SEPENGGAL CERITA DARI NEGERI GAJAH PUTIH

Oleh: Ady Setiawan

Pagi itu, (27/7) setelah dua malam mengarungi lautan, Alhamdulillah saya bisa kembali menginjakkan kaki di Bumi Khatulistiwa. Tepat pukul 09.05 WIB, KM. Lawit yang membawa saya beserta ratusan penumpang lainnya berangkat dari pelabuhan Tanjung Mas Semarang dapat berlabuh dengan selamat di pelabuhan Pontianak yang terletak di sungai Kapuas itu. “Selamat Jalan” begitu tertulis di atas gerbang keluar pelabuhan berornamenkan khas borneo itu, di sekitarnya sudah sesak dijejali puluhan kendaraan pengantar dan penjemput. Tidak hanya itu, kami telah disambut oleh beberapa bus lintas kabupaten serta para tukang ojek yang menawarkan jasanya. Saya hendak menuju perwakilan untuk memesan bus dan saat itu saya memutuskan untuk menggunakan jasa ojek. “Bang, nak kemane…?” tanya seorang tukang ojek. “ke perwakilan bus ATS bang” jawab saya, “berapa…?” saya lanjutkan. Serentak dia jawab “dua puluh (ribu rupiah, red) ja bang, harga biasa bang, murah bah itu”. “waduh, tidak lah bang” tangkas saya, dan segera beranjak mencari yang lain. Belum sempat berjalan sepuluh meter, datang tawaran kembali. “nak kemana bang?” tanyanya. Saya pun menjawab dengan pernyataan yang sama, “ke ATS bang, berapa?”. Tanpa fikir panjang dia jawab “lima belas (ribu rupiah, red) ja bang”. Saya berhenti sejenak, “tidak bisa 10 ribu ja bang, dekat itu bah” tawar saya tanpa basa-basi. “wah, tidak bisa bang, sudah murah ini” jawabnya. “baik untuk abang, baik juga untuk saya lah bang” lanjut tukang ojek paruh baya tersebut. Kalimat ini seketika membawa memori saya kembali pada peristiwa beberapa hari silam di negeri Gajah Putih itu.

~ Virus Inggris di Kota Bangkok ~

Hari pertama kami berada di ibukota Negara Thailand, Bangkok, tidak mampu meredam hasrat untuk segera menggunakan kesempatan singkat ini sebaik mungkin, mulai menambah pengalaman dan pengetahuan, pendidikan khususnya hingga tak ketinggalan shoppinguntuk keluarga di Indonesia. Apalagi, kebetulan sekali penginapan kami terletak di jantung kota dan cukup strategis, dekat dengan berbagai tempat-tempat penting seperti kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Thailand, pusat perbelanjaan, akses monorail, wisata sejarah, kampus-kampus ternama seperti Chulalangkhorn dan Mahidol University, hingga pusat kegiatan kaum muslim Bangkok. Beralasan hal tersebut, malam itu (18/7) segera kami nikmati udara kota dihiasi hingar-bingar aktifitas masyarakat serta aktifitas holidaypara turis yang datang dari berbagai belahan dunia. Namun sebelum menjenguk wisata belanja malam, terlebih dulu kami mencari masjid untuk menunaikan shalat maghrib sekaligus memanfaatkan fasilitas berbuka bersama, berdasar saran dari mas Nasrul, salah seorang mahasiswa Indonesia asal Sidoarjo, maka kami memilih berbuka bersama di masjid Darul Anam, salah satu masjid diantara 200-an masjid lain di kota yang mayoritas beragama budha itu. Sehingga tak heran bila di sisi-sisi kota hingga pedesaan sepanjang mata memandang sering kita jumpai patung-patung dewa mereka tempat menyembah. Sebuah masjid yang tampak mungil dari luar namun cukup megah jika kita memasukinya, masjid yang berlantai dua dan hamparan teras yang cukup luas untuk berbuka. Masjid yang berlokasi di jalan Pechbahuri Soi 7 itu hanya berjarak kurang lebih 1 km dari tempat kami bermalam di jalan yang sama, sehingga kami memutuskan untuk berjalan kaki saja sekaligus ngabuburit menanti saat buka tiba. Sesampainya di masjid, kami sempat tercengang melihat masjid yang tidak hanya menyediakan ta’jil saja, tapi juga makan malam prasmanan ala masakan khas Thailand, free bagi para jama’ah. Tentu ini menjadi rejeki tersendiri bagi kami para backpackerdi negeri orang, pada event inilah tak jarang kami bertemu dan berkenalan dengan beberapa mahasiswa Indonesia di sana. “oh, ternyata ini alasan mengapa masjid ini menjadi tujuan favorit jama’ah dari kaum mahasiswa” gumam saya kepada Bang Richo, salah seorang mahasiswa Indonesia asal Samarinda. Sore itu kami menggucap “Alhamdulillah” bersama setelah berjumpa di gerbang keluar, seraya pergi meninggalkan masjid berkubah hijau itu. “berarti besok kita sudah harus stay di sini jam 06.30 ya, kalau mau dapet paket gratisan lagi” ucap Fira (delegasi FIP asal jurusan PGSD), serentak langsung disambut gelagak tawa kami berlima sembari berjalan melanjutkan perjalanan di kota lahirnya ASEAN tersebut.

