Ki Hajar dan Pendidikan Pesantren

Ki Hajar Dewantara adalah tokoh pemikir dan peletak dasar pendidikan Indonesia yang ikut serta dalam pergerakan nasional Indonesia. Ki Hajar dikenal sebagai tokoh pendiri dari Perguruan Taman Siswa yang menolak Ordonansi Sekolah Liar. Dalam kabinet pertama Republik Indonesia, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai Menteri Pengajaran. Salah satu karya tulis fenomenal yang berjudul, “Pendidikan” dan “Kebudayaan”, hingga kini kedua buku ini masih menjadi rujukan dalam bidang Pendidikan.

Dituliskan dalam kolom tirto.id, Ki Hajar terlahir sebagai anak dari Pangeran Keraton Pakualam Yogyakarta dengan nama Suwardi Suryaningrat. Suwardi sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Dokter Jawa atau School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) di Jakarta, namun tidak sampai lulus. Dia memilih menjadi wartawan di beberapa surat kabar seperti Sediotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Dia pernah aktif di Boedi Oetomo sejak awal berdirinya organisasi pemuda itu.

Suwardi atau Ki Hajar awalnya memilih jalan perjuangan melalui tulisan. Salah satu tulisan yang terkenal berjudul, “Als ik een Nederlander was” atau “Seandainya Aku Seorang Belanda,” begitu judul tulisan atas nama Soewardi Soerjaningrat yang terpampang pada Surat Kabar De Express milik organisasi Indische Partij (IP) edisi 13 Juli 1913. Boleh jadi Soewardi akan konsisten radikal melawan jika saja tidak terjadi sesuatu kepada istrinya, Soetartinah. Kala itu sang istri jatuh sakit, sepulang Soewardi dari pengasingan selama enam tahun. Salah satu penyebabnya dikarenakan selalu memikirkan keselamatan suaminya yang kerap dikejar-kejar aparat kolonial, bahkan keluar-masuk penjara.

Dari sinilah terjadi titik penting dalam kehidupan Soewardi. Ia mengurangi bahkan menghentikan aktivitas yang berpotensi mengancam keselamatannya dan fokus mendampingi sang istri sampai sembuh. Setelah Soetartinah sehat, jalan perjuangan Soewardi benar-benar berubah. Di Yogyakarta, tempat di mana ia dilahirkan pada 2 Mei 1889 di lingkungan ningrat Pakualaman, ia menyusun cara perlawanan baru, yaitu lewat pendidikan.

Tepat tanggal 3 Juli 1922, berdirilah Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa atau Lembaga Pendidikan Nasional Taman Siswa, dan sejak saat itu, Soewardi Soerjaningrat memakai nama baru: Ki Hadjar Dewantara.

Pada langkah pengembangan awal Perguruan Taman Siswa, kita sudah dapat melihat titik-titik kesamaan antara Perguruan Taman Siswa dengan sistem di Pondok Pesantren, salah satunya adanya sistem asrama, sistem among, sistem saling asah-asih-asuh, serta sistem ekslusif terhadap pemerintah penjajah, sistem terakhir sangat mirip dengan apa yang dilakukan pesantren besar yang tercatat sejarah, misalnya Pesantren Tebuireng di Jombang, dll pada masa perjuangan kemerdekaan.

Melalui sistem among atau sekarang dikenal dengan semboyan “Tut Wuri Handayani”, Taman Siswa menanamkan kepada seluruh siswa tentang rasa percaya diri, baik perasaan, pemikiran, dan perbuatan, serta adanya bimbingan yang ekslusif antara guru kepada siswa atau antara kakak dengan adik. Pola among di Pondok Pesantren dapat dilihat seperti sistem ngaji sorogan pada pondok berbasis salafiyah ataupun aktifitas lain di pesantren modern.

