Mencapai Kebahagiaan Hakiki di Hari Fitri

KHUTBAH IDUL FITRI 1439 H

Oleh: Ady Setiawan

Khutbah I

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا ِلإِتْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَناَ عَلىَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للِنَّاسِ. نَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَهِدَايَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُسُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّناتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Allahu Akbar, wa lillahilh hamd,
Hadirin dan Hadirah Jamaah Sholat ‘Idul Fitri Rahimakumullah

Dengan takbir dan tahmid, kita melepas Ramadan tahun ini yang insya Allah telah menempa hati, mengasuh jiwa serta mengasah nalar kita. Dengan takbir dan tahmid, kita melepas bulan suci dengan hati yang harus penuh harap, dengan jiwa kuat penuh optimis, betapa pun beratnya tantangan dan sulitnya situasi. Ini karena kita menyadari bahwa Allah Maha Besar Semua hal kecil dan ringan selama kita mengutamakan dan bersama dengan Allah. Kita bersama sebagai umat Islam dan sebagai satu bangsa, kendati mungkin mazhab, atau pandangan dalam beberapa hal kita berbeda. Karena kita semua berada di bawah bendera yang sama dalam hal akidah, yakni diinul Islam.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil Hamd!
Hadirin sekalian, hari ini kita beridul fitri. Kata Id secara bahasa berasal dari kata aada – ya’uudu [arab: عاد – يعود], yang artinya kembali. Pendapat lain mengatakan bahwa Hari raya disebut ‘id karena hari raya terjadi secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun, pada waktu yang sama.

Sementara Kata fithri atau fithrah berarti “asal kejadian”, juga “bawaan sejak lahir”. Ia adalah naluri. Fitri juga berarti “suci”, karena kita dilahirkan dalam keadaan suci bebas dari dosa. Prof. Quraish Shihab juga memaknai kata Fitri/Fithrah yang juga berarti “agama” karena keberagamaan mengantar manusia mempertahankan kesuciannya.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atasnya. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S. Ar-Rum ayat 30).
Hadirin sekalian
Dengan beridul fitri, kita harus sadar bahwa asal kejadian kita adalah tanah: Allah Yang membuat sebaik-baiknya segala sesuatu yang Dia ciptakan dan Dia telah memulai penciptaan manusia dari tanah. (Q.S. As-Sajadah ayat 7).

Kita semua lahir, hidup, dan akan kembali dikebumikan ke tanah. Dari bumi Kami menciptakan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu untuk dikuburkan dan darinya Kami akan membangkitkan kamu pada kali yang lain. (Q.S. Thaha ayat 55).

Hadirin sekalian. Kesadaran bahwa asal kejadian manusia dari tanah, harus mampu mengantar manusia memahami jati dirinya. Tanah berbeda dengan api yang merupakan asal kejadian iblis. Sifat tanah stabil, tidak bergejolak seperti api. Tanah menumbuhkan, tidak membakar. Tanah dibutuhkan oleh manusia, binatang, dan tumbuhan — tapi api tidak dibutuhkan oleh binatang, tidak pula oleh tumbuhan. Jika demikian, manusia semestinya stabil dan konsisten, tidak bergejolak, serta selalu memberi manfaat dan menjadi andalan yang dibutuhkan oleh selainnya.

 

Allahu Akbar, wa lillahilh hamd,

Hadirin Sidang Jamaah Sholat Idul Fitri Rahimakumullah

Alhamdulillah, pada pagi hari ini. Di antara makhluk yang bertebaran di muka bumi. Ternyata Kita, kumpulan manusia yang dipilih oleh Allah, diringankan langkahnya, dilembutkan hatinya, untuk hadir dalam sebuah momentum besar, rangkaian Shalat Hari Raya Idul Fitri, yang disebut Nabi sebagai hari yang penuh dengan kebahagiaan.

