Lima Nilai Agung dari Film Sultan Agung

Tanggal 23 Agustus kemarin awal peluncuran film “Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, dan Cinta”. hampir seluruh adegan menggunakan bahasa Jawa, ya sekitar 80% lah. Salut dengan para pemain yang belajar pengucapan agar sangat mirip dengan lidah Jawa. Kostum dan setting area-nya luar biasa. Sangat menggambarkan kehidupan pada zamannya. Sarat pesan, dan alur ceritanya tidak membosankan. Karya Mas Hanung ini memang rugi untuk dilewatkan.

Saya mengawali resensi ini dengan kutipan pernyataan sang Sutradara, bahwa meski menceritakan sosok legenda Tanah Air, film Sultan Agung tidak bisa menjadi rujukan sejarah. Dia berpendapat film ini hanya berfungsi mengembalikan ingatan anak-anak muda mengenai sosok Sultan Agung.

Sultan Agung pemilik nama asli Raden Mas Jatmika atau dalam film lebih sering menggunakan nama Raden Mas Rangsang bukan sosok biasa. Kata Mutiara mengatakan, “Setiap masa ada pemimpinnya, dan setiap pemimpin ada masanya”. Selama hampir seratus tahun kekokohan Kesultanan Mataram (Islam), nampaknya Sang Sultan Agung menjadi Man of the Century. Ia memerintah selama 32 tahun, persis dengan masa Mbah Harto meminpin negeri Indonesia ini. Negeri yang sementara ini memiliki Man of Century bernama Soekarno itu.

Kesultanan Mataram berdiri setelah 60 tahun keruntuhan Majapahit, kerajaan yang kokoh selama 234 tahun di bumi Nusantara. Berdasarkan sejarah, Kesultanan Mataram merupakan embrio dari Kerajaan Pajang, sama-sama berlokasi di Jawa Tengah, salah satu spot pentingnya di daerah Tingkir. Salah satu raja ternamanya Raden Hadiwijaya alias Mas Karebet alias Jaka Tingkir yang fenomenal itu.

Kalau ditarik garis lurus, mungkin Man of Century yang dimaksud di antaranya, Patih Gajah Mada, Sunan Kalijaga, Raja Hadiwijaya, Sultan Agung, juga Soekarno.

Kesultanan Mataram yang kemudian menghasilkan dua keraton besar, Kesultanan Ngayogyakarta dan Kesultanan Surakarta. Sampai saat ini masih bisa ada, masih bisa dikunjungi, masih bisa dirasakan Spirit of Java-nya. Hanya bedanya, Kesultanan Jogja tanah kelahiran Presiden Soekarto, lebih hidup dari pada Surakarta, tanah kelahiran Presiden kita saat ini.

Film ini memang sempat menuai kontroversi, kritik, juga saran. Ini semua datang dari keluarga Keraton Jogja yang mengkritisi terkait kostum karena dinilai tidak sesuai dengan paket keraton selama ini. ini bagus, saling mengingatkan. Si pembuat film pun harus siap dikoreksi dan lebih giat mempelajari sejarah ataupun riset sebelum produksi film.

Kali ini saya mengabaikan unsur-unsur itu, saya sebagai penonton umum ingin me-review salah satu film terbaik yang pernah saya tonton tentang sejarah. Begitu banyak nilai terkandung, tapi kali ini saya ingin tuliskan lima nilai saja yang terkandung dalam film Sultan Agung ini.

Hasil gambar untuk sultan agung film

Para pemain film “Sultan Agung” bersama Sutradara dan ibu Mooryati Soedibyo

 

Pertama, hormat pada guru dan orang tua.

Adegan film dibuka dengan scene di padepokan atau sejenis pesantren yang bermakna tempat belajar para santri. Di dalamnya ada Ki Jejer, pimpinan Padepokan Jejeran. Juga biasa disebut Kyai. Nampaknya ini Bahasa sansekerta yang masih digunakan hingga saat ini. Ada pula para santri atau Bahasa aslinya “Sahashtri” berasal dari Hindi yang juga bermakna pelajar atau yang belajar pada Kyai.