Setelah takjub melihat aktifitas muslim di Bangkok, kini saatnya kami berkenalan lebih dekat dengan kota metropolitan itu. Sesuai rencana awal, maka kami memutuskan untuk mengunjungi beberapa tempat, tanpa kecuali pusat perbelanjaan yang membandrol harga bersahabat bagi kami. Setelah berjalan sepanjang 1,5 km, akhirnya sampailah kami di depan Platinum mall. Malam itu sengaja kami berjalan selain untuk pengiritan kantong, juga untuk lebih menikmati suasana kota, apalagi telah dijadwalkan hari esok (19/7), kita baru akan mencoba jasa kereta cepat (MRT) seperti yang akan dibuat di ibukota, Jakarta, dan jasa kapal di sungai Chao Phraya yang membelah kota mirip dengan sungai Kapuas. Di depan mall megah itu, kami berhenti sejenak menyempatkan diri melihat sisi kota lebih detail, mulai hiruk-pikuk pejalan kaki, hilir-mudik kendaraan umum, hingga sisi mall dan bangunan pencakar lainnya yang berjejal di salah satu jalan besar dimana terdapat juga kantor The embassy of Indonesia itu. Ucapan syukur tak henti-hentinya keluar dari lisan kami, kota yang dulu hanya kami pelajari di buku SD saja, kini Alhamdulillah kami dapat berpijak di kota itu. “Alhamdulillah ya, FIP (Unesa, red) mengfasilitasi kita bisa go abroadseperti ini” ucap Lala (delegasi FIP asal jurusan PLB) serentak disambut ucapan Alhamdulillah kami berlima. Setelah tercengang cukup lama, “hey, lihat pintunya, sudah tutup loh mall ini” ucapan Teguh (delegasi FIP asal jurusan TP) tiba-tiba datang dan membelokkan konsentrasi kami ke arah pintu mall. Tidak yakin dengan kenyataan, saya mengajak mereka melihat pintu yang lainnya untuk sekedar memastikan. Namun hasilnya nihil, mall telah tutup. Masih tidak percaya hal itu, Fira meyakinkan kembali dengan bertanya pada seorang pedagang, “sawadee kha?” sapa dia. Sebuah salam sapaan tradisi kerajaan Thai yang bermakna hello, diucapkan dengan posisi kedua telapak tangan direkatkan sambil diposisikan diantara janggut dan dada, dengan posisi badan sedikit membungkung, dan kalimat ini biasa diucapkan pada awal perjumpaan. Imbuhan akhiran “kha” bila diucapkan oleh wanita, dan “krap” diucapkan oleh laki-laki. Ilmu “sawadee”ini kami dapat dari seorang Mong (guru religi dalam agama budha, atau lebih dikenal dengan biksu) ketika kami baru tiba di kampus tempat kami belajar, provinsi Khon Kaen yang berjarak 440 km dari ibukota. Pedagang itu mengabarkan kami bahwa mall memang sudah tutup tadi pukul 08.00 dan akan kembali buka besok. Tentu kami merasa kecewa, tapi tidak apalah mungkin masih ada tempat lain yang lebih tepat dan bersahabat. “where do you go?” Tanya seseorang mengagetkan kami, “do you need tuk-tuk..??” lanjutnya. Tuk-tuk adalah salah satu alat transportasi umum yang masih tradisional, memiliki roda tiga dan tidak berdinding kaca, dikendarai menggunakan setir motor layaknya bajaj, hanya tuk-tuk cenderung lebih panjang.  “no, we don’t need it sir” jawab Desi (delegasi FIP asal jurusan PLS), “we wanna go to this market” tambah Linda (delegasi FIP asal jurusan BK) sambil menunjuk ke arah mall yang terletak di belakang kami ini. Tukang Tuk-tuk yang seumuran kami itu menjelaskan “oh, now this mall is closed” ucapnya tegas. Dia menambahkan “this mall just open begin 9 am until 8 pm only guys”. Dalam hati saya tak mampu menyembunyikan rasa kagum kepadanya, betapa mahir dia berucap dengan berbahasa Inggris. Tak mau kehilangan kesempatan, tanpa basa-basi Fira bertanya dimana kami dapat shopping sesuai kebutuhan. Jawaban pertama belum usai diucapkan, satu demi satu kami pun menggerebeknya dengan berbagai pertanyaan untuk menggali informasi lebih tentang kota. Alhasil,  kami memutuskan untuk pergi ke salah satu night market di sepanjang jalan layaknya jalan Malioboro. Menurut informasi, tempat itu berjarak sekitar 20 menitan dari tempat kami sekarang. “how much have us to pay?” celetuk Fira. Singkat jawabannya “just 300 bath for you, each tuk-tuk”. Bath merupakan mata uang Negara Thailand, jika dibandingkan, 1 bath setara dengan 330 rupiah. “hah, so expensive, how about 100 bath” tawar Fira. Lagi-lagi Fira menawar, wajar bila selama ini ia menjadi juru bicara kami karena gaya bicaranya yang renyah dan cepat bak kilat menyambar. Tuk-tuk lazimnya hanya muat ditumpangi oleh tiga orang saja, sehingga kami harus menyewa 2 buah tuk-tuk untuk 6 orang. Tawar punya tawar, kami tetap kukuh dengan 100 bath per-tuk-tuk. Namun dia pun tetap kukuh menjawab “I can’t give you that guys”. “Good for you, Good for me” lanjutnya dengan wajah melas, dan menawarkan kami 300 bath untuk dua tuk-tuk, akhirnya kami pun mengiyakan tawaran itu. Setelah tiba di tujuan, kami mendapati seluruh penjual dipastikan mampu bercakap dengan bahasa Inggris aktif. Sebuah keadaan serupa yang saya jumpai ketika belajar di Kampung Inggris, Pare Kediri setahun yang lalu, tukang ojek pun menawarkan jasanya dengan berbahasa Inggris. Hal ini semakin memantapkan hati saya, betapa pentingnya penguasaan bahasa Inggris untuk menguasai dunia. Sungguh, peristiwa “ojek” cukup menghipnotis fikiran saya berimigrasi dari Pontianak menuju Bangkok, lalu kembali ke Pare, Indonesia lagi. Amazing.