Dalam hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman yang sering kita dengar,

للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه

Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (muttafaq ‘alaihi)

Hadirin sekalian. Kalaulah ucapan dan jaminan ini datang dari sesama manusia, bisa saja ini tidak sesuai dengan kondisi kita yang sebenarnya. Namun jika pernyataan dan jaminan ini datang dari Allah dan Rasulnya, lantas bagaimana mungkin kita bisa mengelaknya. Maka layaklah kita berbahagia, karena di antara seluruh manusia yang tengah beraktfitas dalam kesibukannya, kitalah yang dipilih Allah pada hari ini, menit ini, detik ini, untuk berbahagia merayakan Berbuka yang Panjang setelah lama berpuasa selama 29 ataupun 30 hari, yakni merayakan Hari Kemenangan, Hari Raya Idul Fitri. Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.

Namun hadirin sekalian, penilaian makhluk dengan penilaian Khaliq tentu berbeda. Penilaian kebahagiaan oleh makhluk, belum tentu sama itulah yang dimaksudkan oleh Sang Khaliq. Sebagaimana dinyatakan Allah dan Nabi Besar Muhammad SAW. Maka dari itu, penting untuk kita turunkan tiga kriteria utama, yang mengiringi kebahagiaan dalam hadits tadi, dan boleh jadi insyaallah kita semua termasuk di dalamnya. Amin Ya Rabbal Alamin.

Melalui ketiga kriteria inilah, setidaknya kita bisa menilai, apakah benar kita semua yang hadir di tempat ini, yang hadir dalam momentum ini, yang masuk dalam kategori fitri ini, benar orang-orang yang berbahagia sebagaimana hadits di atas. Ataukah kita yang tampak bahagia ini, bahagia dengan makanan terbaik, bahagia karena berpakaian terbaik, atau bahagia dengan keluarga terbaik, hanyalah kebahagiaan yang semu belaka.

Hadirin, ciri yang pertama. Nabi menyebutkan kalimat bahagia di hadits ini yang melekatkan dengan kata fitri, namun menyandingkan dengan kata shooim atau orang yang berpuasa.

للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه

Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (muttafaq ‘alaihi)

Jadi momentum idul fitri ini, disebutkan sebagai momentum kebahagiaan, disebutkan Nabi karena ia telah berpuasa. Ibarat perang, tujuan utamanya adalah menang, ibarat lomba tujuan utamanya juara, ataupun ibarat sekolah, tujuan utamanya mendapatkan ijazah dg predikat yang terbaik. Bagaimana mungkin kita bisa menang tanpa ikut berperang, bagaimana mungkin kita juara, tanpa mengikuti kontestasi lomba, ataupun bagaimana mungkin kita mendapatkan ijazah apalagi dengan predikat baik jika kita tidak terdaftar atau ikut bersekolah.

Hadirin sekalian,

Namun perlu dicatat, bahwa puasa ini bukan sekedar puasa saja, karena di dalam Al-Qur’an, disebutkan bahwa puasa yang dilandasi dengan iman.

Q.S. Al-Baqarah ayat 183,

Hai Orang-Orang yang beriman, (orang-orang yang telah menyatakan beriman kepada Allah SWT), diwajibkan atasmu berpuasa….

Di dalam hadits dikatakan bahwa orang yang bahagia karena berpuasa. Dan di dalam al-Qur’an Allah berfirman bahwa perintah berpuasa diawali dengan kata Iman. Maka hal ini seakan ingin menunjukkan bahwa tidak semua orang berpuasa dapat merasakan kebahagiaan itu, melainkan orang berpuasa dengan dilandasi iman, serta yang dengan puasanya, bisa melatih penguatan imannya kepada Allah SWT.

Jadi ketika Nabi menyebutkan bahwa orang yang beridul fitri, yang menikmati berbuka Panjangnya, yang menikmati makanannya, mengenakan pakaian terbaiknya, ditunaikan sholatnya, ia dengar khutbahnya, ia bahagia dengan idul fitrinya. Maka bukan hanya sekedar bahagia saja, tapi bisa merasakan adanya penguatan iman, karena telah dilatih selama berpuasa di bulan suci Ramadhan.

