FUNGSI-FUNGSI MANAJEMEN KURIKULUM

Perubahan segala tatanan kehidupan berkenegaraan yang mencakup tatanan kebudayaan dan social politik di Negara ini telah berimbas pada segala tatanan kehidupan bangsa. Khususnya mengenai permasalahan sentralisasi pemerintahan yang telah berganti menjadi desentralisasi pemerintahan seperti yang dipaparkan dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.
Perubahan Sentralisasi tersebut ternyata berimbas pula pada dunia Pendidikan Nasional, yang titik pentingnya akan berpusat pada perubahan kurikulum juga. Hal ini berlandaskan pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Di lain hal, dalam UU ini pasal 36 ayat (1) juga telah mendiskripsikan tentang desentralisasi kurikulum, ayat ini menyebutkan bahwa “pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”.
A.     PERENCANAAN KURIKULUM
1.      Pengertian
Merupakan perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksud untuk membina siswa kearah perubahan tingkah laku yang didinginkan dan  menilai sampai mana perubahan-perubahan telah terjadi pada diri siswa. Perencanaan ini mencakup pengumpulan, pembentukan, sintesis, dan menyeleksi informasi yang relevan dari berbagai sumber. Kemudian informasi yang didapat digunakan untuk mendesain pengalaman belajar sehingga siswa dapat memperoleh tujuan kurikulum yang diharapkan.
2.      Perumusan Tujuan Kurikulum
Tujuan kurikulum memiliki tiga istilah yakni Aims, Goals dan Objektives. Aims merupakan rumusan yang menggambarkan outcomes yang diharapkan berdasarkan beberapa skema nilai yang diambil dari kaidah-kaidah filosofis. Aims tidak berhubungan langsung terhadap tujuan sekolah dan tujuan pembelajaran. Dan Goalsmerupakan outcomes sekolah yang dapat dirumuskan secara institusional oleh sekolah atau jenjang pendidikan tertentu sebagai suatu system. Kemudian Objectives adalah outcomes yang diharapkan dapat tercapai dalam waktu pendek, segera setelah proses pembelajaran dan dapat dinilai setidaknya secara teoritis dalam jangka wantu tertentu.
Sumber yang mendasari perumusan tujuan kurikulum ini yakni sumber empiris, sumber filosofis dan sumber bahan pembelajaran.
3.      Landasan Perencanaan Kurikulum
Perencanaan kurikulum selalu berdasar atas informasi dan data hasil observasi pada beberapa area utama, yakni kekuatan social masyarakat, perlakuan pengetahuan (tingkat keaktifan dalam menemukan dan mengembangkan pengetahuan), dan pertumbuhan dan perkembangan manusia.
4.      Perumusan Isi Kurikulum
Isi kurikulum merupakan segala pengetahuan, skill dan process, dan nilai yang terkandung di dalamnya (Hyman). Perumusan isi kurikulum hendaknya mengedepankan aspek kegunaan pada peserta didik dan kesiapan kurikulum yang perfect untuk dipelajari siswa. selain itu, harus pula dipertimbangkan ruang lingkup dari isi kurikulum yang berbeda, antara ruang lingkup umum (untuk seluruh siswa tanpa ada perbedaan) dan ruang lingkup khusus (bagi siswa istimewa, baik karena memiliki kebutuhan khusus maupun kecerdasan di atas rata-rata). Sedangkan, mengenai metode pengurutan dalam penyusunan isi kurikulum ini. Para ilmuwan berpendapat bahwa terdapat banyak cara tergantung dari sisi mana melihatnya. Namun beberapa tokoh mengidentifikasikan bahwa ada empat prinsip yang mendasari cara penyajian urutan materi dalam kurikulum, yakni dari sederhana menuju kompleks, pelajaran prasyarat, secara keseluruhan dan kronologis/kejadian.