~ ASEAN Community,  Tantangan Masa Depan ~

            Sebuah kehormatan bagi kami bisa mengunjungi kantor KBRI di Bangkok, yang hanya berjarak 500 meter saja dari tempat kami bermalam, sebelumnya kami juga berkesempatan menyambangi kantor KBRI Laos di Vientiane. Kedatangan kami sore itu disambut sangat welcomeoleh Pak Yunardi Yusuf, yang saat ini sedang menjabat sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan atau sama dengan tangan kanan pak Mendikbud di Thailand. Tentu sebelumnya kami sudah membuat janji dengan beliau melalui pesan singkat. Saya mengenal beliau dari Mantan ketua Permitha (Persatuan Mahasiswa Indonesia Thailand) yang sekarang telah tinggal di Indonesia, bermula dari permintaan informasi penginapan di kota Bangkok. Beliau juga mengenalkan kami kepada mas Rahman (mahasiswa asal Makassar) yang kini menjadi ketua Permitha, dimaksudkan bilamana kami membutuhkan informasi atau bantuan selama di Bangkok, kami dapat segera menghubunginya. Disana, kami merasa menemukan keluarga kecil Indonesia yang begitu harmonis, betapa kami dianggap keluarga sekalipun hanya student exchange saja. Di kantor pak Yusuf, kami berdialog lugas di ruangan kerja beliau, pasalnya jam kerja telah berakhir apalagi saat itu dalam suasana puasa. Setelah  10 menit dialog berjalan, saya mencoba membuka jalan untuk menggali informasi tentang beasiswa luar negeri, “pak, mohon berikan kami informasi tentang scholarship disini atau Negara lainnya juga pak?” tanya saya pada dosen salah satu Universitas ternama di Indonesia tersebut.  Panjang dan lebar beliau paparkan tentang beasiswa luar negeri, sembari disusul umpan balik segepok pertanyaan kami hingga dipastikan benar-benar puas menggali informasi dari beliau. “Jadi bahasa Inggris itu kuncinya, minimal punya TOEFL 550. Setelah itu, pilihlah universitas mana yang hendak kalian mau. Nah, setelah kampus tersebut resmi menerima Anda, bawa bukti tersebut kepada pihak atau lembaga yang akan memberikan beasiswa itu, karena itu yang akan menjadi tiket Anda” papar pria asli Aceh tersebut. Beliau melanjutkan “kalau Anda punya skor 550, berikan langsung ke saya, saya pastikan Anda bisa mengantongi beasiswa itu” ucap beliau dengan tegas yang membakar semangat kami. Kobaran semangat yang terus memompa adrenalin kami, berharap dapat mendapatkan beasiswa yang saat itu tengah kami perbincangkan. Pesan lain beliau jangan sampai semangat ini hanya panas di ruang ini saja, teruskan semangat itu sampai dapat dan menularkan pula pada adik-adik kami. “beasiswa itu banyak, sampai kekurangan personil yang mengisinya, dibutuhkan usaha mencari informasi dan prepare yang matang” tungkas beliau mengakhiri percakapan kita tentang beasiswa.
