Teori Sosiologi Antropologi

Table Teori-Teori Sosiologi dan Antropologi
No
Nama Teori
Pokok Pikiran
Kritik
1
Evolusi Sosial
Memperumakan masyarakat sebagai organisme yang selalu tumbuh secara bertahap sesuai dengan fase-fase perkembangannya
Dalam teori ini mengendung unsure individualisme dimana mereka yang bertahan hidup adalah mereka yang memiliki perlengkapan hisup yang paling baik, hal ini tentunya bertolak belakang dengan hakikat manusia sebagai makhluk social yang saling membutuhkan dan saling tolong-menolong
2
Fungsionalisme Struktural
·         Masyarakat merupakan suatu system yang kompleks yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan dan saling bergantung, dan setiap bagian saling berpengaruh secara signifikan terhadap bagian-bagian yang lainnya.
·         Setiap bagian dari masyarakat memiliki fungsi penting
·         Semua masyarakat memiliki mekanisme diri untuk merekatkan semua menjadi satu kesatuan
·         Masyarakat cenderung mengarah kepada suatu keadaan keseimbangan
·         Perubahan social merupakan kejadian yang tidak biasa dalam masyarakat.
Dalam teori ini tidak disebuatkan bagaimana selayaknya tindakan masyarakat dalam menyatukan masyarakat yang mengalami gangguan luar yang dapat mengoyak kesatuan mereka, namun hanya dikatakan bahwa setiap masyarakat memilki ketergantungan satu sama lain.
3
Fungsional Struktural; Talcott Parsons
System social dapat dianalisa melalui persyaratan-persyaratan fungsional (empat syarat pemenuhan yang terangkum dalam A (adaption)- G (goal attainment)- I (integration) – L (latent pattern maintenance) yang harus dimiliki oleh sebuah struktur masyarakat
Dikatakan dalam teori ini, konsep Latency yang menunjukkan pada berhentinya interaksi, dan pindahnya masyarakat pada system lain bila mengalami keletihan pada system yang mereka anut. Namun, mengapa dalam teroi ini tidak diterangkan apa penyebab mereka keluar dari system dan berpindah dalam system lain, serta system apa saja yang memungkinkan untuk dianut oleh masyarakat?
4
Konflik
Masyarakat merupakan suatu system social yang terdiri dari bagian-bagian yang masing-masing komponennya memiliki kepentingan yang berbeda dan masing-masing berusaha untuk menaklukkan guna memenuhi hasratnya.
Dalam teori ini tampak rasa individualism yang cukup menonjol, hal ini jelas dikatakan pada konsep tersebut bahwa “masing-masing  bagian berusaha untuk menaklukkan guna memenuhi hasratnya”
Dan dalam teori ini tidak dikatakan masyarakat tersebu memiliki satu tujuan kebersamaan agar mereka tidak saling mendahulukan kepentingan pribadi.
5
Kritis
Teori ini merupakan perkembangan dan bagian dari teori konflik, maka pokok pikiran tidak berbeda jauh dengan teori konflik yang mengatakan bahwa masyarakat adalah system social yang terdiri dari bagian-bagian yang masing-masing komponennya memiliki kepentingan yang berbeda dan masing-masing berusaha untuk menaklukkan guna memenuhi hasratnya.
Kritik dalam teori Kritis ini tidak berbeda jauh dengan kritik yang telah kami berikan pada teori konflik, mengingat konsep yang disuguhkan juga tidak jauh berbeda dengan konsep teori konflik.
6
Interaksi Simbolik
Ini adalah sebuah teori yang merupakan sisi lain dari pandangan yang melihat individu sebagai produk yang ditentukan oleh masyarakat
Didalam teori ini, kekurangan tampak pada konsep yang mengfokuskan pada interaksi individu dengan individu lain (dua subjek), tanpa mengangkat permasalahan interaksi individu kepada individu lain (dua atau lebih/masyarakat luas)
7
Interaksi Simbolik; Erving Goffman
Teori ini mengatakan bahwa kehidupan social ini layaknya sebuah seri pertunjukan drama, panggung drama merupakan lokasi kehidupan social berlangsung, drama merupakan kehidupan social itu sendiri, sedangkan aktornya adalah posisi atau status-status tertentu dalam kehidupan masyarakat
Teori ini seharusnya tidak langsung mengvonis bahwa kehidupan social ini layaknya panggung drama, yang memilki actor, panggung dan teks serta alur cerita. Karena kehidupan social tersebut tidak semuanya berjalan sesuai teks atau alur sebagaimana alur drama yang terarah. Namun, dilain waktu banyak kehidupan sosial yang terjadi diluar penalaran dan praduga subjeknya.