Semangat percaya diri santri dilatih melalui kegiatan setoran hafalan al-qur’an, hafalan kitab, hafalan Bahasa Arab/Inggris kepada sang guru ataupun kakak kelas yang ditunjuk sebagai pengurus. Antara keduanya terlihat hubungan keharmonisan dalam proses pembelajaran. Sementara pola among juga dikembangkan Taman Siswa melalui konsep Pendidikan berasrama yang tentu sangat sesuai dengan konsep pesantren, seluruh santri (peserta didik yang nyantri) diawasi dan dibimbing secara ekslusif di dalam sebuah lingkungan berasrama. Sistem ini juga dianut oleh beberapa sekolah militer yang mengadopsi dari Taman Siswa, seperti Sekolah Taruna Nusantara di Magelang, dan Sekolah Taruna Bumi Khatulistiwa di Pontianak, Kalimantan Barat. Pada konsep among berasrama ini, sejatinya siswa dilatih untuk menumbuhkan persaudaraan antar sesama, kasih sayang kepada guru, kedisiplinan, dan kemandirian yang sangat sesuai dengan sistem asrama berbasis pesantren.

Bahkan dewasa ini konsep berasrama mulai banyak diadopsi di berbagai sekolah islam modern bermutu ataupun sekolah umum di dalam maupun di luar negeri, sebut saja sekolah Insan Cendekia Madani Serpong, Sekolah Semesta di Semarang, dan sekolah-sekolah lain dengan konsep “Boarding School” yang merupakan terjemahan dari kata “Sekolah Beasama” atau lebih lekat dengan istilah “Pondok Pesantren”. Dan banyak pemerhati memprediksi bahwa system berasrama ini akan terus diserap dan dikembangkan dalam system Pendidikan modern kini dan mendatang.

 

(Bukan Hanya) Tut Wuri Handayani

Meminjam istilah yang digunakan Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1978-1983, Ki Hadjar Dewantara tergolong sebagai pemikir jenius, tekun, gigih, imajinatif, dan visioner yang mampu berpikir serta berbuat jauh mendahului sesuatu yang umum berlaku pada zamannya (St. Sularto: 2016). Sebagian besar dari kita, rasanya tidak membaca ide-ide besar Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan secara memadai. Bahkan di kampus-kampus yang menyiapkan guru masa depan atau LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan), wacana dan praktik pendidikan yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara belum menjadi perhatian khusus yang diresapi oleh setiap insan di dalamnya.

Salah satu ide pemikiran fenomenal yang disumbangkan Ki Hajar dalam dunia Pendidikan adalah, filosofi “Ing Ngarsa Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani”.

Pertama: Ing Ngarsa Sung Tuladha yang artinya: di depan, seseorang harus bisa memberi teladan atau contoh. Dalam pengertian ini, bahwa proses pembelajaran contoh atau teladan menjadi kata kunci kesuksesan dalam pembelajaran. Pembelajaran di sekolah senantiasa terjadi proses imitasi atau proses peniruan dari contoh atau teladan, sehingga ketika pembelajaran berlangsung seorang pendidik harus mentransfer pengetahuan tentang sesuatu yang dipelajari siswa dengan benar dan tepat. Selain itu siswa tidak hanya mempelajari mengenai pengetahuan saja melainkan belajar dengan lingkungannya seperti belajar mengenai pribadi pendidiknya yang berkaitan dengan akhlak, perilaku, jiwa semangat, dan budi pekerti baik lainnya. Hal ini salah satu alasan pendidik tersebut dijuluki dengan nama Guru, yang maknanya “Digugu lan Ditiru” atau didengar dan diikuti. Oleh karena itu pendidik selain menguasai pengetahuan dia juga harus mempunyai pribadi yang dapat dicontoh.

Kedua: Ing Madya Mangun Karsa yang artinya ditengah-tengah atau di antara seseorang bisa menciptakan prakarsa dan ide. Pada pengertian itu, seseorang dapat menciptakan prakarsa atau ide di antara orang lain. Dalam proses pembelajaran di sekolah, berarti seorang guru harus dapat menciptakan prakarsa dan ide para siswanya ketika mereka dalam proses pembelajaran. Sehingga kata kunci kesuksesan dalam pembelajaran adalah pendidik bisa membangkitkan minat dan semangat belajar siswa, disini guru dituntut menjadi penggali minat dan pemompa semangat belajar anak. Sehingga pendidik atau guru dalam hal ini menempatkan posisinya sebagai kawan sejawat atau setara dengan peserta didik/siswa/santri.