Ki Jejer begitu ikhlas mengajar dan mendidik. Santri ikhlas diajar dan didik. Raden Mas Rangsang salah satunya. Sangat patuh dengan Ki Jejer. Apa-apa dia minta restu padanya. Sampai suatu ketika dia ditawarkan untuk diangkat menjadi Raja pengganti sang Ayah, Prabu Hanyokrowati, karena wafat.

Raden Mas merasa belum pantas menjadi Raja, sekaligus ia sadar bahwa wasiat kepemimpinan berikutnya bukanlah untuknya tapi untuk adiknya, Adipati Martopuro, yang dikisahkan penyandang tunagrahita hasil pernikahan dengan istri pertama.

Pada saat kebingungan ini, Raden Mas yang sudah dititipkan sejak usia 10 tahun kepada Ki Jejer, kembali ke Padepokan, sowan meminta pendapat sang Guru. Dengan hormat ia meminta arahan, Guru pun dengan santun memberikan pencerahan. Luar biasa, pemandangan yang sangat indah. Yang mungkin sudah tidak banyak di iklim Pendidikan era saat ini.

Pelajaran lain yang juga tersirat adalah, setiap pemimpin itu disiapkan. Usia 10 tahun Raden Mas Rangsang dipesantrenkan, meguru, belajar, agar kelak siap ketika jadi pemimpin. Jadi, sangat bagus pesantren atau pondok atau boarding school menjadi rujukan dalam menyiapkan generasi bangsa yang hebat.

Ki Jejer mengawali arahan dengan menceritakan kebesaran Sunan Kalijaga dan membacakan tulisan sang Sunan. Yang isinya, suatu hari nanti akan lahir seorang Ksatria yang berhati Brahmana. Ia akan membawa kedamaian, menyatukan banyak kerajaan, menjadi symbol kekuatan bangsanya.

Sang Guru membaca, ada kriteria yang dituliskan Sunan Kalijaga itu dalam diri Raden Mas Rangsang. Dan ini momentum yang tidak boleh dilewatkan. Ini juga luar biasa. Sang Guru bisa mengarahkan dan membaca potensi muridnya. Lagi-lagi, ini harus menjadi perhatian setiap guru zaman now.

Dalam momen pengajian, Ki Jejer pernah menjelaskan bahwa, manusia itu dibagi menjadi enam golongan. Pertama, Brahmana. Ini adalah orang-orang yang tulus beribadah, mengabdikan diri, suci, seperti ulama, sunan, kyai, dan sejenisnya. Kedua, Ksatria. Ini adalah orang-orang yang menjadi pemimpin. Ketiga, Waisya. Keempat, Sudra. Kelima, Candala. Dan yang terakhir adalah Mlecha atau Tucha. Fokus pada bagian terakhir ini, Ki Jejer menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang datang hanya untuk mencari keuntungan, mengambil kekayaan sebanyak-banyaknya, menjajah, dan berlaku semena-mena.

Ini terjadi, fakta. Tucha itulah para saudagar VOC dari belanda yang mendarat di Banda, di Ambon dan Maluku menjadi titik awal menguasai Indonesia. Yang jaya selama 350-an tahun itu. menyedot rempah-rempah dan berlaku semena-mena.

Mendengar penjelasan sang guru, Raden Mas Rangsang akhirnya bersedia diangkat menjadi raja. Dukungan juga datang dari sang Ibu, istri kedua raja yang wafat tadi. Ibunya bernama Ratu Mas Adi Dyah Banawati, putri pangeran Benawa dari Kerajaan Pajang tadi.

Kedua, tegas dalam memimpin.