5.      Design Kurikulum
Terlalu banyak peredaan klasifikasi dari desain kurikulum ini sekalipun ada pula beberapa titik kesamaan. Namun, kali ini kita akan mengangkat model perencanaan kurikulum menurut John D. McNeil yang terbagi atas:
a.      Kurikulum Humanistic
Sisi negative yang sering disoroti yakni ketika kurikulum ini lebih menekankan pada penguasaan akademik yang seolah-olah tampak memaksa peserta didik.  Namun, point positifnya dapat kita lihat pada tujuannya agar peserta sisik mampu menemukan jati diri secara naluriah dengan bimbingan dan arahan dari guru yang bertindak sebagai fasilitator dan mediator. Kurikulum ini bersifat terpadu antara aspek-aspek participation, integration, relevan, self maupun goal.
b.      Kurikulum Sistemik
Kurikulum telah banyak diterapkan pada berbagai pelatihan layaknya pelatihan kepolisian, militer ataupun industry. Kurikulum ini bersandar pada konsep tujuan terpadu, artinya seluruh kurikulum yang dianut akan berjalan sebagai suatu system mulai input, proses hingga outcome/output-nya harus memiliki kesinambungan, keselarasan dan aspek akuntabilitas. Kurikulum ini menuntut agar pembelajaran dapat menghasilkan keahlian pengetahuan tertentu dan memperhatikan kebutuhan siswa serta lapangansekarang maupun akan datang.
c.       Kurikulum Akademik
Kurikulum ini menganut pola fikir bahwa sebenarnya fungsi sekolah pada dasarnya untuk mengembangkan kemampuan berfikir anak. Model ini dikembangkan oleh para ahli sesuai dnengan disiplim ilmu masing-masing. Mereka menyusun segala pelajaran yang harus dikuasai siswa sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing dan juga sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.
John D. Mc Neil (2006:63) juga menguraikan pandangannya bahwa kurikulum ini sebagai cermin dari trend budaya sekarang yang sangat meluas, dimana meletakkan ekonomi sebagai inti dan ilmu pengetahuan sebagai komoditas. Juga kurikulum ini lebih menekankan pada aspek keahlian dan kommpetensi serta stansard penampilan. Artinya memang kurikulum ini menuntut tercapainya tujuan melalui serentetan proses yang sempurna pula, agar dapat memenuhi tantangan zaman yang begitu kompleks.
B.      ORGANISASI KURIKULUM
Setiap kurikulum harus memuat pernyataan tujuan, menunjukkan pemilihan dan pengorganisasian bahan pelajaran serta rancangan penilaian hasil belajar (Hilda Taba, 1962). Organisasi kurikulum ini sendiri dibutuhkan dalam rangka pengembangan pendidikan, sehingga hal ini perlu difahami oleh seluruh pihak agar pendidikan berjalan lebih terorganisir dan beorientasi pada tujuan. Makna dari organisasi kurikulum tersebut merupakan pola bahan kurikulum yang tujuannyamempermudah siwa dalam melakukan kegiatan belajar sehingga tujuan pembelajran dapat tercapai secara efektif. Secara umum terdapat dua macam organisasi kurikulum, diantaranya:
1.      Kurikulum Berdasarkan Mata Pelajaran
a. Mata pelajaran terpisah-pisah
Model ini telah lama digunakan dan tergolong mudah lagi sederhana. Namun kemudahan tersebut bukanlah suatu jaminan untuk kesuksesan kurikulum yang dianut. Karena bagaimanapun secara fungsional, kurikulum ini tetap memiliki nilai plus dan min tersendiri. Positifnya antara lain bahan ajar disusun secara sistematis dan sederhana, kurikulum mudah diubah dan dikembangkan serta mudah dibentuk sesuai keinginan. Sedangkan sisi negative tampak pada proses KBM yang menjadikan guru lebih aktif dan siswa lebih pasif, bahan ajar tidak bersifat actual karena berupa informasi maupun pengetahuan serta proses dan bahan pengajaran sangat kurang memperhatikan bakat, minat dan kebutuhan siswa.
b.      Mata pelajaran terpadu
Model ini pun sudah sangat melekat dalam lingkungan pendidikan kita. Penyatuan IPS dari pelajaran geografi, sejarah, dst menjadi salah satu bukti perpaduan mata pelajaran. Model ini pun memiliki titik kekurangan dan kelebihan tersendiri. Kelebihan tersebut terwujud dalam pemberian wawasan yang lebih luas, menanbah minat siswa dan bahan ajar bersifat korelasi walau sebatas beberapa mata pelajaran. Sedangkan kekurangannya terletak pada kurang sistematisnya bahan pelajaran, kurang actual, kurang memperhatikan bakat dan minat serta kebutuhan siswa, dan lebih tampak abstrak bila siswa belum mampu menangkap pelajaran.
