Dari Agamis, Nasionalis, hingga Komunis

“Sang Raja Tanpa Mahkota”, begitu julukan tokoh kelahiran Sumoroto, kab. Ponorogo, yaitu H.O.S. Cokroaminoto.

Ia merupakan cucu R.M. Adipati Tjokronegoro salah satu bupati kota Reog tersebut.

Dia berhijrah ke Surabaya di awal tahun 1900-an dan menempati rumah minimalis di jalan Peneleh gang VI. Ia merupakan salah satu tokoh kunci sekaligus pelopor di pergerakan Sarekat Islam (awalnya Sarekat Dagang Islam).

Tulisan-tulisannya menjadi embrio awal pemikiran bangsa untuk menjadi bangsa yang merdeka dan menolak adanya penjajahan.

Salah satu tulisan yang masih bisa disaksikan berjudul “Lima Belas Tahoen Perjoengan Ra’at 1913-1928”, tulisan tersebut berisi semangat rakyat Indonesia di Surabaya yang berkumpul di Kebon Radja Stasiun Surabaya yang secara tidak langsung memberikan keyakinan dan menebar semangat bagi rakyat indonesia lainnya untuk melawan penjajah.

Dua kali saya berkesempatan mengunjungi rumah yang saya prediksi berukuran 10×12 meter. Memiliki dua kamar utama dan berlantai dua.

Semangat saya mengunjungi rumah tersebut bukan baru-baru ini. Namun kesempatan dan mood saja yang baru ada. Melalui ketua RT, pak Eko panggilannya, saya berkesempatan mengitari seluruh bagian rumah detail dan terperinci.

Bukan tanpa alasan saya mengunjungi rumah mungil yang memiliki dua nomor yaitu 29 dan 31. Entah apa maksudnya, yang jelas menurut pak Eko, diprediksi ada maksud tersendiri dari pemilihan angka itu.

Seingat saya ketika bersekolah SD, Rumah Pak Cokro pernah menjadi salah satu tempat tinggal sang Proklamator, Soekarno. Usut punya usut, ternyata pelajaran yang saya dapat tidaklah salah.

Merinding, miris, adem, terkesima dan seterusnya campur aduk, begitulah gambaran yang saya rasakan pertama kali ketika memasuki rumah berpagar hijau tersebut. Saya hanya bergumam, ternyata dari satu pintu inilah dilahirkan bermacam tokoh bangsa.

Mengapa bermacam-macam? Karena saya baru mengetahui ternyata rumah kecil ini dahulu sengaja di-kost-kan oleh pak cokro sembari mendidik dan menanamkan pemikiran bagi setiap anak didik yang tinggal di rumahnya.

Mungkin teman-teman tidak asing dengan nama-nama berikut ; Soekarno, Musso, Alimin, Semaoen, Kartosuwiryo, dan Tan Malaka. Mereka adalah sebagian dari anak didik pak Cokro.

Ini sebabnya ia dijuluki “Sang Raja Jawa Tanpa Mahkota”.

Pak Eko tenang dan sangat teratur mengisahkan sejarah rumah sekaligus sejarah tentang pak Cokro.

Saya pun baru mengetahui, bahwa ayahnya Soekarno adalah teman dekatnya Pak Cokro. Ini bermula saat Ayah Bung Karno yang seorang Guru tersebut bertugas di Surabaya, ayah dan ibunya bung karno menempati rumah kecil di jalan Pandean gang IV sekitar satu km dari rumah pak Cokro. Hingga akhirnya bung Karno lahir di rumah kecil yang kini dihuni warga.

Seingat saya ketika SD, ilmu sejarah menyebutkan kalau pak Karno dilahirkan di Blitar, namun saya kini lebih mempercayai jika pak Karno dilahirkan di kota Pahlawan ini, Surabaya.

Ketika usia masuk SMA, ayah bung Karno yang saat itu sedang bertugas bukan di daerah Surabaya, memilih tetap menyekolahkan anaknya di kota Surabaya dan menitipkan pada temannya, Pak Cokro untuk mendidik Soekarno muda, khususnya ilmu agama.

Maklum, pak Cokro merupakan jebolan pesantren ternama yang kini sudah punah di daerah Tegal Sari, kec. Jetis, Ponorogo yang didirikan oleh Kyai Ageng Besari. Saya pun baru ngeh bahwa pak Cokro masih satu perguruan dengan pendiri pondok Gontor dan pendiri Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar, tempat saya bersekolah dahulu.