            Satu pemandangan yang mirip dengan kantor KBRI Laos, walaupun kami belum sempat mengitarinya karena kebetulan hari libur kerja saat kami berkunjung. Sehingga kami diarahkan ke rumah pak Supardi, salah seorang staf di KBRI yang juga sangat welcome atas kedatangan kami. Kami menjumpai beberapa anak kecil berseragam rapi keluar dari kompleks kantor. Merasa penasaran, kami pun menanyakan kepada pak Yusuf. Dalam penjelasannya kantor ini juga membuka sekolah Indonesia dan kursus bahasa Indonesia bagi warga Thailand, hal serupa dengan KBRI Laos. Tidak hanya itu, adapula kegiatan lain seperti latihan Paskibraka menjelang upacara Kemerdekaan RI. Di komleks ini, kami benar-benar merasa sedang berada dalam atmosfer kehidupan Indonesia. Semakin memuncakkan rasa rindu kami pada tanah air tercinta setelah hampir sebulan tidak melihatnya. “kami membuka kursus setahun sekali, dan peminatnya sungguh luar biasa, khususnya para pedagang. Sehingga kami membatasi hanya untuk PNS saja” jelas beliau. Sebab besarnya animo masyarakat menjadi pertanyaan yang cukup mengusik keingintahuan kami. Pria yang baru pindah setahun lalu itu kembali menjelaskan, “jadi begini, minat besar mereka untuk belajar tentang Indonesia itu sebenarnya bukan semata-mata untuk menghargai dan mempelajari budaya Indonesia saja. Di balik itu, sebenarnya itu salah satu cara mereka untuk mengusai Indonesia, khususnya di bidang perekonomian”. Penjelasan singkat itu seketika mencengangkan kami. “apakah kalian pernah mendengar istilah ASEAN community?” tanya pak Yusuf. Dengan polosnya serempak kami jawab belum. Geram dengan ketidaktahuan kami, beliau dengan gaya santai memaparkan panjang lebar tentang ASEAN community pada kami. Kami benar-benar tidak mengizinkan mata berkedip, menohok dengan pengetahuan baru yang harus disebarluaskan kepada sahabat di Indonesia. “ASEAN community itu suatu istilah yang sedang digencar-gencarkan pemerintah sini (Thailand, red) untuk menguasai ASEAN, dalam segala bidang khususnya perekonomian” jelas beliau. “jadi mereka sudah mulai memasukkan kurikulum ASEAN, mulai jenjang SMP hingga kuliah. Kelas itu khusus mempelajari keadaan Negara-negara ASEAN secara detail” lanjutnya. Dalam hati kami bergumam, ternyata ini jawaban mengapa kemarin ketika kami belajar di Collage of Local Administration (COLA), Khon Kaen University, kami mendapati dua kelas untuk mahasiswa baru, kelas biasa dan kelas ASEAN. “itu yang belum kita punya, betapa mereka sudah menyiapkan diri untuk merajai ASEAN. Kalian harus tau hal ini, dan sampaikan pada kawan kalian di Indonesia” pesan pak Yusuf tegas. Satu lagi pelajaran berharga yang kami dapat bahwa warga Thailand, para saudagar khususnya, belajar bahasa Indonesia tidaklah lain untuk kepentingan pangsa pasar saja, apalagi Indonesia sudah dinobatkan sebagai tujuan pasar terbesar bagi Negara di ASEAN. Dirasa cukup, kami pun mengakhiri perbincangan yang begitu menguras perhatian itu. Ucapan terima kasih terus meluap dari mulut kami, dalam waktu singkat pak Yusuf telah mampu menyuplai berbagai pengetahuan baru, mulai masalah scholarship hingga apa itu istilah ASEAN community. “Terima kasih banyak pak” tutur kami.