Dan kesimpulan lainnya, jika kita merasa bahagia, kita tertawa, dan mengenakan pakaian terbaik, namun tidak ada efek bertambahnya keimanan kita, maka sejatinya kita belum menjadi orang yang mendapatkan kebahagiaan itu.

Hadirin sekalian. Namun demikian, kita tidak perlu risau. Untuk mengetahui pada posisi mana keimanan kita, apakah sedang di atas, biasa-biasa saja, atau justru dalam keadaan yang kurang baik. Maka Allah memberikan petunjuk untuk mengukur. Di dalam Al-Qur’an, Setiap Allah menyebutkan kata iman, umumnya akan disandingkan dengan peningkatan amal sholeh. Misalnya:

Wal ash, innalinsaana lafi husr, illaldzina aamanu wa’amilussholihat….

Alladzhina yukminunabil ghoib, wa yuqimuunasholat. Wamimma razaqna humyunfikun

Ya ayyuhalladzina amanu, kutiba ‘alaikumussyiyam…

Yaa ayyuhalladzina aamanu, idza nuudiyatissholati min yaumil jumuah..

Yaa ayyuhalladzina aamanu, aufu bil ‘uquud… dan lain sebagainya

Setiap disebutkan kalimat iman, selalu bersanding dengan amal sholeh. Seakan memberikan isyarat kepada kita, bahwa orang-orang yang ditandakan bertambahnya iman, menguatnya iman, maka dilihat dengan bertambahnya pula amal sholeh. Hal ini juga selaras, karena selama berpuasa, BUKANKAH kita dilatih untuk menguatkan amal-amal sholeh. Bukankah kuantitas sholat kita saat Ramadhan ditambah. Sebelum Ramadhan, jangankan sholat sunnah, mungkin saja, terkadang shalat fardhu kita terlambat. Namun saat Ramadhan, jangankan shalat fardhu, jika shalat sunnah kita terlambat, pasti kita gelisah.

Sebelum Ramadhan, belum tentu shalat qiyamullail, namun selama Ramadhan, tertinggal shalat tarawih saja, kita merasa gelisah.

Sebelum Ramadhan, ada orang meminta tampak di depan mata kita saja, kadang kita tidak memberi. Namun selama Ramadhan, jangankan yang tampak, yang tidak tampak saja biasa kita cari-cari, setiap ada kotak amal, kita berusaha ingin memberikan yang terbaik, mencari-cari kemana harus bisa memberi dan bersedekah. Semua ini adalah latihan, dan semoga dengan latihan ini kita mendapatkan peningkatan iman dan amal sholeh kita. Amin.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd

Hadirin dan Hadirah Jamaah Sholat Idul Fitri Rahimakumullah

Isyarat kedua, disebutkan Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 185, bahwa orang-orang yang bahagia saat idul fitri adalah orang-orang yang “walitukabbirullaha ‘alaa maa hadaakum”, supaya setelah tuntas kita menunaikan puasa itu, memasuki tanggal 1 syawwal, kita bisa memperbanyak takbir kepada Allah SWT “walitukabbirullah”. Oleh karena itu, mulai kemarin sore, hingga detik ini diperbanyak membaca takbir serta tasbih dan tahmid, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilhamd”. Dan hebatnya kata Nabi, orang yang mengucapkan takbir dengan benar, harusnya ada kebahagiaan yang terpancar dalam jiwanya. Karena hari ini, adalah hari yang bahagia, bukan takbir biasa. Takbir yang ketika lisan kita mengucap, maka hati kita pun ikut bahagia. Kenapa bisa berbahagia, karena “alaa maa hadaakum”, karena takbir itu kita ucap, setelah Allah memberikan hidayah atau petunjuk kepada kita semua. Hidayah diberikan Allah selama Ramadhan, ada orang ingin berbuat dosa, ia batalkan; ada orang mencaci, kita balas dengan senyuman; orang mau korupsi berfikir ribuan kali; dan lain-lain. Kalimat takbir juga sebagai ucapan terima kasih kita kepada Allah, atas petunjuk yang diberikan oleh Yang Maha Besar, Yang Maha Segalanya, Engkau Yang Agung, masih mau memberikan hidayah kepada hamba kecil ini.

