Bertemu di Tahun Baru

Ustadz Abdul Somad atau UAS adalah salah satu pendakwah fenomenal saat ini. Ustadz sejuta viewer. Ustadz yang apa-apa viral. Mudah masuk list top trending Youtube. Ustadz yang banyak jadi perbincangan. Ustadz yang digemari dari anak-anak hingga orang lanjut usia. Bahkan dalam sebuah video, Kucing pun khusyuk menyimak saat mendengarkan ceramah.

Ustadz ini juga termasuk dalam Tokoh Perubahan versi Republika. Yang hanya untuk segelintir orang saja itu. Yang menjadi salah satu ajang penghargaan bergengsi itu. Hanya dalam waktu kurang dari 1,5 tahun, nama Ustadz asal Pekanbaru ini langsung melejit, meroket, ke seantero negeri bahkan negara tetangga. Perpaduan antara kapabilitas dan konektivitas zaman now, media sosial.

Masalah Republika, saya ingat betul. Perjalanannya hamper mirip dengan Presiden Jowoki. Hampir mirip dalam hal kecepatan alias kemeroketan namanya. Pertengahan 2010, saya membaca Mading sekolah, ada sepuluh tokoh perubahan, yang saya ingat salah satunya, Pak Jokowi dan Ustadz Garamathan, yang dikenal sebagai Ustadz “Sabun” itu. Ustadz yang berjuang di tanah Papua sana.

Kembali bahas Ustadz Abdul Somad alias Ustadz Somad alias UAS itu. Tanggal 9 – 10 September 2018 ini dijadwalkan mengisi dan hadir di beberapa agenda penting di Pontianak, Kalimantan Barat. Setahu saya, setidaknya ada empat agenda besar. Pertama, Subuh Akbar di Pondok Pesantren Darun Na’im Ampera; Kedua Ziarah Agung ke Makam Sultan Syarif Abdurrahman Al-Kadrie, Pendiri dan Sultan Pertama Kesultanan Kadriyah, sekaligus dinobatkan sebagai pendiri Kota Pontianak; kemudian Tausyiah dan Doa Bersama di Pesantren Habib Alhadad di Ambawang; dan berakhir di acara Tabligh dan Haul Akbar Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri di halaman keraton.

Kedatanganya ke Bumi Khatulistiwa bukan yang pertama. Ini kali kedua. Saya tak berkesempatan ikut untuk yang pertama tahun lalu. Dan kali ini saya berusaha hadir di salah satu agenda beliau itu.

Sehari sebelumnya, saya melihat postingan IG Bupati Sintang, Pak Jarot Winarno. Ber-wefie ria Bersama UAS, Sultan Mahmud, Gubernur Baru Pak Sutarmidji, juga Rektor Untan Prof. Thamrin. Tiba-tiba saja ingin juga berfoto seperti itu. tapi siapa saya? Apa kapasitas saya? Bagaimana caranya? Malam itu juga pertanyaan muncul. Saya sadar betul, kalau dengan cara konvensional, jelas saja tidak akan bisa dapat meraih cita-cita mulia itu. harus ada terobosan.

Saya ingat ada mas Ilham, kawan saya. Alumni UIN Surabaya. Punya keahlian pijat. Dari mahasiswa S1 dulu menjadi tukang pijit panggilan. Itu dimanfaatkan dengan baik sebagai terobosan untuk dekat dengan orang yang diinginkan. Ketika ada buka Bersama dengan Pak Dahlan Iskan di kediamannya. Sontak dia menawarkan jasa pijat gratis jika Pak Dahlan berkenan. Rupanya triknya manjur. Dia bisa dekat tidak hanya hitungan menit selama memijat. Tapi hari ini dianggap sebagai anak angkat pak Dahlan. Trik yang sama juga dilakukan pada orang-orang besar lainnya.

Sambil menanti tidur, mulai berfikir cara apa ya yang bisa menyebabkan dekat dengan beliau. Biasanya orang minta tanda tangan dengan membawa buku karya sang Penulis. Tapi itu masih cara biasa. Pasti banyak sekali yang mau mendekat dan berfoto. Apa ya kira-kira?.

Sontak saya kefikiran. Pada pertengahan tahun lalu. Sebelum UAS benar-benar booming. Saya pernah menulis dan merilis profilnya di pencarian bebas Wikipedia. Awal 2017 saya dikenalkan sosok UAS oleh Haji Lutfi, kawan satu kantor. Pada saat itu pula saya berfikir harus merilis profilnya. Ada prediksi Ustadz ini akan menjadi orang ternama.

Siang hari saya cetak screenshot Wikipedia profil beliau. Saya siapkan pulpen. Bergegas berangkat ke pengajiannya di sore hari.

Hari begitu mendung, gelap. Sekitar jam 4.15 sore saya berangkat. Setelah 30 menitan sampai di tujuan. Lokasinya agak jauh dari kota Pontianak. Sekitar 8 km dari kota. Dan pada jam pulang kerja, ruas jalan yang saya lewati sedikit macet. Lokasinya di Pondok Pesantren Habib Alhadad. Di daerah Ambawang, Kabupaten Kuburaya. Tepat bersanding tembok dengan Area Terminal Antar Lintas Batas Negara (ALBN).

Rupanya saya sudah terlambat. Ribuan jamaah sudah berjejal. Tapi nampaknya jumlahnya lebih sedikit kalau dibandingkan dengan jumlah di lokasi lain. Saya hanya mengira-ngira. Melihat dari sosial media yang bertebaran. Area masjid tempat tausyiah memang tidak begitu luas. Selebihnya di luar masjid. Di lapangan. Di teras-teras asrama santri. Hanya jamaah putra yang bisa mendekat. Jamaah putri sedikit jauh, santri putri lebih jauh lagi lokasinya dari panggung acara.