2.      Kurikulum Terpadu
         Kurikulum ini cenderung lebih memandang bahwa dalam suatu pokok bahasan harus terpadu secara keseluruhan. Keterpaduan ini dapat dicapai melalui pemusatan pelajaran pada satu masalah tertentu dengan alternative pemecahan melalui berbagai disiplin ilmu atau mata pelajaran yang diperlukan sehhinga batas-batas antara mata pelajaran dapat ditiadakan. System penilaian yang dikembangkan dalam kurikulum ini pun cenderung lebih komprehensif dan terpadu karena penilain dilakukan selama proses hingga akhir pembelajaran. Selain itu, dalam penerapan kurikulum ini guru juga dituntut untuk memiliki kemampuan mengimplementasikan berbagai strategi belajar mengajar yang sesuai dengan karakteristik kurikulum tersebut. pembelajaran yang mungkin banyak digunakan seperti pemecahan masalah, metode prayek, pengajaran unit, inkuiri, discovery dan pendekatan tematik yang dilakukan dalam pembelajaran kelompok maupun perorangan.
         Model ini pun tetap memiliki kekurangan dan kelebihan, kekurangannya antara lain:
·   Membutuhkan banyak equipment dalam proses seleksi masuk,
·   Kurikulum tidak memiliki urutan logis dan sistematis,
·   Membutuhkan waktu yang banyak untuk kebutuhan siswa,
·   Guru belum memenuhi kemempuan implementasi kurikulum ini, dan
·   Public (masyarakat, orang tua dan siswa) belum terbiasa dengan model ini.
      Sedangkan kelebihan yang dimiliki antara lain:
·   Metode pembelajaran yang kompleks dan mudah diingat pada siswa,
·   Mengutamakan bakat, minat dan potensi siswa,
·   Menerapkan nilai demokrasi dalam belajar,
·   Meningkatkan hubungan sekolah dan masyarakat,
·   Dll.
C.      IMPLEMENTASI KURIKULUM
1.      Konsep Implementasi Kurikulum
Pada dasarnya keberhasilan dalam pengimplementasian segala konsep, prinsip dan aspek-aspek kurikulum tergantung pada kemampuan seorang guru yang bertindak sebagai implementator kurikulum ini. Pengamalan ini dapat dilakukan dalam proses belajar mengajar di dalam ruangan kelas, karena ini akan dijadikan tempat untukmelaksanakan sekaligus menguji kurikulum. Menurut Hasan (1984:12) ada beberapa factor yang dapat mempengaruhi pengimplementasian kurikulum, diantaranya: karakteristik kurikulum, strategi implementasi, karakteristik penilaian, pengetahuan guru tentang kurikulum, sikap responden terhadap kurikulum dan keterampilan untuk mengarahkan.
Konsep implementasi dan praktek implementasi sendiri tersebut hendaknya memiliki kesinambungan yang baik dengan perencanan yang ada. Karena sebagus apapun desain atau rencana kurikulum yang dimiliki, tetapi akan sangat bertumpu pada sosok guru sebagai implementator.
Berkaitan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), konsep kurikulum ini lebih berorientasi pada kehidupan dan alam kerja, yang merupakan perubahan dari kurikulum yang berorientasi pada pengembangan kepribadian saja.
2.      Kemampuan Guru dalam Implementasi Kurikulum
Beberapa klasifikasi kemempuan guru dalam pengimplementasian kurikulum, antara lain:
a.      Pemahaman esensi dari tujuan kurikulum,
b.      Kemampuan dalam penjabaran kurikulum umum menjadi lebih spesifik dalam prakteknya,
c.       Kemampuan dalam menerjemahkan tujuan khusus dalam prakter pengajaran,
Bagi guru yang belum mencapai target kemampuan di atas, telah disiapkan kegiatan diskusi-diskusi, MGMP, simulasi, atapun kegiatan loka karya, pelatihan, dst. Yang menjadi acuan untuk selalu meningkatkan kwalitas seluruh tenaga pengajar.
Beberapa kendala yang sering ditemui dalam pengimplementasian kurikulum antara lain: (1) lemahnya diagnose kebutuhan pendidikan, (2) perumusan kompetensi yang kurang akurat, (3) pemilihan pengalaman belajar yang dikembangkan, dan (4) evaluasi yang kurang sesuai tujuan.
