PERKEMBANGAN PENDIDIKAN INDONESIA

Roda perkembangan pendidikan di Indonesia dalam sejarahnya memiliki suatu rute yang yang cukup panjang yang menjadikan suatu sejarah tersendiri bagi pendidikan di Negara ini, selama perjalanan sejarah pendidikan tersebut masing-masing terbagi menjadi beberapa episode, dan hampir setiap episode yang dijalankan menggunakan Undang-Undang yang berbeda-beda sesuai masanya. Pada kali ini, kita akan fokuskan untuk mengupas sejarah perkembangan pendidikan Indonesia mulai awal kemerdekaan sampai sekarang. Undang-undang yang digunakan antara lain:
a.      Undang-Undang Dasar 1945 bab XIII pasal 31 sebagai landasan konstitusional, tentang hak warga Negara untuk mendapatkan pengajaran dan pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu system pengajaran nasional yang ditetapkan dengan Undang-Undang.
b.      Undang-undang Pendidikan No. 04 Tahun 1950 sebagai Landasan Idiil, undang-undang ini menerangkan bahwa tujuan membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.
c.       Undang-Undang Republik Indonesia No. 02 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam Undang-Undang ini dikatakan bahwa Tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memilki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasamani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
d.      Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Tujuan Nasional Pendidikan adalah terwujudnya system pendidikan sebagai pranata social yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
e.      Undang-Undang Pendidikan Nasional No. 31 Tahun 2010 tentang Pendidikan Karakter sebagai penyempurnaan pendidikan yang ditargetkan dalam Kurikulum Tingkat  Satuan Pendidikan (KTSP).
Berdasarkan pedoman Perundang-undangan yang telah dibuat diatas, maka pemerintah mengadakan proses pendidikan melalui berbagai macam kurikulum yang berbeda pula dan selalu mengalami pergantian sebagai usaha penyempurnaan, klasifikasi kurikulum Pendidikan Indonesia antara lain:
1.      Kurikulum Tahun 1947 (Rentjana Pelajaran)
Kurikulum ini merupakan kurikulum pertama yang diberlakukan setelah Kemerdekaan Indonesia, sehingga kurikulum ini masih dipengaruhi oleh system pendidikan colonial Belanda dan Jepang. Sebagai pemula tentunya masih sangat banyak kekurangan yang ditemukan didalamnya, sehingga penerbitan UU. No 04 Tahun 1950 dijadikan dasar untuk melakukan perubahan dan penyempurnaan atas segala kekurangan. Pada tahun ini, belum dikenal istilah kurikulum, melainkan istilah Rentjana Pelajaran yang digunakan. Kemudian, Ciri-ciri dari Rencana Pelajaran 1947 ini sebagai model pembelajarnnya antara lain: (a) sifat kurikulum Separated Subject Curriculum (1946-1947), (b) menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah, (c) jumlah mata pelajaran : Sekolah Rakyat (SR) – 16 bidang studi, SMP-17 bidang studi dan SMA jurusan B-19 bidang studi, dan d) materi pendidikan dan pengajaran : Mr. Soewandi.
Kelebihan yang tampak menonjol dapat dilihat melalui model pembelajaran yang diterapkan, salah satunya proses pembelajaran telah menggunakan Bahasa Indonesia resmi secara keseluruhan dalam proses pendidikan. Sekalipun masih banyak mengadopsi konsep pendidikan penjajah, namun sudah bernilai lebih untuk suatu kurikulum pemula. Sedangkan kekurangan yang dimiliki Rencana Pembelajaran ini secara umum tampak pada pengonsepan model pembelajaran yang masih menggunakan system pendidikan colonial Belanda dan Jepang dan belum mampu berdiri sendiri.
Solusi yang paling tepat untuk pemula tentunya harus segera memposisikan diri sebagai Negara yang telah merdeka dan harus segera menemukan jati diri dalam system pendidikan yang mandiri tanpa harus mengikuti peninggalan penjajah, sekalipun hal ini memerlukan waktu yang tidak singkat dan mungkin melalui proses kegagalan pengambilan keputusan dahulu sebagai bentuk koreksi kekurangannya.