Penulis memiliki salah satu guru yang sampai saat ini masih aktif berkomunikasi, Prof. Hideo Nakata, seorang guru besar dari Tsukuba University, Jepang. Salah satu pelajaran yang sangat diingat adalah, ia mengatakan bahwa di Jepang guru lebih sering memposisikan diri sebagai teman bagi peserta didiknya. Sehingga tidak jarang terlihat guru tengah berdiskusi di tempat umum, guru mengajak liburan siswa, ataupun siswa terlihat sangat akrab kepada guru. Hal ini penulis dapat rasakan selama berkenalan dengan Sense (baca: Guru) tersebut, ia begitu terbuka menerima pendapat dan ide bahkan sering memposisikan diri sebagai orang yang seakan-akan belum mengetahui untuk sekedar menghargai pendapat kami.

Berdasarkan pedoman Ing Ngarsa sung Tulodo ini, diharapkan setiap anak mampu berfikir kritis dan belajar mandiri (Cara Belajar Siswa Aktif). Jadi guru sebetulnya tidak perlu banyak mengajar justru lebih perlu menggagas tentang beragam bintang prestasi yang perlu setiap siswa gapai.

Ketiga: Tut Wuri Handayani yang artinya dari belakang seorang pendidik harus bisa memberikan dorongan dan arahan.

Pada pengertian itu seseorang harus dapat mendorong orang yang dalam tanggungjawabnya untuk mencapai tujuan secara berkelanjutan dalam pekerjaannya. Dalam proses pembelajaran, guru harus memberi dorongan kepada siswanya untuk selalu belajar dengan tuntas dan maju berkelanjutan. Sehingga kata kunci sukses dalam pembelajaran adalah belajar tuntas dan berkelanjutan.

Salah satu pemikiran ini saja apabila dapat diimplementasikan dengan baik, maka akan memberikan efek yang sangat positif dalam proses Pendidikan. Pada hakikatnya seorang guru ataupun ustadz harus mampu mengetahui, bagaimana kapasitas sebagai pengajar dan pendidik. Pengajar bermakna sebagai orang yang mengajarkan materi-materi ajar menggunakan bahan dan perangkat pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Semantara pendidik bermakna seorang yang dimanahi tugas besar untuk menyiapkan peserta didik/siswa/santri untuk dapat menjadi insan yang terdidik melalui sentuhan nilai-nilai Pendidikan. Artinya, konsep pendidik memiliki tugas yang jauh lebih luas daripada sekedar tugas seorang pengajar. Alangkah indahnya apabila setiap pengajar juga menyadari bahwa ia juga adalah seorang pendidik. Hal ini sudah krisis ditemukan di dalam konteks Pendidikan umum, namun masih banyak dirasakan di dunia Pendidikan kepesantrenan.

 

Tugas Semua guru

Karakter, Ki Hadjar menyebutnya sebagai budi pekerti, merupakan inti dari pendidikan, bahkan ada yang menyebutnya sebagai ruh pendidikan. Bagi Ki Hadjar, pendidikan harus mampu menuntun tumbuhnya karakter dalam hidup Sang Anak (anak didik) supaya mereka kelak menjadi manusia berpribadi yang beradab dan susila. Kecerdasan memang diperlukan segenap anak didik, tetapi karakter lebih diperlukan. Kecerdasan tanpa diimbangi karakter justru akan menjerumuskan kehidupan anak didik itu sendiri. Dalam konteks pengembangan kurikulum, maka substansi pendidikan karakter bersifat mutlak.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah pendidikan karakter hanya diberikan oleh guru Agama dan guru PKn saja? Tidak!. Di majalah Poesara edisi Februari 1954, Ki Hadjar menyatakan, pendidikan karakter wajib disampaikan kepada siswa oleh semua guru. “Pengajaran budi pekerti sebaiknya diberikan secara spontan oleh sekalian pamong, setiap ada kesempatan dan tidak harus menurut daftar pelajaran. Pendidikan budi pekerti harus diberikan oleh tiap-tiap pamong, baik mengajarkan bahasa, sejarah, kebudayaan maupun ilmu alam, ilmu pasti, menggambar, dan sebagainya,” tulisnya. Kata Pamong di lingkungan Perguruan Taman Siswa dimaknai sama dengan makna Guru, Pendidik, ataupun Ustadz di konteks pesantren.