Sultan Agung menjadi symbol pemersatu juga symbol kekuatan Kesultanan Mataram sekaligus kerajaan-kerajaan di Jawa, Madura, hingga Kalimantan pada masanya. Sultan sangat tegas dalam bersikap dengan VOC. Mereka datang mengiming-imingi berbagai keuntungan, agar mendapat ijin mengelola sumber daya yang ada di bawah kesultanan Mataram. Tapi Sang Sultan tanpa kompromi, dengan tegas ia menolak.

Sampai pada satu titik, ketika Sultan tahu bahwa VOC sudah menundukkan Sunda Kelapa alias Batavia alias Jaya Karta alias Jakarta saat ini, ia pun geram dan menyatakan perang kepada VOC. Dengan lantang menggugah semangat rakyatnya, mempersiapkan dengan latihan memanah, pistol, Meriam sederhana, silat, dan taktik perang. Lebih dari 10.000 pasukan ia siapkan, berangkat dari Mataram (Sekitaran Jogjakarta) menuju Batavia (Jakarta). Bukan jarak yang dekat, bisa saya pasukan Lelah sebelum sampai di titik perperangan.

Pada saat pelepasan pasukan, ada satu kalimat yang sangat membumi, yaitu “Mukti utowo Mati” artinya Menang ataupun Mati. Ini sejenis dengan kata Mutiara “’Ish kariiman au mut syahiidan”, Hidup Mulia atau Mati Syahid. Dari scene ini, pelajarannya adalah pemimpin harus tegas, berani, mempersiapkan taktik, dan harus punya kemampuan untuk mempengaruhi bawahannya. Karena sebagai mana teori kepemimpinan, bahwa memimpin itu adalah mempengaruhi. Jangan pernah mengaku menjadi pemimpin, tapi tak mampu mempengaruhi pengikutnya.

Tercatat tiga periode perang berlangsung. Pertama, hamper menang, namun harus dipukul mundur. Kedua, kalah karena kurangnya perlengkapan. Dan ketiga, menang. Karena Tumenggung Bahureksa menjalankan taktik, membendung satu-satunya sumber aliran sungai ke markas VOC, sungai Ciliwung, dengan ratusan bangkai. Maksudnya, agar air sungai tercemar dan para petinggi VOC bisa terjangkit penyakit.

Taktik ini cespleng, manjur. Jhon Pieter Coen, pimpinan VOC, tepar, terserang kolera. Panas dingin, muntah, dan sejenisnya. Yang akhirnya mengantarkan pada ajalnya.

Dari scene ini kita belajar bahwa, perang ataupun bekerja tidak harus keras-nya saja. Tapi harus cerdas. Ditambah ikhlas dan tuntas. Dikisahkan memang sang Sultan tidak terjun ke medan peperangan, namun mengutus para wakilnya. Sultan fokus menjaga mataran.

Perang ini memang memakan korban jiwa yang tidak sedikit, diawali dengan beberapa kekalahan. Tapi setidaknya, Mataram telah menunjukkan taringnya, menunjukkan komitmennya bahwa mereka tidak mau menjadi kacung dari VOS. Kata sang Sultan, “Perang ini bukan untuk hari ini, tapi untuk ratusan tahun ke depan”. Sebuah kalimat yang luar biasa, ia berfikir jauh ke depan, bagaimana membangun mental bangsanya dan meninggalkan catatan sebagai seorang ksatria.

Ketiga, pentingnya telik sandi atau orang dalam

Wafatnya Coen, Gubernur VOC juga didukung dengan salah satu wanita budak yang bertugas melayani keluarga istana. Ia mencampur obat Coen dengan racun. Semakin mempercepat Coen dalam menjemput ajal, karena memang ketika itu ia sedang terserang kolera, akibat taktik Tumenggung Bahureksa itu.