2.      Kurikulum Tahun 1952 (Rentjana Pelajaran)
Kurikulum kedua ini merupakan proses penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya, tentunya pencapaian tujuan yang berdasar pada UU. No 04 Tahun 1950. Pada kurikulum ini mata pelajaran lebih diperinci yang dikenal dengan Rencana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini berciri khaskan tentang system pendidikan yang sudah mulai menasionalis serta disetiap rencana pelajaran yang harus memperhatikan ialah isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
Kelebihan Rencana Pelajaran ini adalah terletak pada mulai tampaknya warna nasionalis pada penyusunan system, sehingga dapat menambahkan semangat nasionalisme bagi seluruh subjek dan objek yang dikenai kurikulum ini. Selain itu, mata pelajaran yang diberikan sudah mulai mempertimbangkan tingkat kemanfa’atannya, sehingga isi pelajaran sudah dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Namun, terdapat pula kekurangan dalam masih kurangnya penyempurnaan target insane Indonesia yang berkompetensi tinggi, karena kurikulum ini masih bertargetkan pendidikan sangat mendasar (calistung). Dan solusi yang tepat, masih hampir serupa dengan solusi sebelumnya, agar selalu koreksi system sehingga Indonesia akan tetap terjaga kemerdekaannya.
3.      Kurikulum Tahun 1964 (Rentjana Pendidikan)
Rencana pendidikan ini juga masih merupakan penyempurnaan dari rencana pelajaran sebelumnya, dalam rencana ini, pemerintah menfokuskan pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana). Mata pelajarannya pun telah diklasifikasikan dalam menjadi lima kelompok bidang studi, diantaranya: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan Jasmani. Inti dari rencana pendidikan ini bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik, 2004) tersebut.
Kelebihan rencana pendidikan ini terletak pada titik penyempurnaan system sebelumnya, dimana terdapat pancawardhana yang lebih membekali siswa dasar sebagai ilmu inti kebutuhan hidup. Sebagai antisipasi positif bilamana mereka tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sedangkan kekurangan ditemukan pada masih rendahnya perhatian system ini pada jiwa kepancasilaan dan iptek yang sudah mulai berkembang di Negara-negara lain. Kemudian solusinya, juga masih tetap sama dengan sebelumnya, harus senantiasa mengintrospeksi hasil system yang digunakan dan dipertimbangkan sebelum diadakan perubahan system baru.
4.      Kurikulum Tahun 1968
Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.
Kelebihan kurikulum ini terletak pada penambahan tujuan pendidikan dalam mencetak jiwa pancasila sejati dan peningkatan kecerdasan dan keterampilan yang memang sudah ditargetkan pada kurikulum sebelumnya. Sedangkan kekurangannya pun masih ditemukan, yakni belum terfokuskan pada seluruh tujuan pencapaian yang dicantunkan pada UU. No.04 tahun 1950. Dan solusi yang tepat sebagai penyempurnaan yakni kembali berorientasikan pada dasar pijakan yang memang masih berlaku resmi dan belum dirubah.
5.      Kurikulum Tahun 1975
Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 ini memiliki beberapa perbedaan yang cukup signifikan dalam model pembelajarannya, diantaranya:
·         Berorientasi pada tujuan (UU. No.04 tahun 1950),
·         Menganut pendekatan integrative (setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integrative),
·         Penjurusan di SMA dibagi atas 3 yaitu : jurusan IPA, IPS dan Bahasa
·         Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu, dan
·         Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), serta
·         Dipengaruhinya psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (drill).
Beberapa ciri khas kurikulum ini menjadikan suatu kelebihan tersendiri yang dimiliki sehingga mampu bertahan hingga hampir kurun waktu sepuluh tahun, karena hampir seluruh ciri-ciri diatas merupakan hasil penyempurnaan yang belum ditemukan sebelumnya. Sedangkan kekurangan ditemukan hanya berjumlah minimum saja, yakni terletak pada terlalu terperincinya tujuan setiap mata pelajaran khusus yang harus dicapai, hal ini sedikit membuat guru dan siswa mengalami penekanan dalam usaha pencapaian yang diharuskan. Dalam hal ini, tampak usaha pendidikan lebih didominasi guru dan siswa menjadi kurang aktif karena metode yang digunakan masih system berceramah, yang guru menjelaskan siswa hanya mendengarkan saja. Kemudian solusinya, harus tetap diintrospeksi hasil kurikulum setiap tahunnya serta disimpulkan kekurangannya, dan digunakan sebagai bahan acuan pertimbangan guna menyusun kurikulum baru.
