Maestro Mangkat

Ternyata saya salah, lagu “Ojo Mudik” bukan lagu terakhir yang diciptakan Didi Kempot.
Lebih tepatnya, itu lagu terakhir yang rampung garapan hingga tahap akhir.
Masih ada lagu lain, “Kapusan Janji” yang artinya kurang lebih, Terbohongi oleh Janji. (Lagu Kapusan Janji)
Ia berduet dengan Yuni Shara. Kabarnya proses rekaman selesai satu hari sebelum Sang Maestro Wafat.
Ada juga lagu, Tombo Teko, Loro Lungo. Kurang lebih artinya, Obat Datang, Penyakit Hilang. (Lagu Tombo Teko, Loro Lungo)
Salah satu lagu terakhir dari sang Legend. Saya dapatkan video latihan rekamannya. Sebuah lagu tentang keadaan krisis kesehatan bangsa. Lagi-lagi karena korona.
Di dalamnya terselip doa, agar negeri pulih segera.
Lagu belum rampung, namun ternyata ajal telah datang. Ia tak sempat menyaksikan hasil akhir karyanya itu. Takdir telah tiba.

Didi Kempot memang fenomenal. Unik. Legendaris.
Sepengatuan terbatas saya, belum dan tidak ada model penyanyi, khususnya penyanyi Jawa seperti ia.
Setidaknya 700 lagu lebih ia ciptakan. Ia pula yang menyanyikan. Sulit dihitung pasti berapa banyak yang enak didengarkan. Hampir semua.
Unik, karena tidak banyak penyanyi dan pencipta berperan secara bersamaan. Unik, karena lagu yang berbahasa Jawa itu bisa diterima lintas bahasa. Bahkan cukup banyak yang tidak faham maknanya, tapi bisa menikmati lagunya.
Didi Kempot, contoh pribadi yang konsisten. Dimulai dari nol, bahkan mungkin minus. Tapi berhasil sampai di titik puncak.
Berangkat dari seorang pengamen jalanan. Kelompok pengamen trotoar. Hingga penyanyi ternama lintas panggung lintas negara.
Jika namanya melambung akhir-akhir ini karena dianggap mewakili suara patah hati. Hati yang Ambyar.
Maka saya lebih terkesan jauh sebelum itu. Terkesan karena lagunya yang identik dengan nama tempat. Mulai Stasiun Balapan hingga Perawan Kalimantan.
Rasanya bangga, jika berkunjung ke suatu tempat dan tempat itu ada lagu ciptaan Didi Kempot.
Kebetulan sejak SMA sering melewati tempat-tempat yang dilagukan itu. Sebut saja Terminal Tirtonadi, Tanjung Mas, Telaga Sarangan, ataupun Terminal Kertonegoro Ngawi.
Sejak awal 2000-an. Setiap kali pulang kampung alias mudik ke Jawa, dari tanah rantau Sulawesi. Dua kaset yang selalu dicari, salah satunya kaset atau CD Didi Kempot.
Nyaris setiap hari, irama Campursari Didi Kempot-lah yang menemani. Sekaligus menjadi media latihan saya. Putra Jawa agar gak hilang Jawa-nya. Setidaknya diukur dari pemahaman bahasa Jawa.
Tidak jarang bertanya ke Ibu atau Bapak, lirik yang tak dimengerti maknanya. Lumayan, kemampuan bahasa Jawa bisa terasah.
Hari ini berita duka datang. Begitu menghentak. Dadakan. Sang Maestro telah berpulang.
Banyak kenangan, banyak pula pelajaran ditinggalkan.
Hari ini belum ada Didi Kempot yang serupa. Entah kapan akan ada lagi Didi Kempot yang baru.
Saya usul, sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi Didi Kempot. Setiap tanggal 5 Mei (5/5) diperingati sebagai Hari Musik Campursari.
Agar nama harumnya tetap dikenang abadi.
Agar musik budaya Jawa tetap lestari.
Sugeng Tindak, Sang Maestro, Sang Legend, The God Father of Broken Heart. Didi Kempot. 🙏

Singkawang, 5 Mei 2020


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s