Juga sebaliknya, ketika Sultan Agung memiliki taktik membangun lumbung-lumbung padi sepanjang pantai utara harus bocor ke telinga VOC. Akibatnya, semua lumbung diluluhlantahkan tanpa sisa. Padahal lumbung itu rencananya untuk stok makanan para pasukan yang siap bergeriyla berbulan-bulan. Ini juga ulah teliksandi dari VOC yang juga orang Mataram yang berkhianat kepada sang Sultan.

Keempat, perbedaan adab kedatangan bangsa Belanda dan bangsa Turki

Melalui film ini jelas, jelas sekali, perbedaan kedatangan kaum penjajah, VOC, dari Belanda yang datang dengan senapan, pistol, dan ancaman. Sebagian datang dengan emas karena untuk membujuk rayu para raja agar mau diperbudak.

Hal ini sangat berbeda jauh ketika Kesultanan Turki Utsmani, salah satu kesultanan Islam terbesar pada masanya, datang ke tanah jawa. Dengan ramah datang, dengan ramah pula disambut raja. Hingga sang Sultan diberikan anugerah sebagai Khalifatullah, atau Sultan Abdullah Muhammad Maulana Mataram. Gelar ini semakin melengkapi sederet gelar Sang Sultan, seperti Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma, Prabu Pandita Hanyakrakusuma, ataupun Sultan Agung Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman.

Menariknya dulu Islam datang menawarkan agama, tanpa merusak ranah budaya. Buktinya, sang Sultan dan rakyatnya perlahan masuk dan memperlajari Islam, dan justru kebudayaan juga semakin dihidupkan.

Kelima, aktualisasi diri menjadi titik tertinggi kebutuhan seseorang

Setelah menang melawan VOC, sultan kembali menghidupkan padepokannya yang sudah mati. Karena gurunya, Ki Jejer telah tiada dan santri pun sudah banyak yang gugur di medan perang. Ia dibantu beberapa warga mendirikan ulang pesantren dan sesekali sang Sultan yang mengajar sendiri. Pesantren ini bukan pesantren biasa, tidak hanya mengajar agama, tapi juga menanamkan nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal. Mengajari santri bermain wayang, mengajari tembang-tembang jawa, gending-gending peninggalan Sunan Bonang, juga mengajari seni tari jawa dan seni beladiri.

Dari sini kita ambil pelajaran bahwa, setingi-tinggi kedudukan manusia pasti dia akan mendapati masa-masa ketika senja. Dan pada masa ini, biasanya seseorang ingin sekali membagikan keilmuannya dan menyiapkan generasi berikutnya. Salah satunya melalui Pendidikan dan kebudayaan.

Ini sesuai dengan teori kebutuhan Maslow. Bahwa kebutuhan tertinggi manusia adalah aktualisasi diri. Sang Sultan melakukan itu sehingga bisa menyiapkan generasi yang juga hebat meskipun tidak sehebat dan sebesar namanya.

Ini juga dilakukan oleh Sultan Hamengkubuwana IX, pada usia tuanya, ia fokus di Pendidikan, kebudayaan, termasuk kepanduan atau kepramukaan. Sehingga dikenang dengan salah satu Bapak Pandu Indonesia. Begitupun tokoh lainnya, missal Pak SBY, pak Habibie, dan lain-lain. Pak Karno dan Pak Harto juga ingin melakukan itu, tapi keterbatasan yang ia hadapi, hukuman yang harus dijalani. Semoga kita bisa ambil pelajarannya.

Sultan Agung memang sosok yang sangat luar biasa. Benar-benar seorang Ksatria yang berhati Brahmana. Indonesia sangat membutuhkan itu, dan saya fikir setiap Lembaga membutuhkan itu. Pemimpin yang hebat, kuat, perkasa, tanggung. Tapi juga punya hati ikhlas, dekat dengan agama, ataupun setidaknya dekat dengan para pemuka agama.


One thought on “Lima Nilai Agung dari Film Sultan Agung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s