“DISWAY” Obat Kangen Dahlan Iskan

Empat hari lalu saya buka FB, di linimasa muncul link tulisan judulnya “Belajar dari Banyuwangi”, ada foto orang yang tidak asing bagi saya, Pak Dahlan Iskan, sedang duduk berdialog dengan seorang nenek. Menjawab penasaran segera saja saya klik dan baca. Benarlah ini tulisan khas pak Dahlan, dari awal saja sudah bisa ditebak. Gayanya lugas, mudah dicerna, penjelasannya pendek-pendek, jenaka, jelas, dan yang tidak kalah pentingnya, makna judul tulisan biasanya cukup sulit ditebak sebelum membaca penuh. “Sudah lama saya tunggu tulisan beliau”, gumam saya.

Lebih dari sepuluh kali saya bisa bertemu dengan pak Dahlan. Terakhir ketemu tanggal 28 April 2017, satu tahun lalu, di Graha Pena Jawa Pos Surabaya, awalnya ketemu tidak sengaja di dalam lift, mau minta foto masih gengsi, hehe, cuman salaman dan say hello, masih seperti yang dulu, mengenakan sepatu kets, baju dimasukkan, bagian lengan dilipat, hanya saja beliau terlibat lebih kurus. Saya nikmati kebersamaan yang kurang dari satu menit itu.

Setelah mau meninggalkan Graha Pena, kembali saya bertemu beliau, kali ini di depan Persebaya Store. Pak Dahlan tengah asyik melihat koleksi, salah satu toko Persebaya, klub sepakbola besar yang dipimpin oleh Pak Azrul Ananda, putra pak Dahlan. Tidak ingin melewatkan momen saya minta waktu beliau tuk bersedia foto Bersama, yang saya fikirkan belum tentu saya bakal ketemu beliau lagi dalam waktu dekat karena sudah ada rencana kembali ke bumi Kalimantan kala itu.

Salah satu momen kebersamaan terlama saya dengan pak Dahlan ketika itu tahun 2013, beliau masih menjadi Menteri. Pertama kali saya bisa ketemu di Gedung Robotika ITS, ia datang sebagai salah satu pemateri yang akan membahas tentang Mobil Listrik di Indonesia, hadir juga Bang Ricky Elson, satu dari Pandawa Putra Petir, sang pelopor Mobil Listrik Nasional yang kemudian dikasuskan, sayang sekali bukan?. Saya tidak mau cerita itu, poinnya kala itu ada agenda syuting bareng di stasiun tv milik Jawa Pos, kembali Pak Dahlan dan Bang Ricky menjadi narasumber, acara Gak Cuma Cangkru’an namanya, sebuah acara diskusi yang dikonsep santai, host-nya satu almamater dengan saya.

Ketika itu pak Dahlan masih dengan khasnya, mengenakan atasan putih, bagian lengan dilipat, juga menggunakan sepatu kets bertuliskan “DI 19” yang maknanya Dahlan Iskan dan Sembilan belas adalah jumlah huruf di bacaan Bismillah. Model ini sudah menjamur sekarang, bahkan ASN di hari Rabu diwajibkan mengenakan atasan putih. Ah sudahlah. Entah bagaimana prosesnya saya bisa duduk tepat di belakang pak Dahlan, tepat sekali, duduk di belakang pas, sebuah kebahagiaan yang tak ternilai, sosok yang selama ini saya kagumi. Saya tempel foto beliau di dinding kamar saya sebagai salah satu sosok yang saya ingin contoh. Masih ingat betul, di tengah foto pak Dahlan yang bersanding dengan saya ada tulisan “Kau Memang Tak Mengenalku, Tapi Wajib Bagiku Mengenalmu”. Mungkin dibilang alay, tapi dengan begitu saya bisa tetap mempertahankan motivasi agar bisa sukses seperti pak Dahlan. Sosok anak desa, anak Santri, dengan keterbatasan ekonomi tapi punya mimpi besar dan kini jadi orang besar yang kebesarannya dirasakan banyak orang, sudah berapa banyak yang merasa dibantu beliau. Tidak hanya itu, seratus catatan mimpi saya siapkan tertulis rapi di dinding dan pernah ditempel di belakang pintu lemari, satu persatu tak terasa bisa tercapai. Alhamdulillah.