Hadirin sekalian, maka orang yang menemukan kebahagiaan selama Ramadhan, adalah orang yang menemukan titik petunjuk dalam hidupnya untuk terus melakukan perubahan. Semoga kita semua dalam pertemuan ini termasuk dalam golongan orang-orang yang mendapat petunjuk dan mau melakukan perubahan dalam hidup. amin

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd

Hadirin dan Hadirah Jamaah Sholat Idul Fitri Rahimakumullah

Isyarat ketiga, masih pada ayat yang sama, adalah “وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ”

“wa la’allakum tasykuruun”, atau orang-orang yang bahagia di hari ini adalah orang yang mau bersyukur dengan ‘ied nya karena telah menuntaskan puasanya. Syukur bukan hanya terucap dengan “Alhamdulillah”. Namun pengungkapan kebahagiaan juga dengan memanfaatkan nikmat yang diperoleh itu untuk kebaikan atau digunakan sesuai ketetapan yang telah ditentukan. Misalnya lisan. Penciptaan lisan hakikatnya untuk membicarakan yang baik-baik. Hadits Nabi yang ternama, man kaana yukminu billahi wal yaumil aakhir, fal yaqul khoiron au liyasmut. “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaknya ia berkata baik atau diam”.

Maka ketika lisan kita berkata yang baik-baik, itu bagian dari inti syukur kita atas nikmat Allah berupa lisan. Maka apapun titipan dan pemberian dari Allah, mari kita berusaha memaksimalkan penggunaan titipan tersebut dengan sebaik-baiknya sebagai bentuk rasa syukur.

Hadirin sekalian. Sehingga dapat disimpulkan bahwa setidaknya ada tiga isyarat bahwa kita adalah bagian dari orang yang benar-benar mendapatkan kebahagiaan di hari yang berbahagia ini, isyarat tersebut adalah; pertama, dengan berakhirnya puasa atau bulan Ramadhan, iman kita bertambah dan diwujudkan dalam peningkatan amal-amal sholeh; kedua, dengan berakhirnya puasa atau bulan Ramadhan, kita mendapatkan kebahagiaan dengan mengucapkan takbir, tasbih, dan tahmid sebagai bentuk terima kasih kita atas hidayah yang diberikan Allah; dan isyarat ketiga, dengan berakhirnya puasa atau bulan Ramadhan ini; kita bisa lebih bersyukur dengan memanfaatkan seluruh titipan Allah, sebagai amal baik sekaligus bekal kehidupan kita yang kekal di akhirat.
Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd

Hadirin dan Hadirah Jamaah Sholat Idul Fitri Rahimakumullah

Momentum idul fitri ini, juga bisa kita jadikan pengingat bahwa jatah kita untuk mengikuti, merasakan, dan menikmati bahagianya Hari Raya Idul Fitri ini terus berkurang, karena semakin bertambah usia, maka semakin dekat dengan ajal yang membatasi kita untuk bisa menikmati indahnya Hari Raya Idul Fitri. Idul Fitri kembali mengingatkan kita bahwa saat ini kia tengah berada di perantauan, dan akan mudik sejati ke alam akhirat. Idul Fitri juga kembali mengingatkan kita bahwa kehidupan di dunia sangatlah singkat, kehidupan kekal adalah di akhirat yang pintunya melalui kematian, yang hal itu bisa datang kapan saja, di mana saja, kepada siapa saja, dan dengan cara apa saja. Sudah banyak contohnya, orang-orang terdekat kita, tahun lalu mungkin masih bersama kita, namun hari ini ia telah tiada. Sebagai penutup, khatib ingin menasehati diri sendiri dan hadirin sekalian, melalui pembacaan sabda nabi dalam riwayat shahih, dan sangat familiar kita dengar. Nabi bersabda:

 

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 (perkara): shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa baginya.”