~ Ini Pontianak, bukan Bangkok Coy ~
 “Dah tiba nih bang” suara tukang ojek tiba-tiba membuyarkan pemikiran saya yang sedang asyik bernostalgia menjelajah ke luar negeri. Saya baru sadar kalau sekarang saya sedang berpijak di Indonesia. “Ini Pontianak, bukan Bangkok coy” gumam saya dalam hati. Tampak banyak sekali perbedaan yang memang harus diakui, mulai tertibnya jalanan, kebersihan lingkungan, hingga suasana harmonis yang tak mampu dipungkiri. Betapa tidak, di sepanjang jalan provinsi Thailand, kami tidak menemukan istilah macet karena dua ruas jalan yang begitu lebar dan spesifikasi lajur yang tidak boleh saling berebut. Seusai upah saya berikan, segera saya menuju kasir untuk mendaftarkan diri dan memperoleh nomor kursi guna melanjutkan perjalanan ke Sintang yang berjarak 350 km-an dari kota Pontianak, atau ditempuh selama 8 hingga 10 jam dengan menggunakan bus malam. “tujuan mana bang?” tanya petugas. “Sintang kak, masih ada kah?” jawab saya. Memang panggilan “abang” untuk laki-laki, dan “akak” untuk perempuan, begitu kebiasaan di Kalbar. “ada bang” jawabnya. Saat transaksi ini sesekali membuat fikiran saya kembali melayang saat pertama kali kami menginjakkan kaki di bus station Khon Kaen menanti jemputan dari Dr. Peeny (Dosen di Khon Kaen University yang sudah kami anggap sebagai ibu disana), kejadian yang sama saat kami memesan tiket bus hendak menuju Vientiane, ibukota Laos. Saat itu jarum jam tepat menunjukkan pukul 08.00 pagi, tiba-tiba para penumpang dan petugas di sekitar station berdiri tegap dan menghentikan semua aktifitas yang sedang mereka kerjakan. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan, awalnya kami tidak mengetahui jenis lagu ber-genre apa yang sedang diputar dan alasan apa mereka harus berdiri, tanpa alasan yang jelas kami pun ikut berdiri hanya sekedar untuk menghargai. Ternyata memang sudah menjadi tradisi di sana, setiap pukul 08.00 dan pukul 06.00 sore, akan diputar lagu kebangsaan Thailand di berbagai fasilitas umum dan warga harus berdiri layaknya ketika kita menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mungkin kebiasaan itu bisa diterapkan di Indonesia untuk memupuk kecintaan bagi nusa dan bangsa. Apapun kondisi tanah air kita, tidak ada alasan untuk kecewa dilahirkan di bumi pertiwi ini. Sekarang tinggal bagaimana kita mau belajar dari yang lebih baik agar kita juga dapat menjadi yang lebih baik lagi. Terima kasih jajaran pimpinan FIP dan Ketua Jurusan serta para Dosen kami, atas dukungan dan fasilitas yang diberikan untuk mengikuti program “Academic and Culture Student Excange” pertama kalinya ke Khon Kaen University ini. Alhamdulillah berbagai pengalaman dan pengetahuan baru bisa kami dapatkan dari rekan-rekan baru dan kondisi masyarakat di sana. Semoga adik-adik kami kelak berkesempatan mengikuti program ini selanjutnya. Sungguh kini cakrawala kami semakin terbuka, betapa kita masih sangat berpotensi untuk menggali ilmu pengetahuan dan pengalaman baru lagi dari berbagai belahan dunia lainnya. Selamat belajar! Selamat berjuang! Semangat selalu!.

*) Mahasiswa S1 Prodi Manajemen Pendidikan
FIP Universitas Negeri Surabaya

One thought on “SEPENGGAL CERITA DARI NEGERI GAJAH PUTIH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s