Berdialog singkat dengan pak Dahlan Iskan setelah On Air

Kembali ke masalah syuting dengan pak Dahlan, sebelum acara mulai tim make up membersihkan wajah Abah, panggilan akrab untuk Pak Dahlan. Kawan sebelah saya nyeletuk, “Bajunya keluar yang bagian belakang, Bah”, katanya. Sontak Pak Dahlan bilang, “Masukkan saja” sambil beliau disibukkan urusan dengan tim “pembersih keringat” beliau karena sehari bisa lebih dari 4 kegiatan yang harus diikuti Pak Menteri itu. Kawan sebelah saya menyenggol dan memberi isyarat agar saya yang melakukan. Awalnya saya menolah, menggelengkan kepala, tapi saya fikir kembali kapan lagi saya bisa membenarkan baju pak Menteri, baju orang yang saya kagumi. Ok lah saya yang melakukan. Perlahan saya rapikan baju pak Dahlan bagian belakang. Benar-benar bersyukur kala itu. Sambil mengucap “Permisi ya, Bah” 😊 benar-benar sebuah pengalaman berharga yang tidak pernah saya lupa.

Saya bukan sosok yang banyak prestasi, tidak pula punya kelebihan yang menonjol. Biasanya pak Dahlan akan memperhatikan anak muda yang memiliki kelebihan, keunikan, atau bahkan punya ide dan rencana besar. Sebut saja Bang Ricky tadi, seorang pemuda yang hebat, lama berkarya di Jepang kalau tidak salah, sudah lebih dari sepuluh hak paten miliknya, putra asli Padang lulusan Unand yang kemudian menjelma sebagai Sang Putra Petir, pelopor lahirnya Mobil Listrik Nasional. Saat ini ia juga sedang aktif menggeluti masalah kincir angina, saya sering ikuti perkembangannya di IG.

Satu lagi sahabat saya, Mas Ilham “Sang Juara” begitu nama medsosnya. Mas Ilham putra asli Mojokerto, lulusan UIN Sunan Ampel, anak desa dari keluarga yang biasa-biasa saja tapi memiliki kelebihan semangat dan impian yang luar biasa. Selama kuliah S1 ia juga nyambi jadi tukang pijat keliling, tidak tanggung-tanggung sampai saat ini sudah berapa orang yang ia pijat, sampai dengan Menteri pun ia pijat. Pak Dahlan senang sekali dengan beliau, bahkan tertangkap kamera pak Dahlan tengah nyetir, sementara mas Ilham malah berselfie ria. Betapa mesranya hubungan mereka. Kadang saya iri. Hehe. Mas Ilham kemudian mendapatkan beasiswa S2 ke Universitas Ciputra. Benar-benar pencapaian yang luar biasa. Baru saja dia meluncurkan buku “Rantai 800 KM”, hasil perjalanan spiritualnya dari Surabaya ke Jakarta menggunakan sepeda onthel. Mantap kan?.

Masalah tulisan pak Dahlan yang sangat saya tunggu-tunggu, mungkin juga ditunggu oleh banyak penggemar lainnnya. Pertama saya baca tulisan beliau ketika sedang ‘nyantri’ di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo, akhir 2007 lah kira-kira. Pertama kali saya tahu koran, maklum di Sulawesi Barat, asal saya sebelum pindah ke Kalimantan Barat belum masuk koran bahkan kala itu listrik PLN pun belum masuk. Pondok kami langganan beberapa koran salah satunya Jawa Pos, awalnya gak terlalu tertarik, tapi lama-kelamaan saya penasaran, ketika mendapati nama penulis sama dengan nama owner kalau gak salah, intinya nama beliau ada di deretan nama direksi.

Perlahan setelah saya pindah ke Surabaya untuk kuliah, saya mendengar Pak Dahlan ditunjuk sebagai Dirut PLN, catatan beliau bertajuk “CEO Notes”, beliau semakin meroket setelah ditunjuk Presiden SBY untuk menjabat Menteri BUMN dan masih terus menulis dengan tajuk “Manufacturing Hope”, dan catatan terakhir yang saya ikuti bertajuk “New Hope”. Setelah itu saya kehilangan jejak, apalagi setelah dikasuskan. Meskipun ada beberapa tulisan beliau yang diberi nama “Momentum Dahlan”, sebuah tulisan pembelaan. Dan hari ini saya sangat senang. Senang karena melihat Pak Dahlan kembali bebas mbolang, dan senang bisa kembali menikmati ‘dongeng’ harian yang sarat ilmu dan pengalaman pak Dahlan melalui website “disway.id” atau DI’s Way alias Dahlan Iskan’s Way. Benar-benar obat kangen ketemu Pak Dahlan.

 

Salam, Ady Setiawan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s