6.      Kurikulum Tahun 1984
Kurikulum ini merupakan kurikulum revisi dan penyempurnaan dari kurikulum 1975 yang dianggap sudah out of date, setelah melalui pertimbangan yang panjang. Beberapa model pembelajarannya antara lain:
·         Berorientasi kepada tujuan instruksional (target pencapaian siswa),
·         Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA), yang memberi kesempatan penuh pada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.
·         Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan spiral (pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran dan sesuai tingkatan siswa)
·         Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan serta Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa,
·         Menggunakan pendekatan keterampilan proses. (memberi tekanan kepada proses pembentukkan keterampilan, memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan perolehannya)
Beberapa kelebihan yang ditemukan terletak pada penyempurnaan model pembelajaran yang digunakan, diantaranya: dilakukannya pendekatan spiral, pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CSBA), pendekatan keterampilan proses, target pemahaman pelajaran seutuhnya sesuai kondisi siswa, dan berorientasi kepada tujuan instruksional. Selain beberapa kelebihan yang dimiliki, masih saja ditemukan beberapa kekurangan dimana belum dapat tercapainya seluruh target karena pengamalan berbagai elemen pendidikan yang belum semuanya berdasar pada model pembelajaran diatas, selain itu proses sosialisi pemerintah pusat pun dinilai kurang untuk memahamkan guru dalam pengamalannya. Dan penyempurnaan sosialisi kedaerah-daerah sekaligus sebagai wadah untuk mendengarkan suara rakyat mungkin dapat dijadikan solusi yang tepat, agar system yang telah dirancang begitu baik tersebut tidak sia-sia belaka, melainkan mampu diimplementisan sesuai prosedur dan mampu mencapai target yang gemilang.
7.      Kurikulum Tahun 1994
Kurikulum ini dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Model pembelajaran yang digunakan ialah salah satunya perubahan sistem pembagian waktu pelajaran (perubahan dari sistem semester ke sistem caturwulan), kemudian Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi) dan pendekatan penguasaan materi (content oriented).
Kurikulum penyempurnaan ini sangatlah diharapkan dapat menjembatani berbagai macam problemetika dan kejanggalan system pendidikan di Indonesia. Beberapa kelebihan yang mampu digapai terletak pada model penyusunan pelajaran yang lebih padat dan terperinci, hal ini membuktikan betapa Indonesia siap melek iptek dan siap untuk menjawab tantangan zaman yang akan begitu kompleks dengan klasifikasi mata pelajaran yang beraneka ragam tersebut, sehingga diharapkan mempu melahirkan tenaga ahli sesuai klasifikasi masing-masing.
Namun dilain sisi, terdapat pula banyak kekurangan yang ditemukan, salah satunya terletak pada terlalu padatnya aspek yang dikedepankan, sehingga sangat membebani siswa yang berpengaruh pada merosotnya semangat belajar siswa dan menyebabkan mereka enggan belajar lama di sekolah, sehingga mutu pendidikan pun semakin terpuruk. Jika sejak awal siswa dicemaskan dengan mata pelajaran yang menjadi momok di sekolah, maka mereka akan menjadi bosan dan kegiatan belajar mengajar menjadi menyebalkan. Selain itu, kekurangan lain yakni masih diberlakukannya system pengajaran satu arah, dimana murid tidak diberikan banyak waktu untuk berekspresia mengingat guru diharuskan mencapai target dengan menggunakan alokasi waktu yang cukup singkat.
Solusi yang perlu dikembangkan mungkin terletak pada usaha penghapusan kekurangan yang dianggap momok dari kegagalan system pendidikan tersebut, baik masalah padatnya pelajaran maupun system satu arah diatas. Dan segera digantikan pada penyempurnaan system yang baru.