Jelas sekali bahwa pendidikan karakter itu harus disampaikan oleh semua guru di sekolah. Dalam hal ini oleh guru baik berbasis guru kelas (jenjang SD) ataupun berbasis guru mata pelajaran (jenjang SMP atau SMA/SMK). Konsep pendidikan karakter Ki Hadjar tersebut sesungguhnya memberi arahan yang jelas dalam pengembangan kurikulum pendidikan kita baik secara substansif, metodologis, maupun teknis pelaksanaan. Oleh karena itu, berdasarkan informasi yang didapat penulis tentang beban mengajar guru, bahwa dalam waktu dekat beban tugas seorang guru tidak lagi dihitung pada saat guru mengajar di dalam kelas atau selama berada di lingkungan sekolah saja, namun juga di lingkungan masyarakat.

Faktanya konsep Pendidikan karakter ini sebenarnya sudah sejak lama dilakukan di dalam konteks Pendidikan Pesantren, ketika filosofi Pendidikan yang diajarkan Ki Hajar Dewantara nyaris telah lama dilakukan di dalam konsep Pendidikan berbasis pesantren. Sehingga jelas, kesaman konsep Pendidikan karakter baik di Perguruan Taman Siswa ataupun di Pondok Pesantren tak ayal menjadi rujukan yang sangat tepat untuk dilakukan di dalam konsep Pendidikan islam non-asrama atapun Pendidikan umum di sekolah-sekolah umum.

 

Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini, tepatnya 2 Mei 2018 mengusung tema “Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan”. Terkait tema tersebut, Muhadjir Effendy selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI dalam pidatonya mengatakan bahwa kebudayaan nasional merupakan akar pendidikan nasional. Jika kebudayaan nasional kita menghunjam kuat di dalam tanah tumpah darah Indonesia, akan subur dan kukuh pulalah bangunan pendidikan nasional Indonesia. Oleh karena itu, kebudayaan yang maju adalah prasyarat yang harus dipenuhi jika ingin pendidikan nasional tumbuh subur, kukuh, lagi menjulang. Pernyataan Mendikbud tersebut mengilustrasikan bahwa kebudayaan merupakan akar sebagai metafora penguatan pendidikan Indonesia.

Metafora “Akar” tersebut mengingatkan penulis pada filosofi pohon bambu yang diyakini oleh masyarakat Tionghoa sejak dulu hingga sekarang ini.

Ada satu sisi dari pohon bambu dapat dijadikan bahan pembelajaran bermakna bagi manusia dalam menjalani kehidupannya agar kuat, tetap eksist dan mampu beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi, yakni pada saat proses pertumbuhannya. Pohon bambu ketika awal pertumbuhannya atau sebelum memunculkan tunas dan daunnya, terlebih dahulu menyempurkan struktur akarnya. Akar yang menunjang ke dasar bumi membuat bambu menjadi sebatang pohon yang sangat kuat, lentur, dan tidak patah sekalipun ditiup angin kencang. Sebelum akar bambu tumbuh subur menghunjam ke bumi, tunas dan daunnya tidak kelihatan, bahkan daun yang tersisa di batangnya mengering, setelah akarnya tumbuh subur menghunjam ke bumi, maka satu persatu tunas dan daunnya tumbuh menghijau, sebatang dan serumpun bambu tersebut berdiri kokoh, sekalipun bertiup angin kencang, pohon bambu tidak pernah tumbang, sementara pohon-pohon kecil dan pohon-pohon besar di sekitarnya bertumbangan. Metafora tersebut mengajarkan kepada manusia agar tumbuh, berkembang dan mencapai kesempurnaan dibentuk dan bergerak dari dalam ke luar, bukan sebaliknya. Apa yang yang ada di dalam diri kita, bermacam-macam jenisnya, seperti keimanan tanpa kemusyrikan, bakat, minat dan sejenisnya.

