Napak Tilas Sultan Hamid II di Pontianak

Setiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila, dan sejak tahun 2017 pada tanggal tersebut diresmikan sebagai Hari Besar (Libur) Nasional. Membahas Pancasila tentu akan teringat pada sosok Bung Karno. Sang Proklamator, Sang Orator, Sang Founder Father, Sang Penyambung Lidah Rakyat, Sang Putra Fajar, dan sang-sang yang lain. Penyebutan yang disematkan pada sosok Presiden Pertama RI yang menggambarkan betapa besar sosok manusia yang belum tentu ada 100 tahun lagi. Ya, Pak Karno pencetus ide Pancasila, pedoman negara dan bangsa Indonesia.

Membahas Pancasila juga akan membawa ingatan kita pada sosok perancang Lambang Negara Garuda Pancasila, sosok ini baru mulai dimunculkan (kembali) ke publik di awal tahun 2000-an. Pasca penulisan disertasi salah satu mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia, tahun 2000 dan 2003. Sosok itu adalah Sultan Hamid II atau nama aslinya Sultan Syarif Abdul Hamid Alkadrie. Sultan ke-VII di Kesultanan Kadriyah yang terletak di pinggir sungai Kapuas, Pontianak, Kalimantan Barat. Kesultanan yang menjadi cikal bakal pendirian Kota Khatulistiwa, Pontianak itu.

Sosok Sultan Hamid II memiliki jasa besar, sebagai perancang lambang negara Indonesia yakni Garuda Pancasila. Dikutip dari laman tirto.id, dengan judul “Memperjuangkan Pahlawan Nasional untuk Perancang Garuda”, Sultan Hamid II pernah menuliskan surat pada koleganya, Solichin Salam pada 14 April 1967 yang berbunyi,

“Saya membuat sketsa berdasarkan masukan Ki Hadjar Dewantara dengan figur Garuda dalam mitologi yang dikumpulkan beliau dari beberapa candi di Pulau Jawa, dikirim beliau dari Yogyakarta, dan tak lupa saya juga membandingkan salah satu simbol Garuda yang dipakai sebagai lambang kerajaan Sintang, Kalimantan Barat”.

Nama Sultan Hamid II tidak begitu dikenal publik, pasalnya setelah rancangannya resmi ditetapkan sebagai lambang negara Garuda Pancasila pada 11 Februari 1950, sang Sultan mengalami permasalahan yang didugakan pada dirinya. Berikut kutipan penjelasan Anshari Dimyati, Ketua Yayasan Sultan Hamid II dalam wawancara dengan tirto.id

Sultan Hamid II diVonis 10 tahun penjara dipotong masa tahanan 3 tahun. Pada tahun 1950 dia ditangkap, tahun 1953 diadili. Namun pada tahun 1958 Sultan Hamid II sudah keluar dari penjara. Artinya dipotong remisi, kelakuan baik, dan dengan perhitungan lainnya masa penjaranya dijalani selama 8 tahun. Grasi yang pernah diajukan Sultan Hamid II kepada Pres. Soekarno, atas usulan Moh. Hatta, ditolak.

Ketika bebas pada 1958, Sultan Hamid II tak lagi berpolitik. Namun, empat tahun menghirup udara bebas, dia kembali ditangkap dan dijebloskan ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Madiun, Jawa Timur, pada Maret 1962. Tuduhannya adalah melakukan kegiatan makar dan membentuk organisasi illegal bernama Vrijwillige Ondergrondsche Corps (VOC). Dikabarkan, persiapannya dilakukan bersama sejumlah tokoh saat mereka berada di Gianyar, Bali, untuk menghadiri upacara ngaben (pembakaran jenazah) ayah dari Ide Anak Agung Gde Agung.

Dalam upacara tersebut hadir sejumlah tokoh oposisi pemerintah, terutama dari dua partai yang sudah dibubarkan, Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI), seperti Mohamad Roem (Masyumi), Sutan Sjahrir (PSI) dan Subadio Sastrosatomo (PSI). Mohammad Hatta hadir, begitu juga Sultan Hamid II yang notabene kawan lama Ide Anak Agung Gde Agung.

Selama empat tahun Sultan Hamid II ditahan tanpa proses pengadilan. Dia baru dibebaskan pada 1966 setelah era Soekarno berakhir. Tuduhan makar terhadap Sultan Hamid II, menurut Ide Anak Agung Gde Agung, kemungkinan besar disebabkan pergunjingan orang-orang di sekitar Soekarno, dan bukan berangkat dari fakta. Bahkan Anak Agung menegaskan bahwa semua tuduhan itu omong kosong. Sebab, sejak keluar dari tahanan pada 1958, Sultan Hamid II tak terlibat dalam kegiatan politik sama sekali.

Selepas dari penjara tanpa proses peradilan tersebut, Sultan Hamid II beraktivitas di dunia bisnis sampai akhir hayatnya. Sejak 1967 hingga 1978, dia menjadi Presiden Komisaris di PT. Indonesia Air Transport (IAT). Pada 30 Maret 1978, pukul 18.15 WIB, Sultan Hamid II wafat di Jakarta. Sultan Pontianak ke-7 itu meninggal dunia ketika sedang melakukan sujud pada shalat maghribnya yang terakhir. Sultan Hamid II dimakamkan di Pemakaman Keluarga Kesultanan Qadriyah Pontianak, di Batu Layang, dengan Upacara Kebesaran Kesultanan Pontianak.

Napak Tilas Perjuangan Sultan Hamid II

Sabtu, 2 Juni 2018, saya berkesempatan mengunjungi beberapa titik perjuangan Sultan Hamid II di Pontianak. Diawali dengan ziarah di Makam Sultan Hamid II di Batulayang, kemudian mengunjungi Istana Kadriyah sekaligus melihat beberapa foto kenangan sang Sultan dan penjelasan bergambar tentang makna simbolis dan proses perancangan lambang negara, serta mengunjungi Masjid Kesultanan Kadriyah, yaitu Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Berikut ini dokumentasinya.

Makam Sultan Hamid II di Batulayang

Kolase 1

Keterangan:

Foto Kiri – Makam Sultan Hamid II di Kompleks Pemakaman Kesultanan Kadriyah di daerah Batulayang, Pontianak

Foto Kanan Atas – Area Pemakaman Kesultanan Kadriyah, di bagian tengah dengan porsi tempat dan batu nisan terbesar adalah makam Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, Pendiri Kesultanan Kadriyah dan juga pendiri Kota Pontianak

Foto Kanan Bawah – Batu Nisan di Makam Sultan Hamid II bertuliskan bahasa Arab (ejaan Indonesia/peagon).

Kehidupan Sultan Hamid II di Kompleks Istana Kadriyah, Pontianak

Kolase 2

Kolase 3

Merancang Lambang Negara Garuda Pancasila

Kolase 4

Kolase 5


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s