan dan rahasia keluarga
Ø  Mewujudkan lingkungan keluarga yang baik
Ø  Memelihara dan mendidik putra dengan penuh kasih sayang
Ø  Saling mema’afkan kesalahan
Ø  Sabar dan saling menyadari kekurangan
Ø  Bijaksana dalam memecahkan masalah, dll
N.     HIKMAH-HIKMAH PERNIKAHAN
Bagi Individu dan Keluarga:
·         Keluarga menjadi tenang, tentram, sejahtera
·         Terpelihara dari zina
·         Melanggengkan keturunan dengan jelas dan bersih
·         Memperkokoh kekeluargaan dan persaudaraan.
·         Mendorong individu lebih giat beramal.
·         Memudahkan seseorang dalam mendapat pahala dan ridha Allah SWT
·         Menjadikan individu lebih dewasa, bijaksana, dll
Bagi masyarakat:
1.      Terpeliharanya ketenangan hidup
2.      Memudahkan pengaturan dan pengendalian masyarakat
3.      Memperkuat kesataun dan persatuan.
4.      Mempercepat kemajuan bangsa.
5.      Kehidupan menjadi berkah
6.      Terhindar dari penyakit HIV
7.      Memudahkan ampunan dan pertolongan Allah SWT
O.     KONSEP YANG DIHARAMKAN DALAM ISLAM
a.      Konsep rahbaniyah, Perkataan rahbaniyah bermasud kerahiban atau kependetaan, atau kehidupan paderi
b.      Konsep ibahiyah, Istilah ibahiyah diambil dari perkataan yang bermaksud membolehkan. Selain itu, ibahiyah membawa maksud membolehkan atau membebaskan tanpa batas seperti pergaulan seks bebas, homoseksual, lesbian dan sebagainya. Gejala sebegini wujud kerana sikap mereka yang menolak konsep institusi perkahwinan.
·         Pergaulan bebas
·         Amalan seks bebas
·         Homoseksual & Lesbian



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

    Google photo

    You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

    Connecting to %s