Kebudayaan memang memiliki peran yang sangat penting dalam proses Pendidikan, sebut saja kebudayaan Jawa terhadap orang yang lebih tua, ketika penulis kecil masih mendapati akan sangat sungkan bilamana berpapasan dengan guru SD di jalan. Hal ini bernilai karakter budaya hormat kepada guru yang akan sangat berguna bagi guru sebagai modal dalam memberikan Pendidikan baik di dalam ataupun di luar kelas. Kebudayaan praktis lainnya dapat dilihat dalam kekayaan dan kearifan budaya di setiap suku ataupun budaya masyarakat Indonesia yang dikenal umum. Pada praktiknya, di Pondok Pesantren baik salafi ataupun modern, kebudayaan ini terus dipegang erat sebagai unsur pendukung proses Pendidikan. Misalnya di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar, kebudayaan terus dihidupkan melalui Apel Tahunan pada awal tahun pembelajaran yang memfasilitasi setiap santri untuk menunjukkan kearifan lokal masing-masing daerah di Indonesia hingga mancanegara. Kedisiplinan juga menjadi suatu nilai budaya tersendiri di lingkungan pondok yang sarat akan nilai Pendidikan.

Di bagian lain dari sambutan Mendikbud RI, secara teknik beliau mengatakan beberapa faktor yang dapat menguatkan pendidikan, antara lain: tersedianya infrastruktur (sarana dan prasarana) sekolah dan sumber daya manusia profesional (beradab dan bermartabat), terutama pendidik dan tenaga kependidikan, dan semua stakeholder atau semua pihak bergandeng tangan serta bahu membahu, bersinergis memikul taanggung jawab bersama dalam menguatkan pendidikan.

Dr. Aswandi, salah satu tokoh Pendidikan berpendapat bahwa, “Sejak lama penulis mempelajari dan mengalami praktek penyelenggaraan pendidikan, akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa menguatkan pendidikan harus dimulai dari membangun pondasi atau landasan pendidikan yang kokoh dan kuat”. Kegagalan dan kelemahan dalam pembangunan pendidikan selama ini, karena konseptual dan implementasi kebijakan pendidikan tercabut dari akar pondasi atau landasannya, antara lain; landasan agama, landasan filosofis, (meliputi: metafisik dan ontologi, epistemologi dan aksiologi pendidikan), landasan psikologi, landasan sosiologi, landasan historis dan landasan-landasan pendidikan lainnya.

Dalam hal psikologis, Ki Hajar mengajarkan bahwa proses pendidikan harus dijalani dalam suasana atau atmosfir menyenangkan, ia mewujudkan hal tersebut dalam konsep “Sekolah sebagai Taman”. Ia berpendapat bahwa jika sekolah sudah dianggap sebagai taman, akan memberikan efek menyenangkan bagi anak, barulah pendidik atau guru dapat mentransformasikan segala hal.

Peter Kline (2010) menyatakan bahwa “Belajar akan efektif jika dilakukan dalam suasana menyenangkan”. Konsep belajar yang menyenangkan ini dikenal dengan metode Quantum Learning. Prinsip utama metode ini adalah; “Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”, artinya untuk mendapatkan hak mengajar, pertama-tama seorang guru harus membangun jembatan autentik memasuki kehidupan murid. Namun sangat disayangkan, hingga saat ini peserta didik merasa kurang betah berada di lingkungan sekolahnya, bahkan tidak sedikit siswa merasakan bahwa sekolah itu adalah tempat yang tidak lebih baik dari sebuah penjara, demikian menurut Bertand Shaw.

Pada akhirnya, hendaknya ajaran dan ujaran Ki Hadjar Dewantara tidak boleh hanya menjadi monumen yang eksis diziarahi sesekali pada momen Hari Pendidikan Nasional saja. Hari Pendidikan Nasional menjadi momen yang tepat untuk kembali mempelajari gagasan dan praktik pendidikan ala Ki Hajar, dan mempertautkannya dengan kondisi kekinian. Sudah semestinya pemikiran dan sikap merdeka sang Bapak Pendidikan Nasional menjadi teladan bagi pendidikan di Indonesia.

Salam, Ady Setiawan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s