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd

Hadirin dan Hadirah Jamaah Sholat Idul Fitri Rahimakumullah

Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits di atas bahwa ada 3 (tiga) amal yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita sudah meninggal dunia. Amal pertama adalah shadaqah jariyah. Ini bisa terjadi jika kemanfaatan atau dampak positif dari amal itu masih terus berlangsung hingga saat-saat berikutnya setelah yang beramal meninggal dunia. Sedekah jaariyah dapat berupa harta, pemikiran, dorongan, ataupun doa. Contoh di depan kita adalah bangunan masjid ini, yang merupakan hasil kesungguhan masyarakat Merarai Satu untuk bahu-membahu membangun fisik masjid, semoga ini menjadi amal jariyah bagi kita semuanya. Tinggal bagaimana kita mengisinya dengan ibadah dan aktifitas-aktifitas positif lainnya.
Hadirin sekalian,
Amal kedua yang tak putus pahalanya adalah ilmu yang bermanfaat. Mungkin saja ada beragam jawaban atas kata “Ilmu yang Bermanfaat”. Tetapi intinya adalah ilmu yang bisa memberikan manfaat kepada diri sendiri maupun orang lain untuk mencapai keselamatan dunia dan akherat.

Dan Amal ketiga adalah memiliki anak yang saleh. Jika kita memiliki anak saleh yang mau dan mampu mendoakan kita agar senantiasa mendapat petunjuk, pertolongan dan ampunan dari Allah SWT, maka anak saleh ini menjadi amal kita yang pahalanya akan terus mengalir. Anak sholeh yang bisa mendoakan kita perlu disiapkan dengan baik. Banyak tuntutan Pendidikan anak dalam sudut pandang islam, yang bersumber dari pelajaran-pelajaran di dalam Al-Qur’an, maupun hadits nabi. Di dalam al-Qur’an misalnya, setidaknya ada tiga pelajaran dari Al-Qur’an, diambil dari kisah Keluarga Imran, ataupun Kisah Nabi Ismail, tentang upaya yang bisa dilakukan orang tua dalam mendidik dan menyiapkan putra-putri sholeh-sholehah, yakni pertama berdoa kepada Allah, kemudian Berikhtiar atau berusaha maksimal, misalnya memberikan rezeki yang halalan thoyyiban, menyelohkan ke tempat yang baik, mengarahkan kepada guru yang baik, dll, serta ketiga bertawakkal kepada Allah, karena dengan doa dan tawakkal, kita menyadari bahwa anak adalah milik Allah, sehingga setelah berusaha maksimal kita minta Allah yang mengarahkan putra-putri ke jalan yang Allah ridhai dan bisa menjadi anak yang sholeh-sholehah. Amin.

Pendapat salah satu pakar, bahwa Pendidikan anak bisa diisyaratkan dengan fase kehidupan nabi. 13 tahun nabi berdakwah di Mekkah untuk menanamkan akidah, dan selebihnya di Madinah, Nabi memberikan arahan untuk ibadah dan muamalah. Begitupun dengan anak, hingga usia 13 tahun, hendaknya berfokus pada penanaman akidah kepada anak, sebagai bekal dan pondasi awal. Dan selebihnya, anak bisa berekspresi sesuai bakat minat yang ia miliki, menjadi apapun jika dilandasi pondasi yang kokoh, insyaaAllah akan menjadi manusia yang selamat dan bermanfaat. Amin-Amin ya Rabbal Alamin.