8.      Kurikulum Tahun 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi)
Kurikulum ini merupakan nafas baru di dunia pendidikan sekaligus sebagai hasil usaha penyempurnaan program jangka panjang sepuluh tahun, kurikulum ini juga sebagai buah implementasi dari UU. No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kurikulum ini diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Model pembelajaranya lebih menitikberatkan pada pengembangan kemampuan untuk melakukan (kompetensi) tugas-tugas tertentu sesuai dengan standar performance yang telah ditetapkan. Tentunya pemilihan kompetensi siswa selayaknya berorientasi pada pemilihan kompetensi yang sesuai, spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi dan pengembangan sistem pembelajaran. Dapat disebutkan bahwa Inti dari KBK atau kurikulum 2004 adalah terletak pada empat aspek utama, yaitu : 1) kurikulum dan hasil belajar, 2) pengelolaan kurikulum berbasis sekolah, 3) kegiatan belajar mengajar, dan 4) evaluasi dengan penilaian berbasis kelas. Kurikulum ini digunakan hanya sampai tahun 2006 saja, karena dipandang perlu diadakannya penyempurnaan sesuai kondisi dan pencapaian selama dua tahun digunakan.
Pembaharuan model pembelajaran KBK ini dapat dijadikan kelebihan khusus yang dimiliki, salah satunya sudah diterapkannya system interaksi dua arah antara guru dan murid, bahkan murid dituntut menjadi pusat pembelajaran pada system ini yang merupakan kebalikan dari system sebelumnya. Selain itu system ini berpusat pada siswa dan menggunakan pendekatan menyeluruh dan kemitraan, serta mengutamakan proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning atau CTL) yang hal ini mejadikan titik kelebihan bagi KBK yang belum ada sebelumnya.
Dilain pihak, sisi kekurangan pun tampak pada kesamarataan objek siswa yang digunakan, belum diadakannya spesifikasi antara pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Karena tidak mungkin tingkat kompetensi ketiga tingkatan siswa tersebut disamaratakan, ditinjau dari segi usia didik, mungkin siswa SMA sudah mampu berkompetensi mandiri dengan sedikit bimbingan, namun bagaimana dengan siswa TK, SD, ataupun SMP.
Sehingga muncul solusi yang dapat dikembangkan, dimana harus diadakannya pengklasifikasian antara ketiga tingkatan tersebut dengan tetap mengacu pada system Kompetensi siswa, pertimbangan ini yang melahirkan penyempurnaan system selanjutnya pada tahun 2006, yakni Sistem Tingkat Satuan Pendidikan.
9.      Kurikulum Tahun 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ini merupakan kurikulum operasional pendidikan yang disusun dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan yang berlaku dewasa ini di Indonesia. Pada KTSP ini Terdapat perbedaan mendasar dengan kurikulum berbasis kompetensi sebelumnya (2004) dan kurikulum sebelumnya, yakni pada system pengembangannya, perubahan system sentralistik (terpusat) menjadi system desentalistik (daerah) bahwa sekolah diberi kewenangan penuh menyusun rencana pendidikannya dengan mengacu pada standar-standar yang telah ditetapkan, mulai dari tujuan, visi – misi, struktur dan muatan kurikulum, beban belajar, kalender pendidikan, hingga pengembangan silabusnya.
Sisi kelebihan pada KTSP ini terletak pada system desentralistik yang dinilai lebih mampu untuk mendiagnosa kekurangan daerah masing-masing dengan cepat, dan system pengklasifikasian pada setiap satuan pendidikan yang berbeda-beda, hal ini tentunya lebih memudahkan proses penyusunan model pembelajaran sesuai konsumen (siswa). KTSP ini merupakan penyempurnaan akhir yang sedang berlaku saat ini, semoga keberadaannya mampu mencapai tujuan pendidikan seutuhnya.