Saya tatap awan begitu gelap. Prediksi saya dalam beberapa menit ke depan hujan akan mengguyur. Saya ambil air wudhu. Lalu merapat ke baris paling belakang di dalam bangunan masjid. Sedikit lebih dekat dengan panggung sang ustadz. Hari hujan. Lebat. Breess. Sesuai prediksi dan alhamdulilah saya diselamatkan. Jamaah di luar buyar. Mencari tempat yang aman. Kebanyakan masuk ke area asrama ataupun kelas-kelas.

Waktu maghrib tiba. Sebagian besar jamaah bersiap ambil wudhu. Sementara saya sudah siap. “Pucuk dicinta, ulam pun tiba”. Dalam hati saya. Dengan lebih leluasa saya bisa maju. Sangat maju, mungkin di deretan kelima. Sebuah pencapaian. Sholat maghrin didirikan. Diimami sang Ustadz. Saya berusaha menikmati, meski dalam keadaan sedikit berdesakan.

Tidak selesai di situ. Ternyata ada agenda doa Bersama. Menyambut awal tahun. Lagi-lagi Sang Ustadz yang memimpin. Dalam hati saya, “Gak rugi saya datang”. Karena cukup komplit, mulai tausyiah, sholat Bersama, hingga doa awal tahun Bersama.

Agenda selesai, ustadz dan rombongan menuju area ramah tamah. Terlihat ada perwakilan dari Keraton Kadriyah, Pimpinan Pesantren, juga Kapolda pun hadir. Saya menemui sahabat saya, salah satu keturunan Keraton juga. Bang Anis, namanya.

Pada saat itu, saya mendekat ke ruang ramah tamah. Puluhan jamaah mengantri ingin bertemu sang Ustadz. Fikir saya, nampaknya susah kalau mau bertemu, apalagi mau berfoto. Saya sampaikan maksud ke salah satu panitia. Alhamdulillah disambut baik. Saya dikenalkan dengan tim sang Ustadz.

Dari ring dua, saya bergerak ke ring satu. Dipersilahkan menunggu di ruang tamu. Yang isinya sekitar 30-an orang. Sebagian besar keluarga besar pesantren dan keraton. Saya menjadi orang asing. Semuanya di ring satu juga berharap yang sama ternyata.

Setelah sekitar 40 menit menunggu. Karena sang Ustadz sedang beristirahat sejenak di kamar. Tim Tafaqquh, tim dari Pekanbaru itu, memanggil saya. “Nanti antum kami ajak menemui beliau langsung di kamar”, katanya. Waduh, nanti tolong kawani ya. saya pun jawab demikian.

Saya pun diajak masuk ke kamar UAS. 30-an jamaah tertuju pada kami. Mungkin dalam fikiran mereka, “siapa dia, kog bisa diajak masuk?”, mungkin begitu hehe. Saya masuk ke kamar UAS Bersama dengan dua tim Tafaqquh dan satu Pimpinan Pesantren. Jadi, di dalam kamar itu ada 5 orang saja.

Saya atur nafas. Biasanya hanya lihat di layar, kini langsung, dan bisa dalam satu kamar. Saya sampaikan salam, cium tangan beliau yang masih berada di atas kasurnya. Saya berencana duduk di bawah, tapi diarahkan untuk duduk di sebelahnya.

Saya mulai dengan menyampaikan maksud, sambil membawa kertas “jimat” tadi. Saya sampaikan awal mengetahui sosok Ustadz. Beliau hanya menyimak. Saya menjelaskan sambil menatap wajahnya. Saya berusaha menikmati melihat dan bercakap-cakap tanpa jarak. Di atas kasurpun kami hanya berdua. Setelah saya ingat, rasanya kurang hormat. Apalagi Habib, Pimpinan Pesantren itu berdiri ikut menyaksikan.

Beliaupun menandatangani kertas yang saya bawa. Sebelum beranjak saya ijin dengan lirih, “Ustadz, afwan, boleh ber-selfie?”. “Bolehlah sini, sebentar” jawabnya, sambil membenahi posisi songkok yang belum lama digunakan itu. Cekrak, cekrek. Setelah foto, saya sempat mengecek kualitas jempretan dari Tim ataupun hasil selfie. Sang ustadz melihat sejenak dan saya sampaikan ucapan terima kasih sekaligus doa.

Semua selesai, saya kembali cium tangannya. Keluar dari kamar Bersama beliau. Ternyata di depan pintu pun jamaah ramai menunggu dan berdesakan. Gumam saya, “posisi jalannya sama, tapi beliau yang direbutin orang, saya mah tidak ada apa-apanya”. Pada titik ini saya sangat bersyukur, ada ribuan, atau ratusan, atau paling gak puluhan orang yang antri rela menunggu ingin bertemu. Malam itu, hanya saya seorang yang bisa masuk ke kamar beliau, berfoto “sepuasnya”, berdialog dalam waktu sekitar 5 menit. Semua atas izin Allah.

Saya masih meyakini akan kembali bertemu sang Ustadz di lain waktu, di lain kapasitas. Sebuah anugerah, bisa mengakhiri dan mengawali tahun baru 1440 Hijriyah bersama Ustadz Abdul Somad. Alhamdulillah. Ady Setiawan

Ustadz Abdul Somad menandatangani profilnya yang dirilis di laman Wikipedia
Berfoto bersama Ustadz Abdul Somad
Suasana saat pengajian UAS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s