Kembali ke rumah pak Cokro, saya sempat masuk di kamar pak Cokro. Terpampang gagah lambang SI (Sarekat Islam) berhiaskan seperti emas, sisi sebelah kiri ada foto pak Cokro muda bersama ibu, dan di sebelah kanan terdapat foto saat pernikahan bung Karno dan Ibu Siti Oetari, yang tidak lain adalah anak pertama pak Cokro.

Bung Karno dinikahkan dengan bu Oetari setamatnya SMA (Sebelum kuliah di ITB), saat usia bu Tari 14 tahun dan bung Karno berusia sekitar 19-tahunan.

Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa bu Oetari adalah istri pertama pak Karno yang pernikahan mereka hanya berusia 2 tahun saja dan berakhir dengan perceraian karena bukan seutuhnya dilandasi dengan rasa cinta, melainkan keinginan soekarno menghargai pak Cokro sebagai Ayah Kos-nya.

Selama kos di rumah tersebut. Bung karno dan teman-temannya mendapatkan ilmu agama yang sangat baik dari pak Cokro. Menurut keterangan pak Eko, kebiasaan harian pak Karno muda sangat teratur.

Pagi hari ia pergi ke sekolah HBS (sekarang Polrestabes Surabaya), Sore hari ia selalu membaca buku di Perpustakaan (Toko Buku Peneleh) yang terletak di depan rumah Cokro, Malam hari sembahyang jamaah di masjid peninggalan Sunan Ampel, yang juga dijadikan tempat Ijab Kabul pernikahan bung Karno dan bu Tari, dan berakhir di lantai dua di rumah kos untuk mendapatkan wejangan dari pak Cokro.

Saya pun berfikir dan berkesimpulan, komplit sudah menu yang didapat bung Karno muda, porsi yang ideal untuk mempersiapkan soekarno muda sebagai tokoh bangsa yang besar seperti Indonesia.

Dia begitu beruntung dapat belajar dari tokoh pergerakan besar secara intensif, mendapatkan ilmu umum dari sekolah belanda yang bagus, membaca di perpustakaan yang menjadikan pribadi bung Karno sebagai pribadi yang universal, dan mendapat pula suplai menu keagamaan yang sangat cukup.

Satu hal yang masih mengganjal dan menjadi pertanyaan besar saya seusai menjelajahi rumah pak Cokro, dari sekian banyak anak kos didikan pak Cokro, namun sepeninggal dari didikan tersebut justru berbuah menjadi pribadi yang masing-masing memiliki pola fikir berbeda.

Bisa saya sebutkan, bung Karno sebagai tokoh nasionalis, pendiri bangsa yang mengayomi seluruh rakyatnya tanpa peduli agama, ras, suku, dan golongan.

Muso dan Alimin sebagai salah satu tokoh utama PKI (Partai Komunis Indonesia), yang konon katanya partai berlambang palu dan sabit (Arit) itu tidak mengakui adanya Tuhan atau tidak beragama, ringkasnya.

Sementara, Kartosuwiryo merupakan tokoh pendiri NII (Negara Islam Indonesia). Dia menjadi tokoh pelopor yang ingin menjadikn indonesia sebagai negara islam layaknya negara-negara di timur tengah karena mayoritas warganya beragama Islam.

Riskas cerita, di Era Soekarno, Kartosuwiryo akhirnya dieksekusi mati karena dianggap pembangkang dan membahayakan NKRI. Satu kisah yang saya ketahui, konon bung Karno hingga sakit dan tak bisa makan beberapa hari lamanya, karena harus menandatangani surat perintah untuk mengeksekusi mati Kartosuwiryo yang juga ahabat dekatnya, sahabat sekamar, seguru, seperjuangan yang pernah dia kenal mulai usia muda.

Satu kalimat yang bisa diambil pelajaran, sebuah pesan pak Cokro kepada anak didiknya,

“Jika kalian ingin menjadi Pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator

Perkataan ini membius murid-muridnya hingga membuat Soekarno setiap malam berteriak belajar pidato hingga membuat kawannya yaitu Muso, Alimin, Kartosuwiryo, Darsono, dan yang lainnya terbangung dan tertawa menyaksikannya.

Untuk dapat belajar lebih dalam lagi, yuk saksikan film “Sang Guru Cokroaminoto”yang segera diluncurkan 9 April 2015 ini.

DSC08696DSC08716DSC08722Rumah HOS Cokroaminoto


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s