Namun, masih pula ditemukan kekurangan yang sebenarnya minim disebabkan karena kurikulum yang diberlakukan, akan tetapi kekurangan lebih condong disebabkan pada proses pengamalan konsep kurikulum yang sudah disetting sebaik mungkin tersebut, dan penyimpangan-penyimpangan subjeknya sendiri.
Dan solusi yang paling tepat, selayaknya pemerintah sebagai tokoh utama pembuat kebijakan kurikulum hendaknya menjalankan kurikulum ini dengan pengawasan ganda, yakni pengawasan pelaksanaan kurikulum pada seluruh jenjang satuan pendidikan agar berjalan sesuai prosedur, dan pengawasan ekstra pada penegak kurikulum itu sendiri mengingat banyaknya penyimpangan yang muncul. Jika hal ini tercapai, maka proses pendidikan di Indonesia dapat diprediksi akan jauh lebih baik, sehingga pada tahun mendatang tidak perlu diadakan pengubahan total yang dapat membingungkan subjeknya, namun cukup diberikan tambahan sebagai proses penyempurnaan.
KESIMPULAN
Serentetan kisah Perjalanan pendidikan dan kurikulumnya sepanjang sejarah bangsa Indonesia merdeka diatas, jelas menunjukkan betapa pelaksanaan kebijakan pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan proses uji coba kebijakan tersebut, sehingga berefek pada mudahnya pemerintah merubah dan mengganti suatu kurikulum pendidikan, sekalipun belum cukup berjalan lima tahun atau bahkan sepuluh tahun, namun telah direnovani dan diganti dengan yang baru. Padahal, tidak seharusnya kurikulum lekas diubah sebelum memastikan melalui pengecekan dan penelitian yang konkrit sehingga tidak membingungkan subjek yang berada didalamnya. Sekalipun memang satu tujuan mulia pemerintah untuk menggapai puncak kesempurnaan system pendidikan Indonesia, namun pasti terdapat langkah-langkah yang lebih koefisien lagi yang perlu dipertimbangkan agar tujuan tersebut dapat tercapai baik, bukan malah sebaliknya yang rusak dan tidak koofisien karena seringnya perubahan system yang dilakukan.
Dilain sisi, dapat kami simpulkan bahwa pemerintah telah berusaha sebaik mungkin untuk memberikan yang terbaik untuk pendidikan Indonesia. Hal ini tampak pada semangat pemerintah dalam pengolahan kurikulum sehingga terjadi pergantian kurikulum yang begitu sering.
SARAN
Setelah mempelajari beberapa titik kelemahan dan kekurangan selama berjalannya roda system pendidikan Indonesia, maka kami menitipkan beberapa saran dan harapan agar system pendidikan menjadi lebih excellent, yakni:
·         Pemerintah hendaknya melakukan pertimbangan dan penelitian panjang sebelum melakukan penggantian kurikulum,
·         Sebelum kurikulum baru ditetapkan, hendaknya seluruh guru dan subjek didalamnya harus dipandu untuk memahami hakekat mengapa kurikulum tersebut digunakan.
·         Sosialisasi menggunakan media (teks, surat kabar, elektronik, internet, dll) tentang seluruh isi dan penjelasan kurikulum tersebut yang diterjunkan ke masing-masing daerah,
·         Guru harus diyakinkan agar dapat menerima kurikulum baru yang akan diberlakukan, begitu pula sebaliknya guru harus bersikap terbuka karena mereka adalah salah satu subjek vital dalam dunia pendidikan.
·         Pengawasan ganda, yakni pengawasan jalannya kurikulum dan pengawasan subjek yang ada didalamnya (pemerintah ataupun guru)
·         Penyusunan kurikulum diutamakan sesuai tujuan nasional pendidikan, terutama pendidikan karakter anak bangsa, kemudian pendidikan IPTEK dan keterampilan.
·         Pendidikan lebih dispesifikasikan bilamana telah mencapai pada tingkat pendidikan tinggi, sebagai usaha persiapan tenaga ahli.
Referensi:
§  Roesminingsih. MV. Prof. Dr. M.Pd. dan Lamijan H. S. Drs. M.Pd, 2004, Teori dan Praktek Pendidikan, LPPIP FIP UNESA, Surabaya







Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s