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd

Hadirin dan Hadirah Jamaah Sholat Idul Fitri Rahimakumullah

Ketiga amal di atas, yakni shadaqah jariyah, ilmu bermanfaat dan anak saleh, hendaklah menjadi perhatian kita secara serius. Sebuah peringatan bagi diri khatib pribadi dan jama’ah sekalian, Jangan sampai kita terburu meninggal sementara ketiga hal itu belum sempat kita persiapkan dengan baik. Hidup hanya sekali, maka jangan sampai kita merugi untuk selamanya. Semoga kita semua yang hadir dalam majelis ini, mampu meraih ketiga hal di atas, dan mampu meraih kebahagiaan yang sebenarnya pada momentum Hari Raya Idul Fitri ini. Amin ya Robbal Alamin.
: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم:

وَالْعَصْرِ #إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ # إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

. بارك الله لي ولكم في القران العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الايات والذكرالحكيم، وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو الغفور الرحيم، وقل رب اغفر وارحم وأنت خيرالراحمين

 

 

Khutbah II

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ . اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ، أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ . اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ . فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوا اللهَ مَااسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ .

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd

Hadirin dan Hadirah Jamaah Sholat Idul Fitri Rahimakumullah

Pada khutbah kedua ini, khatib ingin berpesan kepada diri sendiri dan hadirin sekalian sesuai dengan ayat yang telah dibaca, إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah Bersama malaikat-malaikatnya, bershalawat atas nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kalian (kepada Nabi), dan ucapkanlah penghormatan kepadanya.

Hadirin sekalian, dalam waktu yang singkat ini, Khotib ingin menekankan bahwa tidak ada amalan yang secara Bersama-sama dilakukan manusia (orang-orang yang beriman), malaikat2, dan Allah, kecuali Sholawat Nabi. Begitu banyak manfaat bersholawat atas Nabi,

Pertama, sholawat bernilai ibadah. Karena perintah Allah dan Rasulullah.

Kedua, dengan bersholawat memberikan motivasi kita untuk terus berupaya mencontoh akhlak, dan pribadi hebat sang Nabi. Bagaimana tidak hebat?. Allah yang sudah menjaminnya, Nabi Muhammad adalah sebaik-baik manusia yang diutus untuk menyempurnakan akhlak. Bagaimana tidak hebat? 300 orang siap berjuang hingga darah penghabisan melawan tiga kali jumlah lebih banyak dalam perang badar, karena percaya bahwa dengan Bersama Rasulullah mereka berada di jalan yang benar.

Bagaimana tidak hebat? Biasanya orang hebat di dunia ini, hanya unggul dalam satu bidang saja, namun Rasulullah unggul dalam segala bidang, beliau pemimpin ummat islam, beliau pemimpin negara, beliau sangat sayang keluarga, beliau sangat perhatian dengan yatim, dll.

Bagaimana tidak hebat? Manusia mana di muka bumi ini yang namanya disematkan di jutaan anak yang lahir dengan diberikan nama “Muhammad” di bagian namanya, beraharap bisa seperti pribadi Muhammad.

Bagaimana tidak hebat? Manusia yang sudah tiada hampir 1400 tahun, tapi namanya masih eksis, dan masih akan terus eksis hingga akhir zaman.

Bagaimana tidak hebat?. Berapa banyak orang yang tahu dan mengenal namanya, ribuan milyar orang mengenal namanya dari generasi ke generasi dan bahkan langsung mengucapkan “Allahumma Shollu Ala Muhammad” setiap mendengar namanya.

Ketiga, dengan bersholawat untuk mengobati rasa rindu dan berharap mendapat syafaatnya kelak. Bagaimana tidak rindu?. Sabda nabi, “Saudaraku adalah mereka yang tidak pernah melihatku, namun ia mau beriman terhadapku”, Nabi saja merindukan kita sebagai ummatnya. Jadi kalau nabi merindukan kita, mengapa kita tidak merindukannya. Betapa beruntungnya kita, kalua masuk dalam bagian yang dirindukan oleh manusia terbaik, Nabi Muhammad SAW. Semoga kita semua masuk bagian, orang-orang yang kelak dipimpin dan dibimbing Nabi Muhammad SAW memasuki surga Allah SWT. amin

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd

Hadirin dan Hadirah Jamaah Sholat Idul Fitri Rahimakumullah

Pada akhir khutbah kedua ini, khotib mengajak pribadi dan hadirin sekalian untuk gemar bersholawat atas nabi semoga kelak kita bisa berjumpa dan mendapatkan syafaatnya. Amin.