3.      Model Implementasi Kurikulum
Miller dan Seller (1985: 249-250) menggolongkan model ini ke dalam tiga macam, antara lain:
a.      The Concerns-Based Adaption Model (CBAM)
Model ini merupakan deskriptif yang dikembangkan melalui pengidentifikasian tingkat kepedulian guru terhadap suatu inovasi pendidikan.
b.      Model Leithwood
Inti dari model ini mengfokuskan pada guru, yang mana memperbolehkan guru dan pengembang kurikulum untuk mengembanngkan profil yang merupakan hambatan untuk perubahan dan bagaimana para guru mampu mengatasi permasalahan tersebut.
c.       Model TORI
Model ini menjadi solusi penerang bagi guru dan masyarakat. Mengingat model ini berfokus pada perubahan personal (guru) dan perubahan social masyarakat). Melalui model ini diharapkan mampu menumbuhkan semangat perubahan menjawab tantangan zaman yang perlu diberantas menggunakan tekad kebersamaan antara seluruh penanggung jawab kurikulum.
Selain ketiga model di atas, masih ada beberapa pendapat ahli mengenai pengelompokan model kurikulum. Salah satunya, menurut Robert S. Zais (1976) dalam bukunya Curriculum Principle and Foundations yang mengemukakan delapan model pengembangan kurikulum, yakni:
a.      Model administrative,
b.      Model grass-root,
c.       Model demonstrasi,
d.      Model bauchamp,
e.      Model Taba,
f.        Model Regers,
g.      Model penelitian tindakan sistematis, dan
h.      Model berdasarkan IPTEK yang sedang berkembang.
Secara garis besar, dapat kita simpulkan bahwa rangkaian kegiatan yang berkenaan dengan fungsi-fungsi manajemen kurikulum antara lain:
1.      Mengelola perencanaan kurikulum
Mengenai perencanaan kita selalu ingat bahwa if you fail to plan, you are planning to fail “jika kau gagal dalam perencanaan, maka kau telah merencanakan kegagalan”. Sehingga segala penanggung jawab kurikulum dituntut harus tepat dan cermat dalam menyusun kurikulum tersebut. karena kurikulum pusat akan menjadi acuan utama bagi pengembangan kurikulum di daerah.
2.      Mengelola implementasi kurikulum
Keberhasilan lapangan selalu dijadikan tolak ukur keberhasilan. Maka implementasi kurikulum yang telah direncanaan pun harus sesuai dengan perencanaannya. Karena sering kali kegagalan bersumber pada ketidaksingkronan antara perencanaan dan pelaksanaannya.
3.      Mengelola pelaksanaan evaluasi kurikulum
Hal ini berdasar atas UU No. 20 tahun 2003 pasal 57 ayat (1) yang berbunyi “evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan”. Juga dibahas dalam pasal (2) yang menyebutkan “evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga dan program pendidikan pada jalur formal dan nonformal untuk semuja jenjang, satuan dan jenis pendidikan”.
4.      Mengelola perumusan penetapan kriteria dan pelaksanaan kenaikan kelas/lulusan
Sebagai antisipasi kesalahan dalam langkah ini, hendaknya kepala sekolah maupun guru mempelajari dan memahami terlebih dahulu mengenai kriteria-kriteria yang harus diterapkan, demi menghasilkan keputusan yang tepat.
5.      Mengelola pengembangan bahan ajar, media pembelajaran dan sumber ajar
Selain guru, media pembelajaran juga menduduki point utama pemicu keberhasilan pendidikan. Begitu juga bahan ajar dan sumber/referensi pengajaran. Jadi, pengembangan dan perluasan bahan, media dan sumber pengajaran akan sangat mendudukung tercapaianya tujuan pendidikan nasional.
6.      Mengelola pengembangan ektrakurikuler dan ko-kurikuler
Keberhasilan suatu kurikulum akan optimal apabila didukung oleh kegiatan ekstrakulikuler dan kokulikuler yang dikelola secara efektif dan professional oleh pihak sekolah. Hal ini bisa diwujudkan melalui layanan Bimbingan konseling ataupun pendidikan di luar mata pelajaran lainnya yang dapat memicu pengembangan bakat, potensi dan minat siswa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s