8
Struktural Fungsional; Bronislaw K. Malinowski
teori ini lebih condong untuk berbasis antropologi, dimana menjadikan alat-alat aktivitas social ekonomi masyarakat yang masih sederhana sebagai alat untuk mengadakan penelitian, seperti folklore, dongeng rakyat, dll.
Teori ini sangat berpotensi pada kekuurangan dan ketidak efisienan suatu konsep, karena teori ini hanya mengutamakan pada sebuah penelitian yang berdasarkan pada peninggalan manusia zaman dahulu, tanpa menyertakan kondisi real zaman sekarang dan akan datang tentang kondisi social masyarakat.
9
Struktural Fungsional; Radcliffe Brown
Inti konsep ini mengatakan bahwa Kehidupan social merupakan suatu komunitas yang memberi fungsi kepada strukturnya dan fungsi suatu proses kehidupan sosial ini adalah untuk memelihara kehidupan social secara keseluruhan.
Dalam teori ini pula dikenal istilah “struktur social”, dimana hanya dapat dilihat dan diamati dalam kenyataan yang konkrit dan dapat diamati secara langsung dengan kasat mata, karena system ini terdiri dari dua hal, antara lain: (1) hubungan social yang terjadi antar individu dengan yang lainnya, dan (2) adanya perbedaan antar setiap individu.
Kritik yang pantas diberikan untuk konsep ini adalah kebalikan dari teori “Bronislaw K. Malikowski’ yang terlalu berkiblat pada peninggalan masa lalu. Dalam teori ini penelitian dilakukan berdasar pada kondisi sekarang dan hanya diamati secara konkrit pada hal yang tampak kasat mata, padahal seharusnya kehidupan social juga dapat dicermati tidak melalui hal yang tampak langsung. Karena tidak jarang, sekarang kehidupan social selalu saja bersandar pada kepentingan-kepentingan politik tanpa mendahulukan kepentingan social masyarakat.
10
Sosial Kritis dalam Pendidikan
Teori ini mengatakan bahwa pendidikan itu yang membuat penindasan dan penyebabnya menjadi objek refleksi kaum tertindas, dan dari refleksi itulah akan lahir pembebasan. Teori ini membangkitkan kesadaran masyarakat “tertindas” untuk peduli dan kritis terhadap semua persoalan yang terjadi dilingkungan mereka, layaknya masalah kemiskinan, eksploitasi penguasa atas masyarakat, dll.
Sebuah kritik untuk teori ini yakni mengapa kata “pendidikan yang membuat sebuah penindasan, dan penindasan yang menyebabkan adanya kebebasan” dicantumkan? Padahal dengan pendidikan akan melahirkan jiwa-jiwa yang bebas dalam berfikir untuk mencapai sebuah kegemilangan hidup. Mungkin kata diatas dapat ditafsir dan difahami dengan benar menurut para ahli dan bagi orang-orang yang memilki kemampuan dalam penafsiran kata diatas, lalu bagaimana dengan tingkat pemahaman para kaum yang tidak berpendidikan, pastilah mereka memaknai kata diatas secara kontekstual tanpa memandang makna lain dari kata tersebut. Hal ini tentunya akan berefek negative, jika mereka (kaum tertinggal) memaknai bahwa pendidikan sumber penindasan, yang membuat mereka akhirnya menjadi semakin menjauh dan tidak mau mendekati pendidikan. Karena mereka hanya feham makna negative tanpa mengerti nilai-nilai yang jauh lebih mulia dari sebuah pendidikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s