 

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلِىْ ذُنُوْبِىْ وَلِوَالِدَىَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِىْ صَغِيْرًا. وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ،اَلْاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، وَتَابِعْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ، رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ

Ya Allah Ya Tuhan Kami, Hanya Kepadamu Kami Menyembah, Hanya Kepadamu Kami meminta pertolongan.

‘’Ya Allah, kami segenap hamba-hamba-Mu, berkumpul, bersimpuh di tempat yang suci yang penuh rakhmat, menyebut namaMu yang agung, berzikir, bermunajat kepadaMu dengan takbir, tahmid, dan tahlil

Ya Allah, jadikan kami di hari yang fitri ini bagian dari orang-orang yang kembali suci dan golongan orang2 yang memang. Ya ALLAH Ya Rabb, bukakanlah lembaran-lembaran baru yang bersih yang menggantikan masa lalu kami.

Ya Allah Ya Rabb, di hari yang fitri ini, anugerahkan kami kekuatan iman, mampukanlah kami berbuat baik dan beramal sholeh. Dan jadikan kami hamba-hambamu yang pandai Bersyukur.

Ya Allah ya Rabb, berkahi desa kami dengan ridha dan rahmatMu. Anugerahkan desa kami generasi-generasi yang sholeh-sholehah, generasi yang cinta ilmu agama dan ilmu pengetahuan, generasi yang menghormati orang tua dan menjunjung akhlak mulia, generasi penghafal dan pecinta Al-Qur’an serta generasi memperjuangkan agama Islam.

Ya Allah Ya Rabb, hari ini kami memohon, jadikanlah desa kami, desa yang akan melahirkan generasi kuat, kuat agama dan ilmu pengetahuan, generasi yang kelak menjadi pemimpin masa depan, dan generasi yang membawa manfaat bagi masyarakat.

Ya Allah Ya Rabb, berkahi desa kami, berkahi daerah kami, daerah yang guyub rukun, daerah yang saling hormat-menghormati, daerah yang menjalankan kewajibanmu, daerah yang ramai masjid dan musholanya dengan sholat lima waktu dan bacaan kitab suci Al-Qur’an, daerah yang memiliki ustadz-ustadz yang bersatu dalam membimbing umatnya, berkahi daerah kami dengan pemimpin yang berakhlak baik, pemimpin yang adil dan mencintai rakyat, pemimpin yang membawa perubahan kebaikan, dan pemimpin yang menolong agamamu.

Ya Rabb, bukakan pintu hati kami agar selalu sadar bahwa hidup ini hanya mampir sejenak, hanya Engkau tahu kapan ajal menjemput kami, jadikan sisa umur menjadi jalan kebaikan bagi ibu bapak kami, jadikan kami menjadi anak yang shaleh-sholehah yang dapat memuliakan ibu bapak kami, jadikan kami orang yang gemar bersedekah, dan jadikan kami orang-orang yang selamat karena belajar dan mengamalkan ilmu dengan sebaik-baiknya.’

عِبَادَ اللهِ , إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Taqabballahu minna wa minkum, ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aaidzin wal faaiziin

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima semua amal ibadah kita semuanya, Sehingga di hari yang fitri ini, kita dapat menjadi bagian orang-orang yang kembali suci dan orang-orang yang menang.

*) Draft Khutbah Idul Fitiri 1439 H (2018 M) di Masjid Ar-Rahman Desa Merarai Satu, Kecamatan Sungai Tebelian, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat

Salam, Ady Setiawan

Masjid Ar-Rahman, Desa Merarai Satu, Kec. Sungai Tebelian, Kab. Sintang

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s